THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Flashdisk



Brak..


Pintu dibuka secara paksa oleh seseorang sehingga membuat orang-orang yang berada di dalam terkejut. Bahkan orang-orang yang ada di dalam menatap tajam kearah orang itu.


Orang itu langsung melangkah masuk ke dalam ruang kepala sekolah dan diikuti oleh para sahabatnya di belakang


"Billy! Tommy! Andhika! Mengapa kalian kesini?" tanya kepala sekolah itu. Kemudian kepala sekolah tersebut menatap beberapa orang di belakangnya. "Dan kalian juga! Kenapa kalian ikut-ikutan kesini?"


Billy danĀ  Tommy melihat kearah adik sepupunya/kekasihnya. Dan dapat dilihat olehnya bahwa adik sepupunya/kekasihnya itu tengah bersedih. Terlihat dari wajahnya.


Setelah itu, Billy dan Tommy kembali menatap wajah kepala sekolahnya yang juga menatap dirinya.


"Saya ingin bertemu dengan adik adik sepupu saya," ucap Billy dengan wajah dinginnya.


"Dan saya ingin bertemu dengan kekasih saya," sahut Tommy yang tak kalah dingin.


Deg..


Mendengar perkataan dari Tommy membuat ibunya Molly terkejut. Bagaimana tidak terkejut? Sejak Tommy menolong putrnya. Sejak itulah Ibunya Molly sudah menganggap Tommy sebagai kekasih dari putrinya. Dari situ ibunya Molly menyukai Tommy dan menjadikan Tommy menantunya.


"Apa? Gadis ini adalah kekasih dari pemuda itu?" batin ibunya Molly.


Mendengar jawaban dari Billy dan Tommy, kepala sekolah itu melihat kearah Kimberly yang saat ini bersikap biasa saja sembari tatapan matanya menatap para orang tua yang anak-anak sudah mencari masalah dengan dirinya.


Setelah puas melihat wajah Kimberly. Kepala sekolah itu kembali menatap wajah Billy, Tommy dan Andhika secara bergantian.


"Bapak sudah tahukan hubungan saya dengan Kimberly?" tanya Billy.


"Dan Bapak juga sudah tahukan kalau saya ini kekasihnya Kimberly, murid yang Bapak panggil kesini?" tanya Tommy.


"Dan Bapak juga tahu sayakan? Jika Bapak tidak tahu maka saya akan kasih tahu. Saya adalah...."


"Saya tahu kamu. Kamu Andhika Alexander, kekasih dari Triny Fidelyo!"


Kepala sekolah tersebut langsung memotong perkataan Andhika karena merasa jengah melihat ketiga muridnya yang memperkenalkan dirinya di hadapannya. Padahal dirinya sudah tahu.


Sementara Billy, Tommy dan sahabat-sahabatnya yang lain tersenyum melihat wajah kesal kepala sekolahnya.


"Syukurlah kalau Bapak tahu," sahut Andhika.


"Lalu urusan kamu kesini apa? Kalau Billy dan Tommy masih bisa diterima karena ada Kimberly. Terus kamu? Disini tidak adak Triny!"


Mendengar perkataan dari kepala sekolah tersebut membuat Andhika mendengus kesal. Seenaknya saja kepala sekolah itu berkata seperti itu.


"Triny memang tidak ada disini. Tapi saya juga ada urusan disini. Saya juga ikut andil disini. Dan saya juga punya urusan dengan salah satu para orang tua itu," ucap Andhika sembari menatap tajam kearah para orang tua dari Molly, Sheela, Syafina dan keempat teman-temannya.


Kepala sekolah itu kembali menatap wajah Kimberly yang masih diam di tempatnya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah para orang tua dari murid-muridnya.


Kimberly yang menyadari dirinya ditatap oleh kepala sekolah langsung memberikan senyuman termanisnya. Kemudian melirik sekilas Billy dan Tommy lalu menyapa keduanya.


"Hallo, kakak Billy. Apa kakak Billy datang kesini mau nolongin aku."


Billy tersenyum ketika melihat mode manja adik sepupunya itu. Apalagi ketika melihat wajah imutnya membuat Billy tidak akan pernah bisa menolak keinginannya.


"Iya. Kakak kesini untuk menolong kamu."


Kimberly beralih menatap wajah tampan Tommy lalu kemudian tersenyum.


"Apa kamu juga mau nolongin aku?" tanya Kimberly dengan wajah imutnya.


"Iya. Sama seperti Billy. Aku datang kesini untuk menolong kamu," jawab Tommy sembari tersenyum gemas melihat wajah imut Kimberly.


Mendengar jawaban dari sang kakak dan juga dari sang kekasihnya membuat senyuman Kimberly makin lebar.


Kimberly seketika berdiri dari duduknya lalu mendekati kakak sepupunya dan kekasihnya itu. Kimberly berdiri di tengah antara Billy dan Tommy.


"Kalau begitu kakak harus selesaikan sekarang juga. Mereka!"


Kimberly menunjuk kearah para orang tua dari Molly dan Sheela serta orang tua dari kelima teman-teman sekelasnya.


Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya langsung melihat kearah tunjuk Kimberly. Begitu juga dengan kepala sekolah.


"Mereka telah menghina aku. Mereka juga menghina Mommy dan Daddy, terutama Mommy. Mereka bilang kalau Mommy itu wanita bodoh dan nggak becus ngurus aku. Mereka juga bilang jika kelakuan buruk aku ajaran dari Mommy."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Billy seketika marah. Dia tidak terima jika adik sepupunya, Paman dan Bibinya dihina.


Sementara kepala dan para orang tua dari teman-teman sekelasnya Kimberly seketika melongo dan juga terkejut.


Kimberly menatap wajah Tommy lalu bergelayut manja di pergelangan tangan Tommy. Seketika terdengar isakan dari Kimberly.


Tommy mengepalkan kedua tangannya kuat ketika mendengar aduan dari Kimberly. Begitu juga dengan Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain. Mereka benar-benar marah saat ini.


Tommy melepaskan pegangan tangan Kimberly dari pergelangan tangannya, lalu menatap wajah cantik Kimberly. Berlahan tangannya menghapus air mata Kimberly. Setelah itu, Tommy memberikan kecupan di kening Kimberly.


"Jangan pernah kamu dengarkan apa yang mereka bilang. Kamu kekasih aku. Dan sampai kapan pun kamu tetap menjadi kekasihku. Hanya kamu yang pantas menjadi kekasih sekaligus calon istri dari Tommy Alexander. Tidak ada yang lain. Dan kamu adalah perempuan baik-baik dan berasal dari keluarga baik-baik."


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly. Dirinya benar-benar bahagia ketika mendengar ucapan sekaligus jawaban tulus dari Tommy.


Kimberly memang sengaja mengarang cerita karena dengan cara seperti inilah Kimberly membalas para orang tua tersebut. Kimberly tidak perlu buang-buang energi untuk menghadapi para orang tua itu.


Kimberly beralih menatap wajah tampan kakak sepupunya itu. Kemudian Kimberly memeluk lengan kakak sepupunya itu dengan manja.


"Kakak Billy! Boleh tidak aku pergi? Aku nggak ingin berlama-lama disini. Aku jijik melihat wajah-wajah mereka," ucap Kimberly sembari bergelayut manja di lengan Billy dan matanya melirik sekilas kearah para orang tua dari teman-teman sekelasnya.


Billy tersenyum mendengar permintaan adik perempuannya dan tangannya mengacak-acak rambut adik perempuannya itu gemas. Begitu juga dengan Tommy, Andhika dan sahabat-sahabatnya yang lain.


"Boleh. Kamu boleh pergi. Biar kakak, Tommy, Andhika dan yang lainnya yang akan menyelesaikan masalah kamu," jawab Billy.


"Iya, Kim! Kamu pergilah. Biar aku, Billy, Andhika dan yang lainnya yang mengurusnya," ucap Tommy.


"Terima kasih, kakak Billy!" Kimberly berucap dengan penuh kebahagiaan.


Kimberly melihat kearah Tommy dan Andhika secara bergantian. "Terima kasih sayangku, masa depanku!" ucap Kimberly.


Tommy tersenyum lebar ketika mendengar ucapan manis dari Kimberly. Hatinya benar-benar menghangat.


"Sama-sama sayangku," jawab Tommy.


"Terima kasih juga untuk calon kakak iparku, kakak Andhika!" sahut Kimberly tersenyum.


"Sama-sama calon adik iparku yang cantik dan manis," jawab Andhika sembari tersenyum.


Sementara kepala sekolah hanya bisa menghela nafas pasrahnya disertai gelengan kepala ketika melihat drama adik dan kakak dan sepasang kekasih di hadapannya.


Sebelum pergi, Kimberly memberikan ciuman di pipi putih Billy dan Tommy. Dan menatap sekilas para orang tua dari Molly, Sheela dan kelima teman-teman sekelasnya.


Kimberly tersenyum menyeringai sehingga membuat para orang tua tersebut bergidik ngeri ketika melihat tatapan mata Kimberly.


"Aku pergi dulu ya. Silahkan kalian berurusan dengan kakakku, kekasihku dan calon kakak iparku. Semoga besok kalian bisa hidup dengan damai," ucap Kimberly.


Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi meninggalkan ruang kepala sekolah. Dan tak lupa menyapa para sahabat-sahabat kakaknya, kekasihnya dan calon kakak iparnya.


Setelah kepergian Kimberly. Billy, Tommy dan Andhika menatap wajah kepala sekolah itu. Mereka menatap lembut kearah kepala sekolah tersebut.


Sedangkan kepala sekolah yang ditatap oleh tiga siswa memberikan senyuman.


"Maaf ketidak sopanan saya dan sahabat-sahabat saya. Kedatangan saya kemari karena saya mendapat informasi bahwa adik sepupu saya dibawa kesini."


Billy berbicara sembari menatap satu persatu wajah orang-orang yang ada di dalam ruangan kepala sekolah tersebut.


"Kita langsung saja ya," ucap Tommy.


Setelah itu, Tommy mengeluarkan sebuah benda di dalam saku celananya. Benda itu adalah Flashdisk.


Setelah benda itu sudah ada di tangannya, Tommy memperlihatkannya di hadapan semua orang.


"Kalian tahu ini apa?" tanya Tommy.


"Semua orang juga tahu kalau itu adalah Flashdisk. Sebenarnya kamu ini melakukan apa disini, hah?!" bentak ibunya Sheela.


"Cih! Anda terlalu sombong, nyonya!" batin Lionel.


"Nyawa sudah diujung tanduk, tapi masih saja bersikap arogan dan sombong," ejek Mirza.


"Ya. Ini benar Flashdisk. Sebentar lagi Flashdisk ini akan menghancurkan kehidupan mewah kalian," ucap Tommy menatap tajam para orang tua dari Molly dan Sheela.


"Dan juga kehidupan mewah kalian semua," ucap Billy menunjuk kearah orang tua dari kelima teman-teman sekelas Kimberly.


"Cih!" kelima wanita paruh baya itu menatap remeh Tommy. Mereka adalah orang tua dari Syafina, Enzi, Vanessa Jennie dan Aruna.


Tommy menyodorkan Flashdisk itu kepada kepala sekolah lalu meminta kepala sekolah itu untuk membukanya.


"Lihatlah isi dari Flashdisk ini agar bapak tahu kejadian sebenarnya, walau sebenarnya Bapak seratus persen percaya dengan Kimberly."


Kepala sekolah itu langsung mengambil Flashdisk di tangan Tommy lalu langsung memasangnya di laptopnya.