THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Video Tommy Dan Kimberly



Kimberly dan Tommy sudah tiba di sekolahnya. Keduanya pergi ke sekolah bersama dengan menggunakan mobil milik Tommy karena Tommy datang ke rumah Kimberly dan menjemputnya.


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Tommy dan Kimberly sudah tiba di sekolahnya.


Sesampainya di sekolah, Tommy pun langsung memarkirkan mobilnya di parkiran tempat dia memarkirkan mobilnya.


Setelah mobilnya terparkir. Tommy dan Kimberly turun secara bersamaan.


Namun sebelumnya, Kimberly meminta kepada kekasihnya itu untuk tidak berurusan dengan Molly dan Sheela. Apalagi dengan keluarga dari kedua gadis itu.


Kimberly juga mengatakan kepada Tommy. Masalah tersebut biar menjadi urusan kedua orang tuanya dan kakak-kakaknya.


Tommy yang mendengar permintaan dari kekasihnya itu langsung mengiyakan permintaan kekasihnya itu. Tommy tahu alasan kenapa kekasihnya itu meminta hal itu padanya. Dan Tommy juga tahu sifat Kimberly seperti apa.


Setibanya diluar, Tommy dan Kimberly pun berpisah untuk menuju kelas masing-masing. Jika arah kelas Kimberly sebelah kanan, maka arah kelas Tommy sebelah kiri.


^^^


Asena Ravza sering dipanggil dengan Sena saat ini bersama dengan 4 teman-temannya yaitu Caria, Cherry, Elnara dan Aiyla berada di kelas. Mereka menunggu kedatangan Dilara, Jihan dan Tsamira.


Mereka akan pergi ke kantin bersama dengan Dilara, Jihan dan Tsamira.


"Sena, ada berita buruk buat lo!" teriak Jihan yang memasuki kelas dengan Lara dan Mira di belakang.


Mendengar teriakkan dari Jihan membuat teman-teman sekelasnya menutup telinganya masing-masing. Sementara Sena, Caria, Cherry, Nara dan Iyla langsung memberikan tatapan membunuh.


Jihan yang melihat tatapan membunuh dari Sena dan keempat teman-temannya hanya bersikap biasa saja.


"Nggak usah liatin gue sampai segitunya. Gue tahu kalau gue ini gadis yang sangat cantik. Bahkan kecantikan gue mengalahkan kecantikan lo," ucap Jihan dengan bangganya.


Seketika semua mata yang ada di dalam kelas tersebut terbelalak ketika mendengar ucapan dari Jihan. Bahkan ada yang tersenyum.


Entah itu senyuman tulus atau senyuman mengejek. Hanya pemilik senyuman itu yang tahu.


Jihan yang menyadari bahwa teman-teman sekelasnya tersenyum seketika memberikan pelototan.


"Ngapain kalian senyam-senyum. Mau gue kasih bogem, hah?!" teriak Jihan.


Seketika teman-teman sekelasnya itu langsung merubah ekspresi wajahnya menjadi normal.


Jihan kembali menatap wajah Sena sembari memperlihatkan layar ponselnya yang sudah ada videonya.


"Ini, lo lihat sendiri. Lo bakal nangis kejang-kejang. Bahkan lo bisa berubah menjadi Sena yang kejam."


Sena mengambil ponsel milik Jihan dan langsung melihat yang ada di layar ponselnya itu. Begitu juga dengan Caria dan yang lainnya.


Dan detik kemudian...


"Wah! Bocah itu minta dihajar nih! Berani sekali tuh bocah menggoda dan merayu Aryan," ucap Nara.


"Dia Kimberly anak 1 IPA 1!" sahut Cherry, Dilara dan Tsamira.


Cherry dan keempat temannya yaitu Jihan, Dilara dan Tsamira tidak tahu hubungan Kimberly dengan Aryan yang sebenarnya. Mereka hanya tahu bahwa kedekatan Kimberly dan Aryan hanya sebatas teman atau sahabat. Selama ini mereka tidak peduli akan semua teman-teman sekolahnya. Mau ngapain dan mau berbuat apa, mereka tidak peduli.


Jika Cherry, Jihan, Dilara dan Tsamira dalam keadaan hati yang baik, maka semuanya akan menjadi baik. Namun jika hati mereka buruk, maka semuanya akan menjadi buruk. Bahkan mereka akan berubah menjadi seorang monster yang kejam dengan membully teman-temannya jika temannya itu mencari masalah dengannya. Baik sengaja maupun tidak.


Untuk Asena, Caria, Elnara dan Aiyla Selama 7 bulan ini berada di luar negeri. Mereka sekolah disana.


Namun seketika mereka memutuskan kembali ke Jerman dan sekolah di Jerman. Keempatnya satu sekolah dengan Cherry, Jihan, Dilara dan Tsamira.


Kepulangan Asena, Caria, Elnara dan Aiyla ke Jerman itu karena mendapatkan video call dari Cherry, Jihan, Dilara dan Tsamira. Mereka mengatakan bahwa pujaan hati seorang Asena telah direbut oleh gadis lain.


Mendengar berita tersebut membuat Asena marah dan berakhir memutuskan pulang ke Jerman. Dan bersekolah di sekolah milik Ayahnya.


Sena mengepal kuat tangannya ketika melihat bagaimana kedekatan Aryan dan Kimberly.


"Bukan itu saja. Kimberly itu juga dekat dengan Tommy dan Billy kakak-kakak kelas kita yang tampan itu. Bahkan keempat sahabatnya kini tengah dekat dengan kak Billy, kak Lionel, kak Satya dan kak Henry!" ucap Mira.


Yah! Beberapa orang yang melihatnya Tommy dan Kimberly keluar dari dalam mobil dan berjalan meninggalkan parkiran adalah Tsamira dan Dilara. Bahkan keduanya juga merekam adegan itu. Hanya saja mereka tidak bisa mendengar apa yang dibicarakan oleh Tommy dan Kimberly.


"Awas aja lo. Lo sudah berani merebut orang yang gue suka. Berarti dengan kata lain, lo sudah mengibarkan bendera perang sama gue." Asena berbicara di dalam hatinya.


^^^


Kimberly sudah duduk cantik di kursinya di sebelah Santy. Begitu juga dengan keempat sahabatnya. Mereka mengobrol kecil saat ini sembari menunggu guru bahasa Inggris datang.


"Kim, bagaimana dengan masalah duo kunti itu dan kelima kacungnya?" tanya Rere.


Mendengar pertanyaan sekaligus ejekan dari Rere membuat Kimberly tersenyum. Mereka tahu siapa yang dimaksud oleh Rere duo kunti dan kelima kacung itu! Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya. Mereka sudah tahu apa yang terjadi dengan Syafina dan keempat teman-temannya.


"Untuk saat ini sudah beres. Tapi nggak tahu kalau nanti. Nggak usah dipikirin. Pusing tahu," pungkas Kimberly.


"Gue masih tidak percaya kalau Syafina dan keempat teman-temannya bekerja sama dengan si duo kunti itu," ucap Santy.


"Namanya juga manusia nggak ada otak. Ya, gitulah! Sampai kapan pun nggak akan pernah jera walau sudah berapa kali badannya itu kena pukul, kena banting sampai kena tonjok!" seru Sinthia.


Kimberly, Rere, Santy dan Catherine tersenyum ketika mendengar ucapan dari Sinthia. Begitu juga dengan yang teman-teman sekelasnya.


"Widih! Kejamnya tuh mulutmu sayangku," ucap Catherine sembari tersenyum.


"Bodoh!" Sinthia berucap dengan memperlihatkan wajah masa bodohnya.


"Hahahaha."


Kimberly, Rere, Santy dan Catherine tertawa. Begitu juga dengan teman-teman sekelasnya.


"Kimberly," panggil salah satu teman sekelasnya.


Mendengar panggilan dari teman sekelasnya, Kimberly langsung melihat kearah temannya itu. Begitu juga dengan Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


"Iya, ada apa?"


"Gue dengar dari beberapa murid-murid kalau anak pemilik sekolah ini baru kembali dari Amerika. Dan mereka akan sekolah disini."


"Memangnya anak pemilik sekolah itu ada orang?" tanya Rere.


"Satu. Namanya Asena Ravza. Dia bersama dengan tiga sahabatnya. Dengar-dengar juga nih. Asena itu punya sahabat 7 orang. Jika Asena dan ketiga teman-temannya itu sekolah di Amerika. Sementara yang tiga lagi tetap di Jerman. Alias sekolah disini."


"Terus kenapa mereka pindah kesini? Sudah enak di Amerika?" tanya Santy penasaran.


"Maaf ya Kim. Eemm... Gini! Aku dengar alasan mereka kembali adalah karena mereka dapat kabar dari tiga temannya yang sekolah disini. Ketiga teman-temannya itu bilang bahwa pujaan hatinya direbut sama cewek lain."


Mendengar perkataan dari teman sekelasnya itu membuat Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine terkejut.


"Siapa pujaan hati dari si nenek lampir itu?" tanya Sinthia.


"Aku juga nggak tahu sih. Tapi sepertinya mereka ngincar kak Tommy, kak Andhika, kak Billy, Aryan dan juga ngincar sahabatnya Aryan."


"Oh iya! Bahkan mereka tidak tahu. Dengan kata lain mereka belum mengetahui hubungan lo dengan Billy dan Aryan. Dan kemungkinan besar mereka berpikir lo perempuan yang nggak baik karena bisa dekat para kakak-kakak kelas, termasuk Aryan."


Mendengar perkataan serta penjelasan dari beberapa teman-teman sekelasnya membuat Kimberly seketika paham akan alur yang sedang dimainkan oleh mereka yang mengincar sepupu dan kekasihnya.


"Biarkan saja. Kita lihat apa yang akan mereka lakukan ketika bertemu denganku dan sahabat-sahabatku. Dan ada bagusnya karena mereka tidak tahu hubunganku dengan Aryan dan Billy. Dengan begitu aku bisa menambah bumbu didalamnya."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat mereka semua menganggukkan kepalanya tanda setuju. Bahkan mereka tidak berniat untuk memberitahu yang sebenarnya kepada Asena dan teman-temannya.


Ketika mereka sedang asyik mengobrol. Detik kemudian, guru bahasa Inggris pun datang.


"Good morning!"


"Good morning, teacher!"