
Bruk..
Molly dan Sheela tersungkur di lapangan sehingga membuat kedua lututnya terluka dan berdarah.
Melihat apa yang dilakukan oleh Billy dan Aryan terhadap Molly dan Sheela terkejut. Mereka penasaran apa yang membuat seorang Billy dan Aryan begitu marah terhadap kedua murid baru itu.
Semua murid-murid telah berkumpul dan mengerubungi lapangan untuk melihat kejadian itu.
Molly dan Sheela berusaha untuk berdiri walau lututnya terasa sakit dan perih.
"Apaan sih kalian berdua!" bentak Molly.
"Kalian udah gila ya?!" bentak Sheela.
"Kalau kita berdua gila. Kalian berdua sudah tidak ada lagi di dunia ini," sahut Billy dengan menatap nyalang Molly dan Sheela.
Mendengar perkataan yang begitu mengerikan membuat Molly dan Sheela terkejut dan juga syok.
"Memangnya apa salah kita. Kenapa kalian bersikap seperti pada kita berdua?!" tanya Molly yang menatap Billy dan Aryan dengan tatapan menantang.
Billy menatap kearah Triny dan Aryan secara bergantian, kemudian ketiganya tersenyum di sudut bibirnya.
Setelah itu, ketiganya menatap Molly dan Sheela dengan tatapan tajam masing-masing.
Billy mengeluarkan ponselnya lalu membuka aplikasi Galeri di ponselnya itu. Setelah itu, Billy memilih satu video yang dikirim oleh Kimberly padanya.
"Ini kalian lihatlah sendiri biar kalian tahu letak kesalahan kalian itu apa," sahut Billy sembari memperlihatkan layar ponselnya di hadapan Molly dan Sheela.
Molly dan Sheela langsung melihat kearah layar ponsel milik Billy. Dan seketika mereka berdua terkejut ketika melihat video mereka sendiri.
Melihat keterkejutan Molly dan Sheela membuat Billy, Triny dan Aryan tersenyum. Lebih tepatnya senyuman menyeringai.
"Sekarang sudah tahu kan kesalahan kalian apa?" tanya Triny terkesan menyindir.
"Dikarenakan kalian sudah mengacak-acak ruang OSIS. Maka terimalah hukuman dari kami," sahut Aryan.
"Apa?!"
Semua yang berkumpul di lapangan sekolah terkejut ketika mendengar ucapan dari Aryan. Begitu juga dengan Tommy, Andhika serta yang lainnya. Sekarang mereka sudah mengerti apa yang menyebabkan Billy, Triny dan Aryan begitu marah terhadap Molly dan Sheela.
"Kalian!" seru Billy menunjuk kearah beberapa anggota OSIS nya.
"Bawa kedua manusia busuk ini ke ruang OSIS. Suruh mereka membersihkan ruang OSIS seperti semula. Jika mereka tidak mau, seret mereka ke gudang dan kurung disana!"
"Siap Bos!" seru para anggota OSIS.
Setelah itu, empat anggota OSIS yang laki-laki menarik paksa Molly dan Sheela menuju ruang OSIS.
"Tidak! Lepaskan!" teriak Molly dan Sheela sembari terus memberontak ketika dibawa ke ruang OSIS.
"Tommy!"
"Andhika!
Mendengar teriakkan Molly dan Sheela yang memanggil nama Tommy dan Andhika membuat para murid-murid menatap jijik keduanya.
Sementara Tommy dan Andhika hanya acuh dan tidak peduli sama sekali.
"Pake manggil-manggil segala. Emang situ siapa?" ucap Tommy menatap jijik Molly.
"Kenal tidak. Pacar juga bukan. Sok akrab lu," sahut Andhika.
Setelah mengatakan itu, Tommy dan Andhika pergi meninggalkan lapangan sekolah untuk menuju kantin.
Melihat kepergian Tommy dan Andhika, para sahabatnya pun mengekor di belakang termasuk Billy.
Sementara Triny dan Aryan kembali ke kelas masing-masing. Keduanya ingin mengerjakan tugas-tugas mereka. Baik tugas-tugas OSIS maupun tugas-tugas sekolah.
***
Di kediaman Fidelyo terlihat beberapa orang sedang berkumpul di ruang tengah. Mereka adalah Nirvan, Liana, Zivan dan Ricky.
"Kak," panggil Ricky.
"Iya, Ricky. Kenapa?"
"Wanita sialan itu berulah lagi," jawab Ricky.
"Siapa?"
"Siapa lagi kalau bukan mantan kakak itu."
"Kalina."
"Memangnya ada berapa mantan kakak?"
Bukannya jawaban yang didapatkan oleh Zivan. Justru pertanyaan yang diberikan oleh adiknya. Dan jangan lupa wajah yang super tak mengenakkan.
Zivan tersenyum melihat wajah tak mengenakkan adiknya. Begitu juga dengan Nirvan dan Liana.
"Apalagi yang sudah dia lakukan?" tanya Zivan.
"Dia mengusik Ashilla," jawab Ricky langsung pada pokok permasalahannya.
Mendengar jawaban dari adiknya itu seketika membuat Zivan terkejut sekaligus marah. Termasuk Nirvan dan Liana.
"Mama tidak habis pikir dengan cara pikir Kalina. Mau dia apa sih? Dulu dia nyia-nyiakan kamu. Disaat kamu sudah bahagia sama orang lain, dia malah mengusik gadis itu." Liana berucap dengan wajah yang benar-benar marah akan kelakuan Kalina.
"Dia ingin memfitnah Ashilla dengan tuduhan telah mencuri di toko pakaian Selina. Dan parahnya, dia memasukkan dompetnya ke dalam tas belanja milik Ashilla."
"Apa?!"
Nirvan, Liana dan Zivan terkejut dengan jawaban dari Ricky.
"Terus apa yang terjadi, nak?" tanya Nirvan.
"Kebetulan aku ada disana dan berhasil menggagalkan niat Kalina untuk mempermalukan Ashilla di depan para pengunjung toko," jawab Ricky.
"Dan sebaliknya. Aku balik mempermalukan dia di depan para pengunjung dengan mengungkap perselingkuhan dia dengan laki-laki lain ketika berhubungan asmara dengan kak Zivan."
"Kamu sudah melakukan hal yang benar," sahut Nirvan.
"Sekarang giliran kakak. Kakak harus bertindak sekarang. Jika kakak hanya berdiam saja seperti ini, maka aku yang akan bergerak!" Ricky berbicara sembari menatap wajah sang kakak.
"Kamu tenang saja. Setelah kamu menceritakan tentang dia yang berani mengusik Ashilla. Kali ini kakak akan benar-benar melakukan sesuatu padanya. Kakak akan buat dia tidak akan pernah melupakan atas hadiah terakhir dari kakak."
Mendengar penuturan sekaligus jawaban dari kakaknya itu. Apalagi ketika melihat wajah sang kakak membuat Ricky tersenyum puas. Ini yang diinginkan oleh Ricky. Dirinya ingin kakaknya itu tegas dan kejam terhadap orang yang sudah menyakitinya dan orang-orang terdekatnya.
"Oh iya! Ada satu masalah lagi yang akan mendatangi keluarga kita!"
Mendengar perkataan dari Ricky sontak membuat Nirvan, Liana dan Zivan terkejut. Pikirkan mereka sudah traveling kemana-mana.
"Apa sayang? Katakan!" tanya Nirvan.
"Aku mendapatkan informasi dari orang yang mengawasi Triny. Dia mengatakan bahwa ada dua siswi baru. Keduanya mengincar Tommy dan Andhika. Bahkan keduanya sudah berani memeluk Tommy dan Andhika di kantin."
"Ini bukan masalah Triny saja. Ini juga sudah termasuk masalah Kimberly juga," sahut Liana.
"Ya, kau benar sayang! Kita akan bahas masalah ini dengan kak Fathir dan kak Nashita.
***
Kimberly saat ini tengah melangkahkan kakinya menyusuri setiap koridor sekolah sembari bersenandung kecil.
Murid-murid yang berada di sekitarnya tersenyum ketika melihat wajah bahagia dan mendengar suara Kimberly.
"Selamat siang Kimberly!" sapa mereka ketika Kimberly melewati mereka.
Kimberly yang terkejut seketika berhenti lalu menatap teman-temannya yang juga tengah menatap dirinya.
"Selamat siang juga teman-teman Kimberly yang cantik dan baik hati," balas Kimberly sembari tersenyum manis.
Setelah mengatakan itu, Kimberly kembali melanjutkan langkahnya dan tak lupa melanjutkan nyanyiannya sempat terhenti.
Sementara teman-temannya tersenyum bahagia ketika mendengar ucapan balasan dari Kimberly.
Yang membuat mereka bahagia adalah ketika Kimberly menyebut mereka yang cantik dan baik hati.
^^^
Kimberly terus melangkah menyusuri luasnya sekolah dengan terus bernyanyi kecil.
Ketika Kimberly tengah bernyanyi kecil, tatapan matanya tak sengaja melihat dua murid perempuan yang sudah berani memeluk kekasih dan calon kakak iparnya yang tengah dipaksa masuk ke sebuah ruangan.
Dengan rasa penasaran, Kimberly mempercepat langkahnya untuk mendekati ruangan itu. Dirinya ingin mengetahui apa yang terjadi.
"Cepat kerjakan. Jika tidak, nyawa kalian melayang hari ini juga!"
Setelah mengatakan itu, keempat anggota OSIS yang menyeret Molly dan Sheela ke ruangan OSIS langsung pergi.
"Ooh! Ruangan OSIS. Pasti ini perintah dari Billy," batin Kimberly.
Setelah itu, Kimberly melangkah mendekati ruangan tersebut. Dirinya ingin melihat wajah babu kedua perempuan yang berusaha merebut Tommy dan Andhika.
Kini Kimberly sudah berada di depan pintu. Kebetulan pintu tersebut tidak dikunci. Jadi Kimberly bisa melihat dengan leluasa.
"Kasihan sekali nasib kalian. Orang-orang datang ke sekolah ini untuk menimba ilmu. Sementara kalian menjadi babu."
Mendengar perkataan dari seseorang membuat Molly dan Sheela yang sedang merapikan kertas-kertas yang berserakan di lantai seketika langsung melihat keasal suara. Dan dapat mereka lihat murid perempuan yang beradu mulut dengannya ketika di kantin tadi pagi sebelum pergi ke belakang sekolah.
"Mau apa lo?!" bentak Sheela.
"Kita nggak ada waktu buat ribut sama lo!" bentak Molly.
"Tenanglah. Gue datang kesini juga bukan buat cari ribut kok," jawab Kimberly.
"Terus lo ngapain kemari?!"
"Gue tadi nggak sengaja lewat. Lihat pintunya terbuka. Gue pikir ada maling yang masuk ke ruangan OSIS. Ternyata....."
Kimberly sengaja menghentikan perkataannya agar Molly dan Sheela penasaran akan kelanjutannya.
"Ternyata apa?" tanya Molly dan Sheela bersamaan.
Kimberly tersenyum ketika mendengar pertanyaan dari Molly dan Sheela. Apalagi keduanya bertanya secara bersamaan.
"Eemmm... Ternyata di ruangan OSIS ada dua nenek lampir yang sedang berlatih menambah kekuatannya dengan menjadi babu.. Hahahahaha."
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung ngacir meninggalkan ruangan OSIS.
Sementara Molly dan Sheela mengepalkan kuat kedua tangannya ketika mendengar ucapan tak mengenakkan dari Kimberly.