
Keesokan paginya suasana di sekolah tampak ramai dimana para murid-murid berlalu lalang di sekitar sekolah. Ada yang baru datang, ada yang berjalan menuju kantin dan ada juga yang berjalan menuju kelas masing-masing. Begitu juga dengan Kimberly dan keempat sahabatnya.
"Kalian duluan aja ke kelas. Aku mau ke toilet sebentar," ucap Kimberly.
"Baiklah," jawab Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.
Setelah itu, Kimberly melangkah menuju toilet. Sementara keempat sahabatnya langsung menuju ke kelas.
^^^
Tommy baru selesai dengan urusannya di toilet. Kini Tommy tengah melangkahkan kakinya menyusuri koridor untuk menuju kelasnya.
Namun seketika langkah kakinya terhenti ketika melihat seorang gadis berdiri tepat di hadapannya.
"Mau apa?" tanya Tommy ketus, dingin dan tajam.
Melihat tatapan tajam dan nada ketus dari Tommy membuat gadis tersebut hanya tersenyum menanggapinya. Dirinya sama sekali tidak tersinggung.
"Aku kesini ingin memperlihatkan sesuatu padamu, Tommy!" seru gadis itu.
"Aku nggak minat sama sekali apa yang akan kau perlihatkan padaku," ucap Tommy.
Setelah itu, Tommy pergi meninggalkan gadis itu. Namun langkahnya terhenti karena gadis itu dengan lancang mencekal pergelangan tangannya.
"Kamu harus lihat ini dulu. Setelah itu, aku tidak akan mengganggumu. Dan aku yakin kamu akan berterima kasih kepadaku atas apa yang kau lihat," ucap gadis itu.
Tommy tidak menunjukkan reaksi apapun di depan gadis itu. Justru Tommy memberikan tatapan tajam kepadanya.
Melihat keterdiaman Tommy dan tatapan mata Tommy membuat gadis itu berpikir bahwa dirinya berhasil membuat Tommy menurut.
Setelah itu, gadis itu memperlihatkan sebuah foto yang ada di ponselnya kepada Tommy.
"Ini, lihatlah."
Tommy melihat kearah layar ponsel milik gadis itu. Dan dapat dilihat oleh Tommy dilayar ponsel gadis itu terpampang foto Kimberly bersama dua orang laki-laki.
Tommy tersenyum lalu tatapan matanya menatap jijik kearah gadis yang ada di hadapannya.
"Foto yang bagus," batin Tommy tersenyum.
Setelah mengatakan itu, Tommy menarik tangannya dan langsung pergi meninggalkan gadis itu.
Sementara gadis itu tersenyum kemenangan. Gadis itu berpikir bahwa dirinya sudah berhasil mencuci pikiran Tommy.
Gadis yang menghalangi Tommy dan menunjukkan foto Kimberly dengan dua laki-laki kepada Tommy adalah Gracia Aditya.
"Tunggu kejutan dariku Kimberly," batin Gracia tersenyum penuh arti.
***
Bugh!
Duagh!
"Aakkhh!" teriak laki-laki yang menjadi korban pukulan dan tendangan.
Terdengar suara pukulan dan tendangan dari sebuah ruangan yang luas. Ruangan tersebut bisa dibilang sebagai penjara untuk orang-orang yang berkhianat.
"Berani sekali kau melakukan itu padaku! Apa kesalahanku padamu sehingga kau tega berbuat hal keji itu?!"
Duagh!
Gedebug!
Bruk!
Tubuh laki-laki itu membentur dinding dengan sangat keras dan berakhir jatuh menghantam lantai sehingga laki-laki itu memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Laki-laki yang memberikan pukulan dan tendangan itu adalah Fathan Fidelyo.
Flashback On
Fathan saat ini sedang berada diluar bersama dengan lima anak buahnya minus tangan kanannya yang biasa selalu menemani kemana pun dirinya pergi.
Fathan sedang bersama dengan dua rekan kerjanya di sebuah cafe ternama di Jerman. Baik Fathan maupun dua rekan kerja tersebut tengah membahas perkembangan proyek yang sedang mereka kerjakan.
"Sudah berjalan tiga bulan proyek pembangunan Mall Royal Garden dikerjakan," ucap Harris CEO dari perusahaan HR'Ris CORP.
"Iya, benar! Saya tidak sabar melihat hasil Mall itu setelah selesai dibangun," sela Ditmar CEO dari perusahaan D'Mar CORP."
Sedangkan Fathan hanya tersenyum mendengar perkataan dari dua rekan kerjanya. Tak jauh beda dengan dua rekan kerjanya itu. Fathan juga merasakan hal yang sama seperti kedua rekan kerjanya.
Setelah beberapa jam membahas kerja sama proyek mereka. Fathan dan kedua rekan kerjanya memutuskan untuk mengakhiri pembahasan tersebut.
Setelah itu, kedua rekan kerjanya itu langsung pamit undur untuk kembali ke perusahaan masing-masing.
"Hallo, Rommy."
"Hallo, Bos! Buruan Bos datang kemari! Saya akan kirim alamatnya di pesan WhatsApp."
"Baiklah."
Setelah itu, Fathan langsung mematikan panggilannya. Dan bertepatan itu, ponselnya kembali berbunyi menandakan sebuah pesan WhatsApp Messenger.
Fathan langsung membuka pesan tersebut lalu membacanya. Setelah membaca isi dari pesan itu, Fathan langsung pergi meninggalkan Cafe untuk menuju alamat yang dikirimkan oleh Rommy tangan kanannya.
***
Tak butuh lama, Fathan tiba di alamat tersebut dan kedatangannya langsung disambut oleh Rommy.
"Bos."
"Ada apa?"
"Mari ikut saya Bos. Bos bisa lihat dan dengar sendiri."
Setelah itu, Rommy pergi melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan dan diikuti oleh Fathan di sampingnya.
Di ruangan itu Rommy sudah menyediakan sebuah laptop. Di layar laptop itu terlihat sebuah video atau lebih tepatnya sebuah rekaman langsung.
"Mari Bos!"
Fathan duduk di salah satu kursi yang sudah disediakan oleh Rommy.
"Ini Bos. Lihatlah sendiri," ucap Rommy memperlihatkan layar laptop kepada Fathan.
[Bagaimana? Apa rencana kalian berhasil untuk menculik adik perempuannya Fathan]
[Kami gagal Bos. Adik perempuan dari tuan Fathan dijaga ketat. Kemana-mana adik perempuannya itu selalu dikawal]
[Lalu bagaimana dengan Rici? Apa dia masih menjadi sopir pribadi dari adiknya?]
[Informasi yang saya dapatkan. Rici masih menjadi sopir pribadi adik perempuan tuan Fathan. Hanya saja Rici sekarang berada di kampung urusan keluarga. Jadi yang menjadi sopir pribadi adik perempuan tuan Fathan orang lain]
[Jangan sampai masalah ini terbongkar terutama Fathan]
[Baik, Bos]
[Terus apa yang harus kita lakukan sekarang, Bos?]
[Tetap rencana semula. Kau ingin adik perempuannya Fathan. Dengan aku mendapatkan adik perempuannya itu. Aku bisa menghancurkan Fathan melalui adik perempuannya itu. Aku benar-benar benci terhadap Fathan. Persahabatan ini hanya sebagai topeng saja agar perbuatanku tidak diketahui]
Fathan mengepalkan kedua tangannya ketika mendengar ucapan demi ucapan laki-laki yang selama ini dirinya anggap sahabat bersama tangan kanannya mengepalkan tangannya dengan kuat. Dirinya benar-benar marah atas apa yang dilakukan oleh laki-laki itu terhadap adik perempuannya.
"Jadi kau dalang dalam aksi yang hendak menculik adik perempuanku beberapa minggu yang lalu," ucap Fathan.
"Tunggu pembalasanku, Morris Adelmund!"
Flashback Off
Fathan menatap nyalang kearah Morris yang saat ini sudah tidak berdaya akibat pukulan dan tendangan dari Fathan.
"Kau benar-benar menjijikkan Morris. Aku tidak tahu apa alasanmu sampai tega melakukan hal keji ini!" teriak Fathan.
"Jika kau marah padaku. Jika kau memiliki dendam padaku. Kenapa kau tidak langsung menyerangku? Kenapa harus adik perempuanku yang kau jadikan sasaran? Dia tidak salah dalam hal ini!" teriak Fathan lagi.
Fathan berjongkok di hadapan Morris yang saat ini dalam posisi bersandar di dinding.
"Selama 8 tahun aku mengenalmu. Aku tulus bersahabat denganmu. Kau bukan hanya sahabatku. Justru kau adalah saudaraku. Aku selalu ada disaat kau dan keluargamu mengalami kesulitan. Tapi apa balasan yang aku dapatkan. Kau membalas semua kebaikanku dengan mengkhianatiku. Dan lebih parahnya, kau berani menyakiti adik perempuanku."
Fathan berucap dengan penuh amarah di hadapan Morris. Dan jangan lupa tatapan matanya yang menajam menatap Morris.
Sementara untuk Morris, laki-laki itu hanya diam tanpa mengeluarkan suara sama sekali.
"Aku tidak akan memaafkan kesalahanmu, Morris! Apa yang kau lakukan ini sudah diluar batas. Aku akan membalas dengan menyentuh keluargamu. Sama halnya yang kau lakukan kepada adik perempuanku!"
Mendengar perkataan sekaligus ancaman dari Fathan membuat Morris seketika terkejut. Dirinya tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keluarganya.
"Jangan sentuh keluargaku," ucap Morris.
"Kenapa? Kau takut? Bukankah ini yang kau inginkan? Kau saja berani mengusik adik perempuanku. Kenapa kau melarangku untuk mengusik keluargamu?"
Setelah mengatakan itu, Fathan langsung berdiri dari posisi jongkoknya.
Fathan memberikan perintah kepada anak buahnya untuk mengingat tubuh Morris dengan menggunakan rantai sehingga Morris tidak bisa melepaskan diri.
Selesai dengan urusannya dengan Morris. Fathan memutuskan untuk pulang ke rumah. Setibanya di rumah, Fathan akan menceritakan tentang Morris kepada anggota keluarganya.