
Kimberly berada di dalam perjalanan dari sekolah menuju kediamannya. Kimberly mengendarai mobilnya sendiri. Sedangkan di belakang mobilnya ada mobil Triny, mobil Aryan dan mobil Billy.
Ketika Kimberly sedang fokus mengendarai mobilnya, tiba-tiba dia dikejutkan dengan suara dering ponselnya. Seketika Kimberly menghentikan laju mobilnya guna untuk menjawab sebuah panggilan.
Sedangkan Billy, Aryan dan Triny yang berada di belakang mobil Kimberly juga ikut berhenti ketika melihat mobil Kimberly yang tiba-tiba berhenti.
"Kenapa mobil Kimberly berhenti?" tanya Billy pada dirinya sendiri dengan tatapan matanya menatap ke depan.
Tin.. Tin..
Kimberly yang mendengar bunyi klakson dari belakang mobilnya langsung melihat kearah belakang.
Kimberly membuka kaca mobilnya. Setelah itu, Kimberly mengeluarkan kepalanya dan melihat ke samping.
"Kenapa berhenti?!" teriak Billy yang menyembulkan kepalanya dari balik jendela mobilnya.
"Kakak Jason menghubungi aku!" teriak Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly kembali masukkan kepalanya ke dalam. Kemudian Kimberly menjawab panggilan dari kakak tertuanya itu.
"Hallo, kakak!"
"Kamu dimana sayang?"
"Aku di jalan pulang bersama Aryan, Triny dan Billy. Kenapa kak?"
"Kamu nggak usah langsung pulang ke rumah. Kamu, Aryan, Billy dan Triny datang ke cafe yang biasa yang kamu datangi itu."
"Memangnya kenapa? Aku hari ini benar-benar lelah. Aku nggak mau kemana-mana lagi."
Mendengar jawaban dari adik perempuannya membuat Jason menjadi tidak tega. Namun tapi Jason harus bisa membuat adik perempuannya pergi kesana.
"Maafkan, kakak. Kakak tahu kamu lelah. Begitu juga dengan Billy, Aryan dan Triny. Tapi ada sesuatu kejutan untuk kamu. Jadi, mau tidak mau kamu harus kesana. Kakak nunggu kamu disana."
"Eemm.. Baiklah."
"Terima kasih ya. Kasih tahu sama Billy, Aryan dan Triny."
"Baiklah."
"Ya, sudah. Kakak tutup teleponnya. Hati-hati di jalan."
"Iya."
Setelah mengatakan itu, Kimberly dan Jason sama-sama mematikan panggilannya.
Kimberly kembali mengeluarkan kepalanya dan melihat ke samping. Dan dapat dilihat ketiga sepupunya sudah berdiri di luar.
"Woi! Kak Jason nyuruh kita ke cafe langganan kita dan ngelarang kita pulang! Disana kak Jason nungguin kita!" teriak Kimberly.
Sementara Billy, Triny dan Aryan mendengus ketika mendengar ucapan dan teriakan dari Kimberly dengan menyebut kata 'Woi'.
"Buruan!" teriak Kimberly lagi ketika melihat ketiga sepupunya itu tak beranjak sama sekali.
Mendengar teriakkan kedua dari Kimberly membuat Billy, Triny dan Aryan langsung masuk ke dalam mobilnya masing-masing.
Melihat ketiga sepupunya sudah memasuki mobilnya masing-masing, Kimberly pun memasukkan kembali kepalanya.
***
Di kediaman utama Shanley terlihat anggota keluarga sedang berkumpul di ruang tengah. Beberapa orang menatap penuh amarah kearah seorang gadis yang saat ini tengah ketakutan. Gadis itu adalah Sheela Shanley.
"Kamu itu manusia terbuat dari apa, Sheela? Kenapa kamu tidak menuruti larangan dari ayah kamu setelah kejadian itu?!" kakak laki-laki ayahnya.
Maksud dari kejadian itu adalah kejadian dimana kedua orang tuanya Sheela bertemu dengan Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya di sebuah cafe. Pertemuan itu membahas agar keluarga Sheela termasuk Sheela tidak mengusik mereka lagi terutama tidak mengusik Kimberly dan Triny.
Jika Molly atau Sheela kembali mengulangi kesalahan yang sama, maka jangan salahkan mereka yang akan bertindak buruk terhadap Molly dan Sheela. Bahkan bisa merembes kepada anggota keluarganya.
"Jika kamu mendengar larangan ayah dan ibumu. Kamu tidak akan seperti ini. Apa kamu belum jera juga merasakan tendangan dari gadis itu yang berakhir koma di rumah sakit? Paman malu sama kamu Sheela. Jika kamu tidak menyandang nama Shanley, Paman tidak peduli kamu melakukan apapun diluar sana. Kamu menyandang nama Shanley dibelakang nama kamu. Otomotif kita semua malu akan perbuatan kamu itu!"
"Dan lihatlah kamu sekarang!" bentak kakak laki-laki kedua ayahnya Sheela. "Satu minggu kamu koma. Satu minggu kamu istirahat di rumah sakit. Dan satu minggu kamu baru keluar dari rumah sakit. Sekarang kamu mendapatkan tendangan gratis dari gadis itu untuk yang kedua kalinya. Besok mungkin nyawa kamu yang akan diambil oleh gadis itu!"
"Jika hal itu sampai terjadi. Dan jika gadis itu atau orang-orang terdekatnya sampai kalap terhadap kamu hingga berakhir nyawa kamu melayang. Mereka tidak salah. Mereka terpaksa dan hanya membela diri. Kita tidak akan bisa menyalahkan mereka atau pun menuntut mereka. Disini kamu yang salah. Atau lebih tepatnya kita sebagai orang tua sekaligus sebagai keluarga kamu gagal mendidik dan mengajarkan kamu hal yang benar."
Adik perempuan dari ayahnya Sheela berbicara kepada Sheela sembari memperjelas tentang hukum untuk orang yang tidak bisa menahan emosi ketika orang-orang menyakitinya.
"Dan satu lagi Sheela. Bibi ada kenalan. Dan kenalan bibi itu memiliki putranya yang seorang polisi. Putranya dari kenalan Bibi itu mengatakan bahwa putranya memiliki atasan yang baik dan bijak. Kamu mau tahu siapa atasannya itu?"
Sheela hanya diam, walau tatapan matanya menatap kearah sang Bibi. Dirinya tidak tahu harus berkata apa di hadapan bibinya itu.
"Atasan dari putra kenalan bibi itu adalah Pasya Fidelyo. Dan kamu tahu siapa itu Pasya Fidelyo? Pasya Fidelyo itu adalah putra sulung dari Rafassya Fidelyo dan Helena Aldama. Rafassya adik laki-laki dari Nashita Fidelyo. Sedangkan Helena Aldama adala adik perempuan dari Fathir Aldama."
"Tuan Fathir Aldama dan Nyonya Nashita Fidelyo adalah kedua orang tua dari gadis yang kamu ganggu itu. Sementara gadis yang kekasihnya yang ingin kamu rebut itu adalah keponakan dari Nyonya Nashita."
Deg..
Sheela seketika terkejut ketika mendengar ucapan serta penjelasan yang barusan dilontarkan oleh bibinya. Dirinya tidak menyangka jika Triny dan Kimberly adalah orang yang berasal dari keluarga terkaya dan berpengaruh.
Sementara untuk kedua orang tuanya Sheela yaitu Farid dan Shireen. Mereka sudah mengetahuinya ketika mendatangi kediaman Aldama dan bertemu langsung dengan Fathir dan Nashita.
Ketika awal mereka datang kesana, Farid dan Shireen tidak mengetahui apapun tentang Fathir dan Nashita yang sebenarnya. Setelah bertemu, barulah mereka tahu.
Namun hal itu tidak membuat Shireen ibunya Sheela mundur dan melupakan masalah tersebut. Akibat bujuk rayunya ibunya Molly yaitu Delina untuk menculik Kimberly dan Sheela. Akhirnya membuat Shireen mengikutinya.
Yang membuat kedua orang tua dari Molly dan Sheela berhenti mengusik Kimberly dan Triny sejak pertemuannya dengan Billy, Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya. Sejak pertemuan itulah membuat kedua orang Molly dan Sheela melarang anak-anaknya untuk membuat rusuh lagi.
"Sekarang kamu pikirkan sendiri bagaimana nasib kamu ke depannya. Ini adalah kesempatan terakhir untuk kamu dari keluarga Shanley. Jika kamu masih mencari masalah diluar sana dan ingin menjadi seorang penguasa dan membuat semua orang tunduk sama kamu. Paman saran, lebih baik kamu keluar dari keluarga Shanley. Lepaskan nama Shanley yang melekat di belakang nama kamu. Setelah kamu melepaskan nama Shanley dari nama kamu. Maka kamu bebas mau melakukan apapun karena kita memiliki hubungan apa-apa lagi."
Deg..
Sheela seketika terkejut ketika mendengar Paman tertuanya berbicara seperti itu. Begitu juga dengan ibunya Sheela. Keduanya tidak menyangka jika sang paman/kakak iparnya akan berkata seperti itu.
Sementara untuk Farid, pria itu hanya diam dan tidak berkomentar apa-apa. Dirinya juga setuju atas apa yang dikatakan oleh kakaknya itu. Farid berharap dengan kakaknya berbicara seperti itu, putrinya benar-benar berubah dan tidak akan pernah mengulanginya lagi.
Setelah mengatakan itu, kedua kakak laki-laki dan satu adik perempuan Farid beserta anak-anaknya pergi meninggalkan Sheela untuk menuju kamarnya masing-masing.
Kini tinggal Farid, Shireen dan Sheela di ruang tengah dengan Farid yang menatap wajah putrinya.
"Papi harap sama kamu Sheela. Dan ini yang terakhir. Berubahlah! Jika seandainya kamu diusir dari kediaman utama Shanley. Papi tidak bisa lagi menolong kamu. Sudah cukup pertolongan Papi sama kamu ketika kamu koma di rumah sakit sehingga Papi datang menemui tuan Fathir Aldama dan Nyonya Nashita Fidelyo.
"Pikirkan itu, nak!" mohon Shireen sembari menatap wajah putrinya.