THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Imbalannya Apa?



Kimberly saat ini berada di kantin bersama dengan keempat sahabatnya. Mereka tengah menikmati makanan dan minuman yang sudah mereka pesan beberapa menit yang lalu.


Ketika Kimberly dan keempat sahabatnya tengah menikmati makanannya, tiba-tiba terdengar suara beberapa yang dikenal.


"Ngapain lo disini?!"


"Bolos lo ya?!"


"Udah berani sekarang?!"


Ya! Yang berbicara sembari berteriak itu adalah Billy, Triny dan Aryan. Kini ketiganya tengah menatap tajam kearah Kimberly.


Sementara Kimberly yang mendengar ucapan demi ucapan disertai teriakan dari tiga sepupunya seketika mendengus kesal.


"Biasa aja kali. Dan tuh muka." Kimberly melirik sekilas kearah Triny, Aryan dan Billy yang masih berdiri dengan tatapan matanya menatap dirinya. "Bisa nggak dinormalisasikan? Bukannya seram. Justru menjijikkan," ucap Kimberly seenaknya.


Mendengar perkataan kejam dari Kimberly seketika Billy, Triny dan Aryan menormalkan kembali wajahnya selembut mungkin.


Setelah itu, ketiganya langsung menduduki pantatnya di bangku yang kosong.


Di kantin tersebut hanya ada mereka saja. Sementara para murid-murid yang lain ada di kelas.


"Kalian udah selesai rapat OSIS nya?" tanya Kimberly berpura-pura tidak tahu.


"Boro-boro rapat selesai. Dimulai aja belum," jawab Aryan.


"Kenapa? Ada masalah?" tanya Kimberly.


Tanpa menjawab pertanyaan dari Kimberly. Triny mengeluarkan ponselnya. Mencari video yang sempat direkamnya di ruang OSIS.


Setelah mendapatkan apa yang dicarinya, Triny kemudian memberikan ponselnya itu kepada Kimberly.


"Ini."


Kimberly seketika terkejut ketika Triny memberikan ponsel miliknya kepada dirinya.


"Buat gue? Wah! Terima ka...."


"Gue bukan ngasih ke lo dodol," kesal Triny.


"Lah terus apa? Ngapain lo ngasih ponsel buntut lo ke gue?" tanya Kimberly ngegas.


"Buntut pala lo. Ponsel gue ini mahal tahu," sahut Triny yang tak kalah ngegas membalas perkataan Kimberly.


"Sok lo!"


Mendengar perang mulut antara Kimberly dan Triny membuat Billy, Aryan dan keempat sahabatnya Kimberly tersenyum dan geleng-geleng kepala.


Setelah itu, Kimberly melihat ke layar ponsel milik Triny. Dapat dilihat oleh Kimberly bentuk ruangan OSIS seperti kapal pecah yang habis kena tsunami dahsyat. Semua barang-barang dan kertas berserakan di lantai.


"Busyet dah! Ini ruangan OSIS apa gudang sampah?!"


Mendengar seruan dari Kimberly. Rere, Santy dan Sinthia langsung mendekati Kimberly kecuali Catherine yang kebetulan duduk di samping Kimberly.


Setelah itu, mereka melihat kearah layar ponsel milik Triny.


"Lebih mirip gudang sampah!" seru Santy dan Sinthia bersamaan. Setelah itu kembali ke tempat duduknya.


"Sudah berapa lama tuh ruang OSIS tidak pernah dibersihkan?" tanya Rere mengejek.


Sedangkan Catherine hanya diam sembari tersenyum menatap wajah Triny, Aryan dan kekasihnya.


Sementara Billy, Triny dan Aryan menatap kesal kearah Rere. Mereka tidak terima dikatakan tidak pernah membersihkan ruang OSIS.


"Enak banget ya kalau ngomong," ucap Triny kesal.


"Lah tinggal ngomong doang apa susahnya," balas Rere sambil memasukkan sepotong kentang goreng ke mulutnya.


Ketika Triny ingin membalas perkataan Rere. Billy dan Aryan sudah bertindak duluan.


"Ngapain lo nyuruh kita kemari?" tanya Billy dan Aryan bersamaan.


"Gue nggak nyuruh lo, pret! Tapi gue nyuruh tuh orang," jawab Kimberly sembari memonyongkan bibirnya kearah Billy.


Aryan seketika menggeram kesal akan perkataan dari Kimberly. Bisa-bisanya Kimberly berbicara seperti itu padanya.


"Dasar siluman rubah lo," ejek Aryan.


Kimberly tidak memperdulikan perkataan dan ejekan dari Aryan. Justru saat ini Kimberly menatap wajah tampan kakak sepupunya itu.


"Apa?" tanya Billy yang paham akan tatapan mata Kimberly.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly ketika mendengar ucapan dari Billy.


"Tahu aja lo."


Kimberly menggeram kesal ketika mendengar ucapan tak mengenakkan dari Aryan. Kemudian Kimberly menatap kearah Aryan.


Ketika Kimberly ingin membalas perkataan dari Aryan. Billy langsung berdehem keras.


"Eheemm!"


Kimberly kembali mengatub bibirnya dan kembali menatap kearah Billy. Sedangkan Aryan tersenyum geli melihat wajah kesal sekaligus wajah patuh Kimberly. Begitu juga dengan Triny dan keempat sahabatnya.


"Kamu mau ngomong apa?" Billy berbicara dengan lembut tanpa menggunakan kata 'Lo'.


"Eeemm... Kalau misalkan aku tahu siapa orang yang sudah membuat ruang OSIS menjadi seperti kandang kambing. Imbalan apa yang akan kakak Billy berikan untukku?" tanya Kimberly dengan menampilkan senyuman termanisnya di hadapan Billy.


"Keluar deh sifat matrenya," ledek Triny.


Kimberly seketika mendengus ketika mendengar ucapan dari Triny. Kimberly menatap wajah Triny dengan tatapan menantangnya.


"Hei, anda jangan asal menuduh saya nona Triny. Itu fitnah namanya," ucap Kimberly dengan berbicara formal.


Kimberly kembali menatap wajah tampan Billy yang juga masih menatap dirinya.


"Bagaimana kakak Billy ku yang tampan?" tanya Kimberly.


"Jika ada maunya baru manggil kakak," ledek Aryan.


"Yak! Bisa tidak kalian berdua tidak menggangu pembicaraanku dengan Billy. Kalian benar-benar ya!" teriak Kimberly kesal dengan menatap wajah Aryan dan Triny bergantian.


"Hahahahaha!"


Seketika tawa Triny dan Aryan pecah. Keduanya tertawa keras mendengar perkataan dan melihat wajah super kesal Kimberly.


"Memangnya kamu tahu siapa orang yang sudah membuat ruang OSIS seperti kandang kambing?" tanya Billy.


"Tahu."


"Siapa? Berapa orang?"


"Imbalannya apa dulu? Mereka ada dua," jawab dan tanya Kimberly.


"Apa yang kamu mau?" tanya Billy.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly. Tatapan matanya menatap lekat di manik coklat Billy.


"Boleh?"


"Tentu! Katakan."


"Eeemm... Aku sama keempat sahabat aku mau pergi jalan-jalan ke Mall, tapi kakak Billy yang bayar."


"Tak masalah."


Setelah mengatakan itu, Billy mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. Dan setelah itu, Billy mengeluarkan satu dari enam kartu kredit miliknya lalu memberikannya kepada Kimberly.


"Gunakan ini. Kamu dan keempat sahabat kamu boleh sepuasnya belanja."


Wajah Kimberly seketika berubah berbinar ketika Billy kakak sepupunya itu langsung memberikan kartu kredit miliknya padanya. Padahal dirinya memiliki delapan kartu kredit. Dan semua kartu kredit miliknya itu berisi nominal yang begitu besar.


"Terima kasih kakak Billy ku yang tampan dan baik hati," ucap Kimberly sembari mencium kartu tersebut.


Mereka yang melihat kebahagiaan dan senyuman manis di bibir Kimberly hanya bisa tersenyum. Mereka semua bahagia melihat Kimberly yang bahagia dan juga ceria.


"Sekarang katakan. Siapa orang yang sudah membuat ruang OSIS menjadi kandang kambing?" tanya Billy wajah serius.


Seketika Kimberly terkejut ketika mendengar pertanyaan dari Billy. Lalu matanya menatap kearah Billy yang menatap dirinya dengan mode serius.


"Baiklah. Yang sudah membuat ruang OSIS tidak berbentuk lagi. Sudah mirip seperti gudang adalah Molly dan Sheela. Mereka yang melakukannya."


Mendengar pengakuan dari Kimberly membuat Billy marah. Begitu juga dengan Aryan dan Triny.


"Untuk lebih jelasnya. Kalian lihat ini." Kimberly memperlihatkan rekaman obrolan Molly dan Sheela ketika berada di belakang sekolah.


Baik Billy maupun Triny dan Aryan langsung melihat ke layar ponsel milik Kimberly.


Beberapa detik kemudian..


"Baiklah Kimberly. Dikarenakan masalah ini sudah selesai. Sekarang kamu dan sahabat-sahabat kamu termasuk kamu sayang." Billy melirik kearah Catherine kekasihnya. "Kembali ke kelas. Aku tidak mau melihat kalian berkeliaran seperti hantu di luar kelas," ucap Billy dengan penuh penekanan.


"Terutama untuk kamu anak kelinci!" ucap Triny dengan seenaknya.


Kimberly hanya bisa pasrah dan menurut apa yang dikatakan oleh Billy dan Triny.


Setelah menghabiskan makanannya, Kimberly dan keempat sahabatnya langsung kembali ke kelasnya.


Sementara Billy, Triny dan Aryan mencari Molly dan Sheela untuk membuat perhitungan.