THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Musibah Pertama Indira Di Kota Hamburg



Barra sedang dalam perjalanan menuju perusahaannya setelah pulang dari bertemu dengan dua rekan kerjanya. Barra menggunakan motor sport mewah menuju perusahaannya.


Barra mengendarai motor sportnya dengan kecepatan sedang. Jarak tempuhnya menuju perusahaannya sekitar satu setengah jam.


Ketika Bara sedang fokus mengendarai motor sportnya, tiba-tiba tatapan matanya tak sengaja melihat seorang wanita diganggu oleh beberapa laki-laki. Wanita itu tidak sendirian, melainkan bersama dengan seorang gadis. Barra meyakini bahwa gadis itu sepantaran dengan Valen, adik sepupunya.


Melihat kejadian itu membuat Bara seketika menghentikan laju motornya.


Barra menatap lekat kearah wanita tersebut. Di dalam hatinya Barra, dia mengenal wajah dari perempuan tersebut.


Dan detik kemudian...


Barra membelalakkan matanya ketika setelah ingin akan wajah wanita tersebut.


"Mama Indira!"


Barra kembali menghidupkan mesin motornya, lalu melajukan motornya kearah dimana beberapa laki-laki yang tengah mengganggu sang Bibi dan adik sepupunya.


Duagh..


Duagh..


Barra menendang para laki-laki itu ketika dia telah berada di dekat wanita tersebut.


Sementara wanita dan anak perempuannya itu ketika melihat salah satu pengendara motor yang tiba-tiba menyerang orang-orang yang mengganggunya dan putrinya langsung melangkah mundur.


Wanita itu berucap syukur kepada Tuhan karena telah mengirim orang baik untuk menolongnya. Saat ini wanita itu bersembunyi di belakang mobil sambil memeluk putrinya.


"Siapa kau? Pergi kau dari sini!" bentak sang pemimpin.


"Kalau aku masih ingin disini. Apa yang akan kau dan para anggota bodoh mu itu lakukan?" tanya Barra dengan kejamnya.


"Brengsek! Aku bilang, pergi!"


"Seharusnya kalian yang pergi dari sini. Jangan mengganggu wanita itu," jawab Barra tanpa membuka helmnya.


Mendengar perkataan kejam dari pemuda yang ada di hadapannya. Apalagi pemuda itu berani melawannya membuat sang pemimpin dan anak buahnya marah.


"Brengsek! Kalian semua, serang mereka dia!"


Dan pada akhirnya terjadilah perkelahian tak seimbang. Sepuluh laki-laki melawan satu orang.


Kesepuluh laki-laki itu begitu semangat menyerang Barra terlihat jelas kemarahan di wajah mereka.


Sementara wanita yang ditolong oleh Barra menatap dengan tatapan khawatirnya. Dia takut jika pemuda yang telah menolongnya itu terluka.


Tak butuh waktu lama, Barra akhirnya berhasil mengalahkan sepuluh laki-laki itu hingga membuat sepuluh laki-laki itu tak berdaya di tanah.


"Pergi kalian dari sini! Jika kalian masih memilih untuk tetap disini. Jangan salahkan aku. Aku akan menghubungi polisi! ucap dan ancam Barra.


Mendengar ucapan dan ancaman dari Barra membuat sepuluh laki-laki itu seketika ketakutan.


Kemudian sepuluh laki-laki itu langsung berdiri, walau merasakan sakit di seluruh tubuhnya.  Setelah itu, mereka semua pun pergi meninggalkan tempat itu.


Melihat kepergian sepuluh laki-laki itu, Barra langsung menghampiri sang bibi dan adik sepupunya itu bersamaan tangannya membuka helmnya yang masih menutupi kepala dan wajahnya.


Setelah itu, Barra tersenyum menatap wajah dua wanita di hadapannya.


"Mama Indira," sapa Barra.


Wanita yang dipanggil Mama oleh pemuda yang telah menolongnya seketika terkejut. Indira kenal suara itu, tapi sedikit lupa dengan pemilik suara tersebut.


Indira seketika melihat kearah suara orang yang memanggilnya Mama. Dan detik kemudian, Indira tersenyum lebar ketika mengetahui pemilik suara tersebut.


"Barra!" ucap Indira.


Indira berlari dan langsung memeluk tubuh keponakannya itu. Sementara untuk putrinya hanya berdiri di tempatnya. Gadis itu menatap kearah ibu dan pemuda yang telah menolongnya dan ibunya dengan tatapan bingung.


"Mama," panggil gadis itu.


Seketika Indira melepaskan pelukannya dari Barra. Lalu menatap kearah putri bungsunya.


"Kemarilah sayang."


Gadis itu pun melangkahkan kakinya mendekati ibunya dan berdiri di samping ibunya itu.


"Sayang, kenalkan! Ini kakak Barra. Kakak Barra ini putranya Bunda Clarita dan Ayah Ammar. Mila tahukan sama Bunda dan Ayah?" ucap dan tanya Indira kepada putri bungsunya.


"Iya, Ma! Bunda Clarita itu kakak sepupunya Mama kan? Mama punya empat saudara dan saudari sepupu yang tinggal di kota Hamburg. Maka dari itulah kenapa kakak Risma pergi ke kota Hamburg dan ninggalin aku."


Mila seketika cemberut ketika mengatakan hal itu. Dirinya sedih karena kakak satu-satunya pergi ke kota Hamburg dan memilih sekolah disana.


Indira seketika memeluk tubuh putrinya itu. Dirinya tahu bagaimana sayangnya putri bungsunya ini terhadap putri keduanya.


"Apa Mama terluka?" tanya Barra.


"Tidak, sayang! Mama baik-baik saja.  Terima kasih kamu sudah datang menolong Mama," ucap Indira.


"Mama yakin? Mereka tidak menyakiti Mama dan Mila kan?" tanya Barra masih belum yakin jika sang Bibi dan adik sepupunya itu baik-baik saja.


"Iya, sayang. Mama dan adikmu baik-baik saja. Kamu tidak perlu khawatir, oke!"


Mendengar perkataan serta wajah kesal Barra membuat Indira tersenyum.


"Iya, maafkan Mama tidak memberitahu kamu dan juga keluarga besar Aldama dan keluarga besar Fidelyo."


"Kali ini aku maafkan. Jangan diulangi lagi."


"Terus itu mobil Mama sendiri yang nyetir dari Berlin?" tanya Barra dengan menatap kearah mobil BMW di belakang Indira.


"Iya, sayang!" jawab Indira.


"Mama mau langsung kemana? Mau ke rumah Mommy atau ke rumah Bunda?" tanya Barra.


"Mama langsung ke rumah Mommy kamu aja. Nanti kamu kabar bunda kamu dan yang lainnya kalau Mama datang."


"Baiklah. Sekarang Mama dan Mila masuklah. Dan lanjutkan perjalanannya," ucap Barra.


"Terus kamunya mau kemana?"


"Aku mau ke perusahaanku. Aku pulang sekitar pukul 2 sore."


"Ach, baiklah."


"Sekarang masuklah. Aku akan pergi setelah Mama dan Mila benar-benar sudah pergi dari sini."


"Baiklah, sayang!"


Setelah itu, Indira dan Mila langsung masuk ke dalam mobilnya. Menghidupkan mesin mobilnya, lalu pergi meninggalkan lokasi tersebut.


Setelah melihat kepergian bibi dan adik sepupunya, Barra pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya menuju perusahaan miliknya.


***


Billy dan ketiga sepupunya yaitu Aryan, Triny dan Risma. Tommy bersama sepupunya Andhika beserta para sahabatnya sudah berada di kantin. Hanya Kimberly dan keempat sahabatnya yang belum datang.


"Kenapa cewek-cewek kita belum datang ya?!" seru Henry.


"Tunggu aja. Mungkin sebentar lagi," sahut Mirza.


"Apa lo udah kebelet minta dicium sama Rere ya," ledek Ivan.


"Apaan sih lo. Nyambar aja tuh mulut," sewot Henry.


Sementara yang lainnya hanya tersenyum mendengar ucapan dari Ivan dan melihat wajah kesal Henry.


Ketika mereka sedang membahas Kimberly dan keempat sahabatnya, tiba-tiba orang yang mereka tunggu akhirnya datang minus Kimberly.


"Eh, kok cuma berempat doang? Kimberly nggak bersama mereka!" seru Andry ketika melihat hanya Rere, Santy, Sinthia dan Catherine saja yang datang.


Kini Rere, Santy, Sinthia dan Catherine sudah duduk di kursi masing-masing.


"Cat, Kimberly mana? Kenapa tidak datang bersama kalian?" tanya Billy.


"Oh itu! Maafkan aku dan yang lainnya lupa kasih tahu kalian semuanya. Kimberly tadi dijemput sama wakilnya Om Fathir untuk dibawa ke perusahaan cabang."


"Loh kok bisa?" tanya Triny.


"Om Fathir menghubungi Kimberly dan meminta bantuan Kimberly untuk selama 5 hari gantiin Om Fathir di perusahaan cabang. Om Fathir sibuk di perusahaan utama sehingga tidak bisa pergi kemana-mana," jawab Rere.


"Kan ada kak Jason, kak Uggy, kak Enda dan kak Riyan!" sahut Aryan.


"Om Fathir bilang keempat putra-putranya itu juga sama dengan dia. Sibuk dengan perusahaan masing-masing. Maka dari itulah kenapa Om Fathir minta tolong sama Kimberly.


Seketika Billy menyadari sesuatu kenapa Daddy nya itu meminta bantuan Kimberly. Secara Kimberly ingin seperti Daddy nya. Dan juga Daddy nya itu ingin Kimberly belajar menjadi pemimpin sebelum menjadi pemimpin yang sebenarnya di perusahaan sendiri.


"Aku tahu maksud Daddy meminta bantuan Kimberly. Pertama, Kimberly ingin seperti Daddy dan keempat kakak-kakaknya. Dan kedua, Daddy ingin Kimberly belajar menjadi pemimpin sebelum nanti Kimberly menjadi pemimpin sesungguhnya di perusahaan dia sendiri!"


Mendengar perkataan dan penjelasan dari Billy membuat Aryan, Triny, Risma, Tommy, Andhika dan yang lainnya menganggukkan kepalanya tanda setuju. Seketika mereka semua tersenyum bangga akan kepintaran Kimberly.


"Aku yakin Kimberly bisa memimpin perusahaan cabang ayahnya itu dengan baik. Secara Kimberly itu pintar. Daya ingatnya sangat kuat. Sekali belajar saja, Kimberly sudah langsung bisa memahami semuanya." Triny berucap sembari mengingat ketika belajar bersama dengan Kimberly di rumah Kimberly.


"Aku pernah melihat Kimberly sedang belajar cara berbisnis dengan kak Jason dan kak Uggy ketika aku menginap di rumah Kimberly. Kimberly begitu antusias ketika memperlajari seputar bisnis bersama dengan kedua kakaknya itu. Terlihat dari wajahnya," ucap Aryan.


"Jika nanti aku nikah dengan Kimberly. Aku tidak akan melarang Kimberly untuk bekerja. Asal Kimberly bisa membagi waktunya," sahut Tommy tiba-tiba.


Mendengar perkataan tiba-tiba dari Tommy membuat semuanya menatap kearah Tommy. Mereka semua tersenyum ketika menatap wajah serius Tommy.


Tiba-tiba Andhika mengusap wajah Tommy sehingga membuat Tommy tersadar.


"Anda terlalu cepat memikirkan hal itu Bos!" ledek Andhika.


"Masih lama itu Bos. Nggak usah buru-buru," ucap Lionel tersenyum.


"Lo aja masih kelas 3. Kimberly kelas 1. Masih butuh 3 tahun lagi. Ditambah lagi kalau Kimberly memutuskan untuk kuliah. Jadi lupakan dulu masalah nikah!" seru Nathan.


Mendengar perkataan dari sahabat dan sepupunya membuat Tommy mendengus kesal.


"Otak kalian itu terlalu tumpul dan perlu diasah lebih baik lagi biar paham apa yang dikatakan oleh orang itu. Gue tadi bilang jika nanti gue nikah sama Kimberly. Bukan ingin nikahi Kimberly cepat-cepat. Bodoh kok dipelihara," ucap Tommy dengan kejamnya.


"Hahahahaha." Semuanya tertawa ketika mendengar ucapan kejam dari Tommy. Sementara Andhika, Nathan dan Lionel mengumpat kesal akan perkataan Tommy.