THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kekhawatiran Kimberly, Rere, Sinthia Dan Catherine Terhadap Santy



Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine sudah selesai menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh guru bahasa Inggris dan guru matematika, namun Santy sampai detik belum kembali sehingga membuat mereka mengkhawatirkan Santy.


"Kok Santy belum kembali juga?" tanya Rere.


"Ini udah lima belas menit loh Santy izin ke toiletnya. Nggak biasanya Santy lama di toilet," ucap dan tanya Sinthia.


Kimberly melihat jam yang melingkar di tangan kirinya. Dan benar, Santy pergi sudah lama. Hatinya seketika mengkhawatirkan Santy, sahabatnya itu.


"Kita susul Santy!" seru Kimberly tiba-tiba.


"Hm!" Rere, Sinthia dan Catherine berdehem dengan bersamaan dengan anggukkan kepalanya.


Ketika Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine Hendak pergi meninggalkan kelas untuk menyusul Santy di toilet, tiba-tiba masuk siswi junior alias adik kelas ke dalam kelas dengan nafas buru-buru.


"Kak Kim!"


Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine langsung melihat kesal suara. Begitu teman-teman sekelasnya. Mereka dapat melihat seorang siswi yang terlihat ngos-ngosan.


"Ya, kenapa?" tanya Kimberly.


"Itu, kak... Anu... Di..." siswi itu masih terengah-engah ketika ingin menyampaikan sesuatu kepada Kimberly.


"Hei, tenanglah! Tarik nafas pelan-pelan, lalu buang juga pelan-pelan," tuntun Catherine.


Siswi itu langsung melakukan apa yang disuruh oleh kakak kelasnya itu. Sedangkan Catherine, Kimberly serta yang lainnya tersenyum melihatnya.


"Bagaimana?" tanya Catherine.


"Sudah mendingan kak!"


"Sekarang katakan! Ada apa?" tanya Kimberly.


"Itu di lapangan kakak Santy dikeroyok sama tujuh siswi baru itu. Bahkan salah satunya memukul kakak Santy."


"Apa?!"


Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine terkejut ketika mendengar laporan dari adik kelasnya itu.


"Sekarang kakak Santy nya ada dimana?" tanya Rere.


"Masih di lapangan, kak!"


Kimberly langsung berlari menuju lapangan dan diikuti oleh Catherine, Rere dan Sinthia. Mereka benar-benar khawatir terhadap Santy dan marah terhadap ketujuh siswi baru itu.


^^^


Santy saat ini sudah tidak sadarkan diri akibat pukulan yang diberikan siswi baru itu. Jika hanya satu pukulan, Santy tidak akan tumbang. Ini justru dua pukulan, kuat lagi. Ditambah lagi perut Santy baru sembuh dari pasca operasi dua minggu lalu akibat usus buntu yang dia derita.


Santy tidak sendirian, melainkan bersama salah satu siswi yang memang menyukai Kimberly dan keempat sahabatnya. Ditambah lagi siswi itu juga dulu pernah ditolong oleh Kimberly ketika dia dibully. Dan beberapa siswa dan siswi lainnya.


Semuanya menatap sedih kearah Santy. Bahkan ada juga yang memikirkan nasib dari ketujuh siswi baru itu ditangan Kimberly. Mereka semua tahu bagaimana besarnya kepedulian Kimberly dan keempat sahabatnya jika ada salah satu dari mereka yang celaka atau disakiti. Mereka akan membalas dua kali lipat terhadap orang-orang yang mengusiknya.


"Ayo bantu aku untuk bawa Santy ke UKS!"


Mendengar ucapan dan permintaan dari siswi itu. Empat temannya langsung mengangkat tubuh Santy untuk dibawa ke ruang UKS.


Beberapa menit mereka membawa Santy ke ruang UKS. Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine pun datang.


"Mana Santy?" tanya Kimberly.


"Kak Santy sudah dibawa ke ruang UKS, kak!" salah satu adik kelasnya menjawab pertanyaan darinya.


"Terima kasih!" ucap Catherine.


Sementara Kimberly sudah terlebih dahulu berlari menuju ruang UKS. Kemudian disusul oleh Rere, Sinthia dan Catherine.


^^^


Braakk..


Pintu dibuka kasar oleh Kimberly sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam terkejut.


Kimberly kemudian melangkah masuk ke ruang UKS diikuti oleh Rere, Sinthia dan Catherine di belakang.


"Santy!" Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine langsung menghambur mendekati ranjang Santy.


"San," lirih Kimberly, Rere, Sinthia dan Catherine bersamaan.


Kimberly mengepal kuat tangannya ketika melihat kondisi Santy. Ditambah lagi wajah Santy yang pucat.


"Siapa yang lakuin ke lo?" tanya Kimberly dengan mengusap lembut kepala Santy.


"Apa Santy pernah melakukan operasi?"


"Iya, Dokter! Dua minggu yang lalu Santy baru saja melakukan operasi usus buntu," jawab Catherine.


"Apa yang terjadi Dokter?" tanya Kimberly melangkah menghampiri Catherine yang sedang berbicara dengan Dokter yang menangani Santy.


"Perut Santy mengalami pembengkakan akibat pukulan tersebut. Dari hasil pemeriksaan, Santy mendapatkan dua pukulan tepat di luka operasinya itu."


Mendengar perkataan serta penjelasan dari Dokter tersebut membuat Kimberly marah. Begitu juga dengan Rere, Sinthia dan Catherine. Mereka benar-benar marah atas orang yang sudah menyakiti Santy, terutama Kimberly.


Kimberly melihat kearah Santy yang masih belum sadar. "Gue bakal balas orang yang udah nyakitin lo," batin Kimberly.


Setelah itu, Kimberly pergi meninggalkan ruang UKS untuk mencari orang yang sudah menyakiti sahabatnya.


Melihat Kimberly pergi dalam keadaan marah membuat Catherine khawatir. Dan dirinya pun memutuskan untuk menyusul Kimberly.


"Re, Sin! Kalian berdua disini. Gue mau nyusul Kimberly," ucap Catherine.


"Baik," jawab Rere dan Sinthia bersamaan.


^^^


Di kelas, Triny tampak tak tenang. Sejak tadi dia memikirkan Kimberly. Perasaannya mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu. Tapi Triny tidak tahu hal apa yang akan terjadi.


Dania yang duduk di samping Triny sejak tadi memperhatikan Triny yang tampak gelisah, akhirnya bersuara.


"Triny, lo kenapa?" tanya Dania.


Mendengar pertanyaan dari Dania membuat Danela, Alisha dan Lisa langsung melihat kearah Triny yang mana Triny sedang melamun.


"Lo kenapa?" tanya Lisa.


"Gue nggak tahu. Tapi gue kepikiran Kimberly. Perasaan gue mengatakan bahwa akan terjadi sesuatu yang buruk di sekolah ini," jawab Triny.


"Itu hanya perasaan lo kali. Semoga Kimberly baik-baik saja. Gitu juga dengan keempat sahabat-sahabatnya," hibur Danela.


^^^


Kimberly terus melangkahkan kakinya untuk mencari orang yang sudah menyakiti sahabatnya. Beberapa siswa dan siswi yang melihat kearah Kimberly merasakan aura yang tak mengenakkan dari diri Kimberly.


Kimberly melihat kearah siswa dan siswi yang juga melihat kearah dirinya. Kemudian kakinya menghampiri siswa dan siswi itu yang tak lain adik kelasnya.


"Kalian pasti melihat kejadian beberapa menit yang lalu di lapangan?" tanya Kimberly dengan wajah dinginnya.


"I-ya, kak!" jawab mereka kompak.


"Pasti kalian tahu siapa orang yang sudah menyakiti sahabatku?" tanya Kimberly.


"Dia... Dia....!"


"Katakan! Dan kalian tidak perlu takut. Jika orang itu menyakiti kalian, maka aku yang akan balas orang itu."


"Orang yang mukul kak Santy adalah ketujuh siswi baru itu, kak!"


"Ketujuh siswi baru itu adalah teman-temannya kak Sheela, orang yang selalu mencari masalah dengan kak Triny."


"Jadi mereka yang sudah menyakiti sahabatku," batin Kimberly.


"Dari ketujuh siswi baru itu. Yang mana orang yang sudah menyakiti Santy?"


"Dia pakai jaket warna biru dan ada tindik di hidungnya, kak!"


"Terima kasih. Carilah aku jika ada yang mengganggu kalian."


"Terima kasih, kak!" seru mereka bersamaan.


Setelah itu, Kimberly pergi meninggalkan siswa dan siswi itu untuk mencari ketujuh orang yang sudah menyakiti sahabatnya.


^^^


Sheela dan ketujuh teman-temannya saat ini berada di kantin. Mereka saat tengah berpesta karena telah menyakiti salah satu sahabatnya Kimberly.


"Gue nggak nyangka lo secepat ini bertindak, Amel? Gue pikir lo akan bermain cantik untuk mendapatkan Lionel," ucap Sheela.


"Gue udah nggak sabar untuk menjadikan Lionel pacar gue. Jika gue main cantik dan lembut. Yang ada Lionel gampang susah untuk menjauh dari kekasihnya. Dengan aku menyakiti kekasihnya, setidaknya kekasihnya itu yang akan pergi dengan sendirinya."


Mendengar rencana dari Amel membuat Sheela dan yang lainnya menganggukkan kepalanya tanda setuju akan rencana Amel.