THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Bersatu Kembali



Mendengar teriakkan dari keempat sahabatnya seketika Sinthia langsung melepaskan pelukannya dari sang kakak. Sinthia melihat kearah dimana keempat sahabatnya berdiri dengan tersenyum manis menatap dirinya.


"Kimberly, Rere, Santy, Catherine. Ka-kalian!" ucap Sinthia dengan suara bergetarnya. Dan tatapan matanya menatap kearah kue besar di tangan Santy.


Mendengar sapaan dan suara bergetar Sinthia. Mereka hanya tersenyum.


Azzo membantu adik perempuannya untuk berdiri. Setelah dirinya dan adik perempuannya berdiri, Azzo menghapus air mata adiknya itu. Bahkan Azzo merapikan rambut panjang sebahu adiknya itu yang berantakan.


"Sekarang sudah cantik," ucap Azzo.


"Kakak, jadi ini semua?"


"Iya, sayang!" Azzo menjawab pertanyaan adik perempuannya dengan tersenyum. "Coba kamu lihat kesana!" Azzo berucap sambil menunjuk kearah dimana kedua orang tuanya, adik laki-lakinya dan para sahabat dari kekasihnya.


Seketika Sinthia langsung melihat arah tunjuk kakaknya. Dan dapat dilihat oleh Sinthia disana berdiri kedua orang tuanya, kakak laki-laki keduanya dan para sahabat dari mantan kekasihnya yang saat ini tengah tersenyum menatap kearah dirinya.


Setelah itu, Sinthia menatap kearah kakak tertuanya. Sinthia kembali menangis.


"Ini semua ide dari keempat sahabat kamu. Mereka ingin memberikan kejutan ulang tahun padamu."


Mendengar perkataan dari kakaknya. Sinthia melepaskan pelukannya lalu menatap kearah keempat sahabatnya.


Kimberly berlahan melangkah mendekati Sinthia dan diikuti oleh Rere, Santy dan Catherine. Serta diikuti oleh kedua orang tuanya, kakak keduanya dan para sahabat dari mantan kekasihnya.


"Happy Birthday, Sinthia sayang!" ucap Santy yang sedang membawa kue ulang tahun.


"Selamat ulang tahun ya!" ucap Kimberly dan langsung memeluk tubuh Sinthia.


"Hiks... Kim," isak Sinthia di pelukan Kimberly.


Setelah itu, Kimberly melepaskan pelukannya dan menatap wajah cantik Sinthia yang basah karena air matanya.


"Selamat ulang tahun yang ke 18 tahun sayang. Maafkan Mama yang beberapa hari ini tidak ada di samping kamu."


Celia berucap sambil memberikan ciuman di kening dan di kedua pipi putri bungsunya.


"Mama." Sinthia memeluk tubuh ibunya erat. Sinthia benar-benar merindukan pelukan ibunya lima hari ini.


"Selamat ulang tahun untuk putri Papi yang cantik," ucap Arvon sembari membelai lembut kepala belakang putrinya.


Mendengar ucapan selamat ulang tahun dari ayahnya. Sinthia langsung melepaskan pelukan dari ibunya. Lalu Sinthia memeluk tubuh ayahnya yang juga dia rindukan selama lima hari ini.


"Selamat ulang tahun untuk adik perempuan kakak yang paling cantik," ucap Izak.


Sinthia melepaskan pelukannya dari ayahnya lalu beralih memeluk tubuh kakak keduanya itu.


"Kakak."


"Maafkan kakak yang ninggalin kamu beberapa hari ini ya."


"Aku udah maafin kakak. Begitu juga dengan kakak Azzo, Mami dan Papi!"


Izak melepaskan pelukannya lalu menatap wajah cantik adik perempuannya. Kemudian Izak memberikan ciuman di kening sang adik.


"Selamat ulang tahun, Sinthia!" Billy, Tommy, Andhika dan para sahabatnya.


Dan tak lupa Ivan, Mirza, Andry dan Nathan. Mereka langsung membuka penutup wajahnya sehingga membuat Sinthia terkejut. Dan dirinya sekarang tahu jika orang-orang yang telah menculiknya adalah sahabat dari mantan kekasihnya.


"Sekarang kamu tiup lilinnya. Sebelum itu, kamu berdoa dulu."


Mendengar perkataan dari kakak keduanya. Sinthia langsung menutup matanya dan meminta sesuatu kepada Tuhan.


Setelah selesai, Sinthia membuka kedua matanya. Dan Sinthia pun meniup lilin yang menyala di atas kue tart tersebut. Lilin itu dihidupkan setelah Izak meminta Sinthia untuk meniup lilin.


"Maafin aku ya, Sin! Hari kemarin sama beberapa jam yang lalu kami sudah membuat kamu sedih. Tapi itu semua cuma sandiwara kok. Kami cuma pingin ngerjain kamu sebelum ultah kamu," ucap Kimberly merasa bersalah.


"Maafin aku juga ya," ucap Rere menambahkan.


"Kita semua sayang sama kamu," ucap Santy dan Catherine bersamaan.


Mendengar permintaan maaf dari sahabat-sahabatnya membuat Sinthia seketika tersenyum. Dirinya tidak marah terhadap keempat sahabatnya itu. Justru dirinya bahagia dan bersyukur memiliki mereka dalam hidupnya.


"Aku tidak marah sama kalian. Justru aku sedih ketika untuk pertama kalinya kalian nggak ada untukku ketika aku lagi sedih. Dan bahkan kalian tidak mau menginap di rumahku." Sinthia berucap sambil menatap satu persatu wajah keempat sahabatnya.


"Bahkan aku sama sekali kalau hari ini aku ulang tahun. Terima kasih ya atas kejutannya," ucap Sinthia.


"Ada satu kejutan lagi untukmu sahabatku sayang," ucap Kimberly sembari tersenyum manis menatap Sinthia.


"Apa itu, Kim?" tanya Sinthia penasaran.


Kimberly merangkul bahu Sinthia lalu memutar tubuh Sinthia kearah dimana Sinthia dibawa masuk oleh Ivan, Nathan, Andry dan Mirza.


"Coba lihat kesana!" seru Kimberly sambil menunjuk kearah pintu masuk.


Sinthia pun langsung melihat kearah tunjuk Kimberly yang mana mengarah kearah pintu masuk.


Dan beberapa detik kemudian, masuklah seorang pemuda tampan berjalan memasuki gedung dimana Sinthia dan yang lainnya berada.


Seketika air mata Sinthia mengalir membasahi wajah cantiknya ketika melihat laki-laki yang begitu dicintainya yang berstatus mantannya saat ini.


Laki-laki yang dilihat oleh Sinthia adalah Satya yang kini tengah melangkahkan kakinya menghampiri dirinya.


Kini Satya sudah berdiri di hadapannya dengan tatapan mata masih menatap wajah cantiknya.


"Selamat ulang tahun ya," ucap Satya.


Sementara Sinthia hanya diam di tempat. Dirinya tidak tahu harus bersikap seperti apa di hadapan Satya.


Melihat Sinthia yang hanya diam membuat semuanya tersenyum. Mereka tahu bahwa saat ini Sinthia bingung harus bersikap bagaimana di hadapan Satya. Secara menurut Sinthia, dirinya sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi dengan Satya.


Kimberly seketika mengusap-usap lembut punggung Sinthia. Dirinya tahu bahwa sahabatnya saat ini menaruh rasa rindu terhadap laki-laki yang berdiri di hadapannya.


Namun sahabatnya ini tidak tahu apa yang harus dilakukan. Sahabatnya ini benar-benar dilandas kebingungan.


"Apa yang terjadi sama lo dan kak Satya, itu semua aku dan yang lainnya yang ngatur. Ucapan putus dari kak Satya itu hanya satu ide untuk memberikan kejutan ulang tahun untuk lo. Itu bohongan."


Mendengar perkataan dari Kimberly seketika Sinthia langsung melihat kearah Kimberly yang ada di sampingnya.


"Kim," lirih Sinthia.


Kimberly menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya tidak sedang berbohong.


Rere, Santy dan Catherine mendekati Sinthia lalu ketiganya sama-sama menepuk bahu Sinthia pelan.


"Apa yang dikatakan oleh Kimberly benar, Sin? Kamu sama kak Satya masih resmi sepasang kekasih. Kalian tidak benar-benar putus. Lebih tepatnya, kak Satya tidak benar-benar mutusin lo. Ini rencana kita semua!" ucap Catherine menjelaskan semuanya kepada Sinthia.


"Awalnya kak Satya nggak mau melakukan ide gila ini. Tuh!" ucap Rere menatap kearah Kimberly dengan dagunya. Sinthia langsung melihat kearah Kimberly. "Sahabat kelinci lo itu yang sebagai biang keroknya," sahut Rere dengan kejamnya.


Mendengar perkataan kejam dari Rere membuat Kimberly mendengus. Dan jangan lupa, tatapan matanya yang membesar menatap kearah Rere.


Sementara Sinthia tersenyum mendengar perkataan Rere dan melihat wajah kesal Kimberly akan perkataan kejam dari Rere.


Setelah itu, Sinthia menatap wajah tampan Satya yang saat ini masih menatap wajahnya.


"Kak Sat....."


Perkataan Sinthia terpotong karena Satya langsung memeluk tubuhnya erat. Dirinya benar-benar merindukan gadisnya.


"Maafkan aku yang sudah membuatmu sedih beberapa hari ini. Ini semua gara-gara sahabat kelinci kamu itu. Jika kamu ingin marah. Marah saja sama sahabat kamu itu."


Sinthia tersenyum lalu membalas pelukan Satya. Sementara Kimberly seketika memberikan tatapan tajamnya kearah Satya.


"Kakak Satya!" teriak Kimberly melengking.


Satya langsung melepaskan pelukannya dan menatap kearah Kimberly yang saat ini menatap tajam dirinya.


Satya seketika menelan kasar air ludahnya ketika melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Kimberly padanya.


"Hehehehe. Ampun kanjeng ratu," ucap Satya sambil melipat kedua tangannya di hadapan Kimberly.


"Hahahahaha."


Seketika semuanya tertawa keras ketika melihat ketakutan di wajah Satya dan wajah kesal Kimberly.


Dan pada akhirnya, hubungan Sinthia dan Satya kembali seperti biasanya sehingga keduanya melepaskan rasa rindu untuk beberapa hari ini.


Kedua orang tua dan kedua kakak laki-lakinya ikut merasakan kebahagiaan ketika melihat kesayangannya bisa bersama lagi dengan pujaan hatinya.