
Di sebuah cafe yang cukup terkenal di kota Hamburg, Jerman. Terlihat dua pasang suami istri bersama dengan anak-anaknya. Mereka saat ini tengah membahas rencana untuk membalas perbuatan dua keturunan keluarga Alexander.
"Apa yang akan kita lakukan terhadap dua kakak adik itu?" tanya seorang wanita paruh baya kepada suaminya.
"Dikarenakan laki-laki itu sudah menyakiti putriku, maka aku akan membalas melalui kekasihnya!"
Mendengar perkataan dari suaminya membuat wanita itu menatap kearah suaminya tersebut. Begitu juga dengan putrinya dan sepasang suami istri beserta anaknya.
"Kekasih? Apa maksud kamu sayang?" tanya wanita paruh baya itu.
"Pemuda yang bernama Tommy itu memiliki seorang kekasih. Dia begitu mencintai kekasihnya itu. Kita akan membalasnya melalui kekasihnya tersebut,"
Mendengar penuturan dari suaminya membuat wanita itu seketika tersenyum. Begitu juga dengan putrinya serta sepasang suami istri beserta anaknya itu.
"Apa yang akan kita lakukan terhadap kekasihnya itu tuan Diffo? Disini anak perempuan saya juga ikut disakiti oleh kakak perempuan dari Tommy itu," ucap dan tanya laki-laki yang bernama Miftah.
Diffo tersenyum di sudut bibirnya dengan tatapan matanya menatap kearah Miftah.
"Aku memberikan perintah kepada anak buahku untuk menculik kekasihnya," jawab Diffo.
Mendengar jawaban dari Diffo seketika terukir senyuman di bibir Miftah. Begitu juga dengan istri dan anak perempuannya.
"Aku setuju dengan rencana anda tuan Diffo," ucap Miftah.
"Aku sudah menduganya. Anda pasti akan menyukai rencana saya ini tuan," ujar Diffo.
Miftah tersenyum menatap wajah Diffo. Dalam hatinya membenarkan apa yang dikatakan oleh Diffo bahwa dirinya memang menyukai rencana dari Diffo.
"Lalu bagaimana rencana kita untuk masuk ke perusahaan milik keluarga Alexander itu. Dan kemudian menghancurkannya dari dalam?" tanya Miftah.
"Kalau masalah itu sudah aku atur. Tinggal menunggu informasi dari tangan kananku saja kapan kita akan memulainya," jawab Diffo.
Ketika mereka sedang merencanakan untuk menculik kekasih dari laki-laki yang bernama Tommy yang tak lain adalah Kimberly. Diffo yang sedang meneguk minumannya terkejut mendengar bunyi ponselnya.
Diffo meletakkan gelasnya kembali di atas meja lalu mengambil ponselnya yang ada di saku celana.
Setelah ponselnya berada di tangannya, matanya melihat nama tangan kanan tertera di layar ponselnya. Tanpa berpikir dua kali, Diffo pun langsung menjawab panggilan dari tangan kanannya itu.
"Hallo, ada apa?"
"Gawat Bos. Sepertinya rencana kita untuk memasukkan sepuluh orang ke dalam perusahaan Al'Xander Group akan mengalami kegagalan."
"Gagal maksud kamu, bagaimana?"
"Ada yang mendengar pembicaraan Bos dengan tuan Miftah ketika di Cafe tiga hari yang lalu. Dan orang itu langsung membocorkannya kepada keluarga Alexander."
Mendengar jawaban dari tangan kanannya membuat Diffo marah. Dirinya benar-benar tidak terima akan ulah dari orang itu.
"Brengsek! Berani sekali orang itu membocorkan rencanaku kepada keluarga Alexander!"
Miftah seketika terkejut ketika mendengar ucapan dari Diffo. Begitu para istri dan anak-anaknya.
"Apa kau tahu siapa orang itu?"
"Untuk wajahnya saya tidak tahu Bos. Mereka ada dua orang. Kedua-duanya perempuan."
"Aku tidak mau tahu bagaimana cara kau melakukan pekerjaan ini. Cari tahu siapa mereka. Setelah mendapatkan identitas mereka berdua. Culik mereka dan bawa ke markas."
"Baik tuan!"
Setelah memberikan perintah itu, Diffo langsung mematikan panggilannya. Dirinya saat ini benar-benar marah karena rencananya gagal.
***
Di kediaman Andrean Alexander tampak ramai dimana adik-adik dari Andrean beserta keluarganya datang berkunjung.
Kini semuanya tengah berkumpul di ruang tengah, lengkap dengan anggota keluarga Andrean.
"Sayang," panggil Lussiana.
Andrean langsung menatap wajah cantik istrinya ketika mendengar suara istrinya memanggil namanya.
"Ada apa, hum?" tanya Andrean.
"Bagaimana dengan janji kamu yang katanya mau membelikan hadiah untuk Kimberly?" tanya Lusiana.
Mendengar pertanyaan dari Lusiana. Para anak-anaknya yaitu Arka, Sovia, Salsa dan Tama langsung melihat kearah orang tuanya. Sementara Tommy sudah mengetahui bahwa ayahnya memberikan hadiah untuk kekasihnya.
"Apa itu benar Mi?" tanya Sovia.
"Iya, sayang! Papi kamu bilang sama Mami ingin memberikan hadiah untuk Kimberly sebagai ucapan terima kasih," jawab Lusiana.
"Apa Papi sudah memberikannya?" tanya Arka.
"Papi memberikan hadiah apa kepada kak Kimberly, Pi?" tanya Tama.
"Bagaimana reaksi Kimberly, Pi?" tanya Salsa.
Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari ketiga anaknya membuat Andrean tersenyum. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Papi sudah memberikan hadiah untuk Kimberly. Papi memberikan laptop gamer untuk Kimberly," jawab Andrean.
Mendengar jawaban dari Andrean membuat Arka, Sovia, Salsa dan Tama terkejut.
"Laptop Gamer?" tanya Arka, Sovia, Salsa dan Tama terkejut.
"Bagaimana reaksi kak Kimberly ketika menerima hadiah itu, Pi?" tanya Tama.
"Papi nggak tahu karena Papi memberikan laptop Gamer itu kepada Fathir ketika Papi datang ke perusahaannya. Papi menitipkan hadiah itu kepada Fathir."
"Oh iya! Kenapa Papi bisa kepikiran memberikan Kimberly Laptop Gamer?" tanya Salsa.
Arka, Sovia, Salsa dan Tama langsung melihat kearah Tommy. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Tommy/kakak Tommy!" Arka, Sovia, Salsa dan Tama.
"Kimberly itu hobi main Game. Apalagi ketika main Game menggunakan Laptop. Semua jenis Game sudah dikuasai oleh Kimberly."
"Wah!" seru Tama ketika mengetahui bahwa calon kakak iparnya itu jago dalam bermain Game.
"Kimberly pernah bilang padaku bahwa dia sedang mengincar sebuah Laptop Gamer yang mana Laptop itu bisa memainkan banyak Game. Dengan Laptop Gamer itu Kimberly bisa bermain game lebih dari satu Game secara bersamaan."
"Benar begitu?" tanya Fazio kakak ketiga Andhika tak percaya.
"Iya, kak!" jawab Tommy.
"Wah! Hebat juga Kimberly dalam bermain Game. Kakak aja kalah," sahut Carlen.
"Kimberly dan para saudara sepupunya itu raja Game. Mereka semua ahli dalam bermain Game," ucap Tommy.
"Siapa dari mereka yang paling jago, Tommy?" tanya Jacob.
"Dengar cerita dari Billy. Yang paling jago bermain Game adalah Kimberly. Itu tidak termasuk kak Jason dan kak Uggy. Jika sudah masuk mereka berdua. Sudah jelas semuanya bakal kalah, termasuk Kimberly!"
Mendengar cerita dari Tommy mengenai Kimberly, kedua kakaknya dan para sepupunya membuat Andrean, Lusiana dan anggota keluarga lainnya tersenyum. Mereka semua tidak menyangka jika keturunan keluarga Aldama dan Fidelyo jago dalam bermain Game.
"Bukan hanya jago dalam bermain Game. Mereka juga jago dalam mengurus perusahaan," sahut Jordy.
"Iya, kamu benar Jordy. Semua keturunan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo sudah menjadi CEO terkenal. Hanya Pasya putra pertama Rafassya dan Helena yang memilih menjadi polisi," sahut Andrean.
"Jabatannya juga tidak tanggung-tanggung. Pasya menjabat sebagai Jendral Polisi," ucap Arka.
"Dan aku dengar dari Fathir bahwa Ricky putra ketiga Nirvan juga seorang polisi seperti Pasya. Jabatan Ricky adalah Badan Reserse Kriminal."
"Benarkah itu Pi?" tanya Arka.
"Seperti itulah yang dikatakan oleh Fathir kepada Papi. Selama ini Ricky berada di luar negeri. Sejak dia kembali ke Jerman. Ricky kembali aktif di kepolisian."
Drtt.. Drtt..
Seketika mereka semua dikejutkan dengan suara ponsel yang berdering di atas meja. Ponsel milik Andrean.
Andrean kemudian mengambil ponselnya itu lalu melihat nama kontak di layar ponselnya.
"Banu," ucap Andrean pelan.
"Hallo, Banu!"
Mendengar Andrean menyebut nama Banu membuat semua anggota keluarga seketika langsung paham.
"Hallo, tuan. Saya ingin menyampaikan sesuatu bahwa nona Kimberly dan sahabatnya yang bernama nona Catherine dalam bahaya!"
Mendengar jawaban dari tangan kanannya membuat Andrean seketika berdiri dari duduknya. Dirinya benar-benar terkejut saat ini.
Melihat Andrean yang tiba-tiba berdiri membuat semua anggota keluarganya juga ikut berdiri.
"Apa maksud kamu mereka dalam bahaya?"
"Pertama, orang-orang yang ingin membalas perlakuan buruk tuan Tommy ketika di toko roti itu melalui nona Kimberly. Mereka saat ini tengah mencari tahu seperti apa wajah nona Kimberly."
"Kedua, orang itu sudah tahu dari tangan kanannya bahwa rencananya telah gagal. Rencananya itu digagalkan oleh dua orang wanita yang tak sengaja menguping pembicaraannya."
"Jangan bilang jika orang-orang itu mengetahui keberadaan calon menantuku dan sahabatnya?"
"Benar tuan. Ketika di cafe itu ada dua pria yang sedang merencanakan sesuatu terhadap perusahaan Al'Xander Group. Dan di Cafe itu juga ada nona Kimberly dan nona Catherine yang mendengar pembicaraan itu. Mereka merencanakan untuk menculik nona Kimberly dan nona Catherine."
"Brengsek! Ini tidak boleh terjadi."
"Apa yang harus kita lakukan tuan?"
"Terus awasi kedua pria itu dan orang-orangnya. Laporkan setiap rencana mereka padaku."
"Baik tuan!"
Setelah mengatakan itu, Andrean langsung mematikan panggilannya. Kemudian matanya menatap satu persatu wajah anggota keluarganya.
"Papi, ada apa?" tanya Arka.
"Pi! Tadi Pagi menyebut calon menantu dan sahabatnya. Apa itu Kimberly dan Catherine?" tanya Tommy.
"Kimberly dan Catherine ketahuan, Tommy!"
Seketika Tommy membelalakkan matanya ketika mendengar ucapan dari ayahnya. Begitu juga dengan yang lainnya.
"Maksud kamu apa sayang?" tanya Lusiana yang sudah mulai khawatir.
"Dua pria yang merencanakan untuk memasukkan sepuluh orang ke dalam perusahaan Al'Xander Group yang pembicaraannya didengar oleh Kimberly dan Catherine. Tangan kanan dari salah satu pria itu mengetahui keberadaan Kimberly dan Catherine ketika di Cafe itu lalu laki-laki itu memberitahu tentang Kimberly dan Catherine kepada Bos nya."
"Apa?" teriak mereka semua.
Mereka semua tampak khawatir dan takut akan keselamatan Kimberly dan Catherine.
"Kedua pria itu memberikan perintah kepada tangan kanannya untuk mencari keberadaan Kimberly dan Catherine. Dan bukan itu saja, keduanya juga memberikan perintah untuk mencari Kimberly yang tak lain berstatus kekasih Tommy. Mereka ingin membalas perlakuan Tommy dan Salsa ketika di toko kue beberapa hari yang lalu melalui Kimberly."
Tommy seketika marah ketika mendengar penjelasan dari ayahnya tentang rencana dari orang-orang tersebut. Dirinya tidak akan membiarkan orang-orang itu menyentuh kesayangannya dan sahabatnya dari kesayangannya itu.
Bukan hanya Tommy saja yang marah. Arka selaku kakak tertua dari Tommy juga tampak marah. Dirinya juga tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh calon adik iparnya itu dan juga Catherine.
Tak jauh beda dengan anggota keluarga Alexander yang lainnya. Mereka juga akan melakukan hal yang sama demi melindungi Kimberly dan Catherine. Secara Kimberly dan Catherine mendapatkan masalah besar seperti itu dikarenakan demi melindungi perusahaan Al'Xander Group.