THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Grup Chat Grup Chat



Di sebuah rumah tepatnya di ruang tengah terlihat beberapa orang. Orang-orang itu adalah sepasang suami istri dan ketiga anaknya, dua anak laki-lakinya dan satu anak perempuannya.


Suasana di ruang tengah itu tampak tegang dimana pria paruh baya itu menatap mawar kearah anak perempuannya. Sedangkan sang istri hanya bisa diam sembari berusaha untuk menenangkan emosi suaminya.


"Apa yang ada di otakmu itu, Rasty?! Berapa kali Papa bilang sama kamu, jangan ikut campur urusan orang lain! Jangan masuk ke dalam masalah tersebut. Papa meminta kepada kamu untuk menjaga diri kamu sendiri, terutama sikap dan tutur kata kamu itu. Bukannya menyuruh kamu mengusik kehidupan orang lain.


"Yang buat Papa marah seperti ini sama kamu adalah kamu langsung berpikir bahwa orang yang kamu lihat di toko itu hanya memilih-milih, menanyakan harga dan melihat-lihat barang-barang yang ada di toko tersebut dan tidak membeli barang-barang itu. Dan dengan kejinya kamu langsung mengeluarkan kata sindiran, ejekan hinaan dan merendahkan terhadap orang itu."


Rasty hanya diam sembari menundukkan kepalanya. Dia tidak berani menatap wajah ayahnya yang saat ini benar-benar marah.


"Gara-gara ucapan-ucapan kamu, semua orang yang ada disana ikut menghina, memaki dan merendahkan orang itu. Dan lihatlah akibatnya sekarang! Kamu sudah tahu siapa orang yang sudah kamu hina dan yang sudah kamu rendahkan itu?! Kekayaan keluarganya, statusnya di dalam keluarganya dan kedudukannya lebih tinggi dari kamu, Rasty!" bentak pria itu.


Pria itu sudah tahu gadis yang menjadi korban hinaan dan makian di sebuah toko besar dan luas yang ada di dalam sebuah Mall besar dan terkenal di kota Hamburg, Jerman.


Ketika mengetahui status dan latar belakang dari gadis itu membuat pria itu ketakutan dan marah. Pria itu tidak menyangka jika putrinya sudah berani mengusik gadis kesayangan dari dua keluarga yang dikenal kejam terhadap orang-orang yang mengusiknya.


Takut jika terjadi sesuatu terhadap keluarganya karena atas perbuatan anak perempuannya. Marah terhadap kelakuan buruk anak perempuannya.


"Sayang," ucap wanita paruh baya itu sembari mengusap lembut punggung suaminya.


"Seharusnya kamu contoh gadis itu. Dia berasal dari keluarga kaya raya. Kekayaan keluarga gadis itu diatas kekayaan kita. Bahkan lebih. Keluarganya juga termasuk keluarga terpandang dan terhormat. Tapi tidak membuat gadis itu sombong. Bahkan gadis itu berpenampilan sederhana, tidak seperti orang kaya pada umumnya. Sementara kamu yang jauh dari gadis itu, kamu malah bersikap sombong dan suka membanggakan kekayaan keluargamu!"


Mendengar ucapan demi ucapan dan melihat wajah amarah dan wajah kecewa ayahnya membuat putra sulungnya angkat bicara. Dia sejak tadi berusaha untuk tidak melupakan amarah kepada adik perempuannya itu.


"Apa kamu sudah puas sekarang Rasty?! Gara-gara ulah kamu, keluarga kita dalam masalah. Gadis yang kamu hina dan kamu rendahkan itu menuntut balas. Gadis itu tidak terima atas apa yang kamu katakan itu ketika di Mall dua hari yang lalu. Bukan itu saja, gadis itu malu karena menjadi bahan gunjingan beberapa pengunjung disana." laki-laki itu berbicara sambil menatap wajah adik perempuannya itu dengan tatapan kecewa.


"Sama seperti Papa. Kakak tidak pernah meminta kamu melakukan hal-hal buruk ketika diluar rumah. Justru sebaliknya, hal-hal positif yang ingin kamu lakukan. Dan kakak juga tidak melarang kamu apalagi marah sama kamu jika kamu menghina dan memukul orang lain. Asal bukan kamu yang memulainya. Kamu melakukan hal itu untuk membela diri. Kalau perlu kakak yang akan turun tangan jika mereka menyakiti membalas kamu."


"Begini saja Rasty. Kakak sebagai putra tertua di keluarga SARKAN. Kakak minta sama kamu untuk menyelesaikan masalah kamu dengan gadis tersebut. Kakak mau kamu minta maaf padanya. Kakak tidak peduli kamu mau ikhlas minta maafnya atau terpaksa, itu semua ada pada kamu. Silahkan kamu pilih yang mana menurut kamu baik dan benar."


"Jika kamu benar-benar menyesal. Jika kamu masih memiliki hati dan perasaan. Jika kamu masih menyayangi kami yang berstatus sebagai ayah, ibu dan kakak-kakak kandung kamu. Maka kamu akan melakukan hal yang terbaik untuk keluarga kamu. Sudah waktunya kamu membuktikan kasih sayang kamu, kepedulian kamu dan rasa hormat kamu kepada kami. Setidaknya terhadap laki-laki yang sudah berjuang selama ini menjaga, merawat dan mendidik kamu dari kecil. Orang itu adalah ayah kandung kamu sendiri!"


Setelah mengatakan itu kepada adik perempuannya. Laki-laki itu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya. Dirinya akan bersiap-siap untuk pergi ke perusahaan yang mana perusahaan itu adalah miliknya sendiri.


Melihat kepergian kakak laki-lakinya membuat Rasty merutuki kebodohannya karena sudah membuat keluarganya dalam masalah.


"Pikirkan itu Rasty. Mama sudah terlanjur kecewa sama kamu. Disini Mama juga salah. Salah karena terlalu memanjakan kamu, terlalu menuruti kemauan kamu dan terlalu membela kamu padahal terbukti bersalah. Dan inilah hasilnya."


Wanita itu menatap kearah suaminya. "Ayo, sayang! Kita ke kamar. Kamu harus istirahat. Aku tidak mau kamu jatuh sakit karena memikirkan masalah ini."


Wanita itu membantu suaminya untuk berdiri. Setelah itu, wanita itu membawa suaminya menuju kamarnya dan kamar suaminya.


Tinggallah Rasty dan kakak keduanya. Keduanya saling diam. Dan beberapa detik kemudian, laki-laki itu berdiri.


"Ubah perangaimu. Dan segeralah minta maaf kepada gadis itu," ucap laki-laki itu kepada adiknya.


Setelah mengatakan itu, laki-laki itu pergi meninggalkan Rasty sendirian.


***


Kimberly saat ini berada di kantin. Dia tidak sendirian, melainkan bersama salah satu sahabatnya yaitu Santy. Sedangkan tugas sahabatnya yang lain yaitu Rere, Sinthia dan Catherine sedang berada di ruang komputer. Ketiganya disana tengah mengeprint tugas-tugas yang lupa mereka kerjakan kemarin di rumah.


"Kim," panggil Santy.


"Iya, San. Ada apa?" tanya Kimberly dengan melihat sebentar lalu kembali menatap layar ponselnya.


"Eemmm... Bagaimana kalau kita nanti pulang sekolah jalan-jalan dulu?"


"Jalan kemana?"


"Kita udah lama nggak main ke klub Karaoke favorit kita. Bagaimana kalau kita kesana? Terakhir kita kesana sejak kita kelas 3 SMP. Selesai kita ujian kelulusan. Kita nggak pernah lagi kesana."


"Baiklah. Kita akan kesana nanti habis pulang sekolah."


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Santy tersenyum bahagia.


"Benaran, Kim?"


"Iya, benar."


Mendengar perkataan dari Santy membuat Kimberly akhirnya memutuskan menyudahi main gamenya. Kimberly kemudian menatap wajah Santy yang juga menatap dirinya.


Kimberly seketika tersenyum ketika menata wajah Santy yang merasa tak enak sudah mengusulkan ide untuk pergi ke club Karaoke.


"Aku nggak ada acara hari ini. Bahkan sama Tommy. Kemarin kita udah puas jalan-jalan seharian. Jadi aku ada waktu buat kamu dan juga buat Rere, Sinthia dan Catherine."


Santy tersenyum lebar ketika mendengar ucapan sekaligus penjelasan dari Kimberly.


Kimberly membuka aplikasi WhatsApp. Setelah itu, Kimberly mulai mengetik disana.


GRUP :


Kimberly :


Catherine, Rere, Sinthia.


Rere :


Iya, Kim! Ada apa?


Sinthia : 2


Catherine : 3


Kimberly :


Santy ngajakin kita ke Club Karaoke.


Kimberly :


Bagaimana?


Catherine :


Gue setuju. Gue ikut.


Rere : 2


Sinthia : 3


Catherine :


Kapan kita kesana?


Kimberly :


Nanti pulang sekolah.


Rere : Oke!


Catherine : 2


Sinthia : 3


Kimberly :


Kalian langsung ke kelas saja jika sudah selesai mengeprint tugas-tugas kalian. Aku dan Santy sudah selesai di kantin dan hendak ke kelas.


Sinthia : Baik!


Rere : 2


Catherine : 3


Setelah selesai mengirimkan pesan ke grup WhatsApp miliknya. Kimberly memasukkan ponselnya di saku Almamater.