
Mobil yang membawa Kimberly sudah sampai di depan perusahaan FTR'Corp. Setelah mobil memasuki perkarangan perusahaan. Kimberly langsung keluar dari dalam mobil.
"Nona langsung saja ke ruangan tuan. Saya akan memarkirkan mobil dulu."
"Baiklah. Paman, jangan lupa bawakan belanjaanku tadi ya."
"Baik, nona!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung melangkah memasuki perusahaan milik ayahnya.
Ketika Kimberly sudah berada di dalam, semua mata menatap kearah dirinya. Mulai menatap dengan kagum sampai menatap dengan tatapan tak suka.
Sementara Kimberly yang ditatap oleh semua karyawan ayahnya hanya bersikap acuh dan tetap terus melangkah untuk menemui ayahnya.
"Hei, nona! Tunggu!" panggil seorang karyawan wanita.
Karyawan wanita itu berjalan menghampiri Kimberly bersama empat karyawan wanita lainnya. Mereka menatap jijik kearah Kimberly.
"Iya. Ada apa ya?" tanya Kimberly.
"Nona mau kemana?"
"Kenapa nona main nyelonong saja?"
"Perusahaan ini punya aturannya nona. Nona itu tamu, jadi harus melapor dulu lalu buat janji."
"Tidak seperti saat ini yang langsung masuk."
"Apa nona tidak diajarkan caranya bertamu sama kedua orang tua nona?"
Mendengar ucapan demi ucapan dari lima karyawan wanita yang ada di hadapannya membuat Kimberly tersenyum.
"Pertama, saya minta maaf karena tidak minta izin terlebih dahulu. Kedua, saya rasa itu tidak perlu karena saya sudah mendapatkannya. Ketiga, kedua orang tua saya selalu mendidik anak-anaknya dalam hal yang benar. Salah satunya adalah bagaimana cara bersikap dan berbicara dengan orang yang lebih tua dari kita. Dan yang keempat, kedatangan saya kesini ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini yang tak lain adalah ayahku sendiri."
Seketika Kimberly memberikan senyuman termanisnya di hadapan kelima karyawan wanita itu. Dirinya tidak peduli apa tanggapan selanjutnya dari kelima karyawan wanita itu terhadap dirinya.
Sedangkan kelima karyawan wanita itu seketika membelalakkan matanya ketika mendengar perkataan terakhir gadis yang ada di hadapannya ketika mengatakan bahwa dirinya ingin bertemu dengan pemilik perusahaan ini yang tak lain adalah ayahnya.
Bukan hanya kelima karyawan wanita itu saja yang terkejut. Bahkan semua karyawan yang mendengar perkataan dari Kimberly juga ikut terkejut.
Kelima karyawan wanita itu saling memberikan tatapan satu sama lainnya. Setelah itu, kelimanya kembali menatap kearah Kimberly.
Dan detik kemudian...
"Hahahaha!"
Kelima karyawan wanita itu tertawa keras ketika mendengar ucapan terakhir Kimberly. Kelimanya tidak percaya begitu saja akan perkataan dari Kimberly.
"Nona-nona! Jika nona ingin main sinetron. Jangan disini. Pergi cari tempat lain. Ini perusahaan tempat orang bekerja."
"Lagian siapa juga yang akan percaya jika nona adalah putri pemilik perusahaan ini... Hahahaha!"
"Dilihat dari penampilan dan pakaian nona saja tidak mencerminkan sebagai putri dari pemilik perusahaan ini."
"Jangan berhayal terlalu tinggi nona."
Kelima karyawan wanita itu menatap jijik Kimberly. Begitu juga dengan beberapa karyawan yang sejak tadi menjadi penonton.
[Benar-benar menjijikkan]
Itulah kata-kata yang keluar dari mulut beberapa karyawan. Sementara selebihnya memilih diam. Mereka tidak ingin mendapatkan masalah jika mereka ikut membully Kimberly.
"Lebih baik nona pergi dari sini. Kehadiran nona bisa mengganggu karyawan lainnya."
Kimberly tersenyum mendengar perkataan dari salah satu karyawan wanita itu. Kemudian Kimberly merogoh ponselnya yang ada di saku Almamater nya.
Setelah ponselnya ada di tangannya. Kimberly mengetik nomor ponsel ayahnya yang memang sudah hafal diluar kepalanya.
CALL DAD..
"Hallo, sayang. Kamu sudah dimana?"
"Hallo, Dad! Aku sudah di bawah."
"Kenapa tidak langsung ke ruangan Daddy?"
"Bagaimana bisa aku langsung menuju ruangan Daddy. Sementara aku ditahan sama lima karyawan wanita Daddy."
"Apa? Brengsek! Baiklah, Daddy turun sekarang!"
Pip...
Kimberly langsung mematikan panggilannya dengan tatapan matanya menatap tajam kelima karyawan wanita itu.
"Kenapa melihat kami seperti itu, hah?!" bentak salah satu karyawan wanita kepada Kimberly.
"Tidak. Aku hanya tengah memikirkan nasib kalian yang sebentar lagi mengetahui status asliku," jawab Kimberly.
Beberapa detik kemudian...
Mendengar namanya dipanggil. Kimberly langsung melihat kearah orang tersebut. Seketika terukir senyuman manis di bibirnya. Begitu juga dengan lima karyawan wanita itu dan beberapa karyawan lain. Semuanya melihat kearah dimana seorang pria paruh baya menghampiri gadis SMA.
"Bos Fathir!" ucap mereka semua.
"Kenapa tidak langsung naik ke atas?" tanya Fathir kepada putrinya.
Semua karyawannya menatap Fathir bingung. Mereka tidak tahu ada hubungan apa antara Bos nya dan gadis SMA tersebut.
Mendengar pertanyaan dari ayahnya seketika Kimberly memasang wajah sedihnya.
"Mereka semua menahanku disini. Mereka tidak mengizinkan aku untuk bertemu dengan Daddy."
Deg...
"Apa? Da-daddy? Ja-jadi, gadis ini putri Bos Fathir?" batin kelima karyawan wanita itu.
"Jadi gadis itu putrinya Bos Fathir," batin beberapa karyawan.
Mereka semua sekarang sudah ketakutan ketika mengetahui fakta bahwa gadis yang mereka remehkan dan mereka rendahkan ternyata putri dari pemilik perusahaan.
"Bahkan mereka mengatakan bahwa Mom dan Dad tidak pernah mengajarkan aku tentang sopan santun jika bertamu. Mereka juga mengatakan bahwa aku ini gadis yang jahat dan kasar," ucap Kimberly dengan memperlihatkan wajah sesedih mungkin.
"Aku... Aku sudah mengatakan kepada mereka bahwa aku putri Daddy. Tapi mereka tetap tidak percaya. Daddy tahu tidak apa yang mereka lakukan padaku?"
"Apa? Katakan! Apa yang mereka lakukan padamu?" tanya Fathir yang sudah dipuncak kemarahannya ketika mendengar aduan dari putrinya.
"Mereka tadi menarik-narik tanganku dengan kuat. Dan untungnya aku berhasil menarik tanganku. Tapi mereka marah dan tidak terima ketika aku melawan. Lalu salah satu dari mereka menarik rambutku. Ini saja kepalaku masih sakit."
Kimberly berusaha untuk membuat air matanya mengalir membasahi wajah dengan ekspresi wajah sedihnya. Dan itu membuahkan hasil.
Kemarahan Fathir bertambah ketika melihat putrinya menangis ketika menceritakan perlakuan buruk karyawan-karyawannya.
Sementara kelima karyawan wanita itu seketika sudah ketakutan. Tubuh mereka sedikit bergetar.
"Bos, itu... Itu tidak benar. Kami tidak melakukan apa-apa kepada putrinya Bos."
"Iya, Bos! Kami tidak melakukan apa yang dikatakan oleh putri Bos."
"Jadi kalian menuduh putriku berbohong, hah!" bentak Fathir dengan kerasnya.
Mendengar teriakkan dan bentakan dari Bos nya membuat kelima karyawan wanita itu dan beberapa karyawan lain seketika terkejut.
"Aku lebih percaya dengan apa yang dikatakan oleh putriku. Selama ini sudah terlalu banyak orang-orang diluar sana yang selalu mengusik putriku, mengganggu putriku, menghina putriku dan juga merendahkan putriku!"
"Aku selama ini hanya diam dan berusaha sabar. Bahkan tidak pernah menunjukkan siapa aku yang sebenarnya setiap melihat putriku disakiti. Hanya keempat putraku yang selalu turun tangan untuk membalas orang-orang yang telah menyakiti putriku!"
Mendengar perkataan dan teriakan dari sang Bos membuat semua karyawan tertunduk takut. Mereka tidak berani menatap wajah Bos nya. Tak terkecuali lima karyawan wanita itu.
Fathir melihat kearah putrinya. Lalu tangannya mengusap lembut air mata putrinya itu.
"Apa lagi yang diperbuat oleh karyawan-karyawan Daddy padamu?"
"Mereka... hiks... merendahkanku dengan cara menghina Daddy dan Mommy."
"Tidak, Bos! Itu tidak benar!"
Kelima karyawan wanita itu langsung menggelengkan kepalanya sembari berucap.
Grep...
Fathir seketika memeluk tubuh putrinya. Hatinya sakit melihat putrinya yang lagi-lagi disakiti.
Fathir menatap penuh amarah kearah lima karyawan wanita yang ada di hadapannya. Sesekali Fathir juga menatap kearah dimana semua karyawannya berada.
"Kalian benar-benar keterlaluan. Bisa-bisanya kalian melakukan hal menjijikkan itu kepada putriku!" bentak Fathir.
Fathir melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik putrinya itu.
"Sekarang pergilah ke ruangan Daddy. Tunggu Daddy disana," perintah Fathir sembari tangannya mengusap lembut kepala putrinya.
"Hm!"
Setelah itu, Kimberly berlahan berjalan menuju ruang kerja ayahnya. Sedangkan Fathir kembali menatap semua karyawannya, terutama lima karyawan wanita yang ada di hadapannya.
Tanpa diketahui oleh Fathir. Kimberly menghentikan langkahnya dan langsung membalikkan badannya.
Kimberly dengan tatapan matanya menatap kelima karyawan wanita itu. Dan tak disangka-sangka, Kimberly mengarahkan jari tengahnya kearah kelima karyawan wanita itu sembari tersenyum iblis.
Melihat apa yang dilakukan oleh Kimberly membuat semua karyawan merinding. Mereka semua saat ini benar-benar ketakutan. Begitu juga dengan kelima karyawan wanita itu.
Kimberly melirik sekilas kearah karyawan-karyawati yang lainnya dengan senyuman yang menurut mereka semua sangat menyeramkan.
Melihat itu, sontak membuat semua karyawan tersebut menundukkan kepalanya. Mereka tidak berani menatap wajah Kimberly.
Setelah itu, Kimberly benar-benar pergi untuk menuju ruang kerja ayahnya.