THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Niat Licik Molly



"Tom, dari mana lo?"


Baru saja Tommy sampai di depan pintu ruang komputer. Pertanyaan dari Andhika membuat langkah kaki Tommy berhenti sejenak lalu menatap kearah Andhika.


"Aku habis ngasih pelajaran sama Molly."


Setelah itu, Tommy melangkahkan kakinya kembali ke dalam ruangan komputer lalu duduk di kursi tempat biasa dia duduki.


"Buat ulah apa lagi tuh cewek?" tanya Nathan.


"Apa dia nggak capek ganggu hidup lo mulu?" ucap Ivan geram terhadap kelakuan Molly


"Tadi kamu bila habis ngasih pelajaran sama dia. Kamu apain dia?" tanya Andhika.


"Aku tadi habis nampar pipi mulus dia sehingga lima jariku nempel di pipi dia," jawab Tommy sambil tangannya mengotak-atik keyboard komputernya.


Mereka semua membelalakkan matanya ketika mendengar jawaban dari Tommy yang mengatakan bahwa dia menampar Molly.


"Apa yang sudah dilakukan oleh Molly sehingga lo nampar dia?" tanya Billy.


"Pertama, dia meminta aku untuk menjadikan dia milik aku sepenuhnya. Aku masih berusaha sabar. Kedua, dia memintaku untuk memperkenalkan dia sebagai calon istrinya di depan keluarga Alexander. Aku masih dalam tahap sabar, walau bagaimana pun dia adalah perempuan. Keempat, dia memintaku untuk meninggalkan Kimberly dan memutuskan hubunganku dengan Kimberly. Bahkan dia juga mengatakan bahwa hanya dia yang pantas menjadi kekasih sekaligus calon istriku."


Tommy menatap satu persatu wajah sahabat-sahabatnya. "Yang membuat aku menamparnya adalah dia marah karena aku menolak semua keinginannya itu. Dia bahkan mengancamku akan mencelakai Kimberly jika aku masih bersama Kimberly. Bahkan dia juga menyebut Kimberly sebagai perempuan murahan. Maka dari itulah aku memberikan dia tiga tamparan sekaligus sehingga membuat bibirnya berdarah!"


Setelah itu, Tommy kembali menatap layar komputer dan mulai mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai dari kemarin.


Sementara Billy, Andhika dan sahabat-sahabatnya mengepal kuat tangannya ketika mendengar cerita dari Tommy tentang kelakuan Molly.


^^^


Molly saat ini berada di toilet. Dirinya saat ini tengah memandangi wajahnya di pantulan cermin di hadapannya. Tatapan matanya menatap tajam tepat di wajah memarnya dengan kedua tangannya mengepal kuat di atas wastafel.


"Brengsek! Tommy berani nampar gue hanya demi perempuan murahan itu!"


Flashback On


Tommy sedang menuju toilet. Dirinya merasakan sesuatu yang harus segera dia keluarkan. Setibanya di toilet Tommy langsung masuk ke dalam toilet dan menuntaskan apa yang sudah dia tahan sejak tadi.


Tanpa Tommy ketahui Molly yang juga melangkah menuju toilet perempuan melihat Tommy yang masuk ke toilet laki-laki. Seketika Molly tersenyum ketika mendapat sebuah ide untuk menjerat Tommy agar Tommy menjadi miliknya seutuhnya.


Beberapa menit kemudian..


"Tommy," panggil Molly.


Tommy seketika menghentikan langkahnya ketika mendengar panggilan dari Molly. Lalu melihat sekilas kearah Molly. Namun setelah itu, Tommy kembali melangkahkan kakinya untuk menuju ruang Komputer.


Melihat Tommy yang masih bersikap biasa membuat Molly berlari mengejar Tommy. Molly berlari sekuat tenaga.


Seketika langkah Tommy terhenti ketika melihat Molly yang menghalangi jalannya. Tatapan matanya menatap tajam kearah Molly.


"Minggir!"


"Gue akan minggir asal lo nerima gue jadi pacar lo."


"Gue bilang minggir!"


"Nggak!"


Tommy akhirnya memilih mengalah dengan berjalan kearah samping dengan mendorong kuat tubuh Molly ke samping.


Namun siapa sangka, Molly dengan lancangnya memeluk pinggang Tommy dengan erat hingga dirinya tidak terjatuh akibat dorongan tak main-main dari Tommy.


Melihat apa yang dilakukan oleh Molly padanya membuat Tommy menggeram marah. Kemudian Tommy dengan kasar langsung melepaskan pelukan Molly. Dia tidak peduli kalau Molly akan merasa sakit di bagian tubuhnya.


Tommy berhasil melepaskan pelukannya Molly sehingga mengakibatkan tubuh Molly terhuyung ke belakang.


"Jaga kelakuan lo. Kelakuan benar-benar menjijikan. Jika lo ingin dipeluk oleh laki-laki. Cari laki-laki yang lain. Jangan gue. Gue nggak level sama lo. Dan lo bukan selera gue!" bentak Tommy dengan kata-katanya yang kejam.


Molly seketika tersentak ketika mendengar ucapan kasar dan kejam yang diberikan oleh Tommy. Dia tidak menyangka jika Tommy akan berbicara seperti itu.


"Kenapa Tommy? Kenapa lo kayak gini sama gue?"


"Gue yang seharusnya nanya sama lo. Kenapa lo ngejar-ngejar gue? Gue nggak kenal lo. Gue punya hubungan apa-apa sama lo. Lo kenal sama gue atau gue kenal sama lo itu dikarenakan gue nolongin lo saat itu. Selesai gue nolongin lo. Gue udah nggak punya urusan apa-apa lagi sama lo!"


"Tapi gue cinta sama lo sejak pertemuan itu."


"Tapi gue nggak. Gue udah punya cewek. Dan gue cinta sama dia!"


Mendengar kata cinta dari mulut Tommy untuk perempuan lain membuat hati Molly sakit. Dirinya tidak terima jika Tommy menjadi milik orang lain. Tommy hanya miliknya.


"Kalau gue nggak bisa dapetin lo, maka tidak akan ada satu gadis pun di dunia ini mendapatkan cinta lo. Gue bakal singkirkan orang-orang yang dekat sama lo."


Tommy tersenyum di sudut bibirnya ketika mendengar ucapan sekaligus ancaman dari Molly.


"Lo ngancam gue, hum?"


"Iya, kenapa? Lo takut?"


"Jawabannya tidak! Ngapain gue takut sama cewek nggak jelas dan nggak ada apa-apanya kayak lo."


Tommy menatap jijik kearah Molly yang saat ini juga tengah menatap dirinya. Tommy tersenyum di sudut bibirnya ketika menatap wajah Molly.


"Jika lo berasal dari anak presiden atau anak raja. Gue mungkin bakal takut sama lo. Dan kemungkinan gue juga akan ngikutin kemauan lo barusan. Tapi sayangnya lo nggak ada apa-apanya dibanding cewek gue. Bahkan keluarga lo masih dibawah keluarga gue. So! Nggak ada alasan buat gue takut sama lo."


Mendengar perkataan kejam dari Tommy membuat Molly makin menatap penuh dendam kearah Tommy. Bahkan di dalam hatinya sudah merencanakan akan benar-benar mencelakai Kimberly.


"Sayangnya gue nggak main-main dengan ucapan gue barusan. Gue bakalan celakai perempuan murahan itu. Dan gue pastikan dia bakalan mati," ucap Molly dengan menatap wajah Tommy dengan wajah menantang.


Tommy mengepal kuat tangannya dengan tatapan matanya menatap tajam kearah Molly. Begitu juga dengan Molly. Dia sama sekali tidak takut akan tatapan tajam yang diberikan oleh Tommy.


Plak.. Plak..


Plak..


"Aakkhhh!"


Molly merasakan sakit luar biasa di pipinya akibat tamparan yang keras dari Tommy. Bahkan sudut bibirnya mengalami luka akibat tamparan tersebut.


"Gue juga nggak main-main dengan ucapan gue. Jika lo berani nyentuh cewek gue. Jika terjadi sesuatu terhadap cewek gue. Gue Tommy Alexander akan buat perhitungan dengan lo. Gue bersumpah akan buat hidup lo seperti di neraka. Bukan hanya lo, melainkan anggota keluarga lo juga bakal gue habisi karena mereka nggak becus mendidik lo!"


"Anggap aja tiga tamparan tadi sebagai peringatan dari gue."


Setelah itu, Tommy pergi meninggalkan Molly yang terdiam di tempat akan perkataannya.


Flashback Off


Molly mengepal kuat tangannya ketika mengingat kejadian dimana dirinya yang ditampar oleh Tommy. Dirinya tidak terima atas perlakuan Tommy padanya.


"Awas lo, Kimberly! Ini semua salah lo. Lo yang udah buat gue mendapatkan perlakuan buruk dari Tommy. Tunggu kejutan dari gue," ucap Molly sembari tatapan matanya menatap kearah cermin.