
Kimberly, Tommy, ketiga sepupunya dan para sahabat-sahabat mereka saat ini berada di Kantin. Mereka tidak duduk bersama.
Kimberly dan keempat sahabatnya duduk di meja barisan kedua dan berada di tengah-tengah. Triny dan keempat sahabatnya duduk di bangku barisan pertama dan juga di posisi tengah
Sementara Billy, Tommy dan yang lainnya berada di meja barisan ketiga dan berada di tengah-tengah.
Baik Kimberly maupun yang lainnya makan dengan tenang. Sesekali mereka bersenda gurau bersama sehingga menimbulkan tawa mereka.
Ketika mereka tengah menikmati makan siangnya, tiba-tiba datang para pengganggu. Mereka adalah kelompoknya Syafina dan kelompoknya Talitha.
Kelompok Syafina membawa anggota baru. Anggota baru berjumlah lima orang. Jadi jumlah mereka sekarang menjadi sepuluh. Anggota baru Syafina itu dari kelas XC.
Kelompok Syafina menghampiri meja Kimberly. Sementara kelompok Talitha menghampiri meja Tommy dan Billy. Mereka langsung duduk di samping orang yang mereka sukai.
"Wah! Lagi makan enak, nih!" seru Enzi ketika melihat Kimberly dan ke sahabatnya.
"Waw, Kimberly! Aku salut padamu. Sebenarnya tujuanmu sekolah disini itu buat belajar atau tebar pesona? Banyak banget cowok-cowok yang dekatin kamu." Syafina berbicara dengan nada mengejek.
"Kamu pakai pelet apa sih, Kim? Kasih tahu dong biar mereka-mereka juga bisa mengejar-ngejar kita," ucap Jennie.
"Woi, Jennie! Kimberly gak perlu pake apa-apa. Kimberly cantiknya murni luar dalam. Mereka-mereka aja yang matanya jelalatan ngejar-ngejar Kimberly," sahut Santy.
"Diam lo. Jangan ikut campur!" bentak Jennie.
"Euo. Bukan mau ikut campur kali. Gue punya telinga. Jadi wajar kalau gue ngejawab. Lagian situ kan ngomong sama sahabat gue. Jadi gue berhak ngebelain," jawab Santy.
"Brengsek. Berani lo sama gue!" bentak Jennie.
"Emang lo siapa? Kenapa gue harus takut," jawab Santy santai.
Jennie menatap tajam Santy. Dan detik kemudian, Jennie mengangkat tangannya hendak nampar Santy.
Namun...
SREETT!
"Santai, bu! Gak perlu menggunakan kekerasan disini." Catharine berbicara sambil memegang kuat tangan Jennie yang hendak menampar Santy.
Jennie menatap tajam Catharine, lalu menarik tangannya dari pegangan Catharine.
"Aneh ya lihat kalian. Kalian datang kemari cari ribut. Tapi saat dilawan kalian malah justru marah dan tak terima." Dania berucap sambil menatap satu persatu wajah Syafina dan teman-temannya.
"Kimberly. Bagaimana hubungan kamu dengan Antoni? Apa baik-baik saja? Aku dengar dia pindah sekolah disini hanya untuk bisa dekat-dekat lagi dengan kamu. Kalau aku perhatiin kalian cocok dech," ucap Syafina.
"Bukan urusan kamu. Kamu urusi saja urusan kamu dan para samp*h busukmu itu," jawab Kimberly.
Mendengar perkataan Kimberly membuat keempat sahabatnya, ketiga sepupunya, Tommy dan para sahabat-sahabatnya tersenyum. Sementara Syafina dan teman-temannya tidak terima akan perkataan Kimberly barusan.
BRAAKK!
Syafina menggebrak meja dengan kerasnya sehingga membuat sebagian makanan dan minuman di atas meja berserakan.
"Hei!" teriak Alisha menatap tajam Syafina. "Kalau kau mau jadi preman jangan disini. Di jalanan sana. Lihatlah ini. Semua sebagian makanan dan minuman yang kami pesan berserakan. Kalian pikir kami tidak menggunakan uang untuk membeli semua makanan dan minuman ini, hah!" bentak Alisha.
"Ma-maafkan aku Kak Alisha," ucap Syafina gugup.
"Gampang banget kamu minta maaf. Apa dengan kamu minta maaf. Makanan dan minuman yang sudah berserakan ini balik lagi kayak semula," sahut Danela.
"Sa-saya akan ganti Kak," jawab Syafina. Danela dan Alisha tersenyum.
"Baiklah kalau begitu. Sekarang kamu pesan makanan dan minuman sama seperti yang ada di atas meja ini. Pesan sesuai porsinya. Tidak kurang dan tidak lebih. Dan rasanya juga harus sama. Jika ada beda. Maka kau dan teman-temanmu itu selama satu bulan tidak akan bisa ikut dalam semua jenis kegiatan di sekolah ini." Alisha berbicara sembari menatap wajah Syafina.
"Ta-tapi Kak. Kalau aku dan teman-temanku tidak ikut dalam semua jenis kegiatan di sekolah. Berarti kami tidak akan mendapatkan nilai sama sekali," ucap Syafina.
"Bodo amat. Emangnya aku peduli," jawab Alisha.
Syafina langsung pergi untuk memesan makanan dan minuman untuk Alisha, Danela dan teman-temannya. Sementara Kimberly, Triny dan yang lainnya tersenyum kemenangan.
Enzi, Vanesha, Jennie, Aruna dan kelima anggota baru mereka menatap tajam kearah Kimberly. Mereka menatap tajam Kimberly karena Kimberly saat ini tengah tersenyum. Dan mereka tahu arti dari senyuman itu.
Aruna melirik kearah piring yang berisi spageti yang ada di hadapan Kimberly. Kemudian Aruna berniat mengambil spageti itu dan menumpahkannya ke baju seragam sekolah Kimberly.
Namun siapa sangka gerakan tangannya kalah cepat dengan gerakan tangan Kimberly. Kimberly telah terlebih dahulu bertindak.
JLEB!
"Aaakkkhhh!" teriak Aruna ketika tangannya ditusuk oleh Kimberly menggunakan sendok garpu sehingga membuat tangan Aruna berdarah. Sendok tersebut menancap sangat dalam.
Mereka yang melihat kejadian itu menjadi ketakutan. Tubuh mereka seketika merinding. Sementara Triny, Billy, Aryan, Tommy dan para sahabat-sahabat mereka hanya melihatnya dengan santai. Mereka semua sudah tahu dengan keadaan Kimberly. Billy, Triny dan Aryan sudah menceritakan tentang sosok lain yang ada dalam tubuh Kimberly. Sosok itu akan keluar jika keadaan sudah sangat parah.
Kimberly melihat wajah Aruna yang kesakitan dan juga sudah menangis bersamaan dengan tangannya mencabut sendok garpu tersebut sehingga menimbulkan teriakan kesakitan dari bibirnya Aruna.
Kimberly memperlihatkan senyuman manisnya kepada Aruna. "Mohon dimaafkan kesalahan musuhmu ini, nona Aruna!"
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung berdiri dari duduknya. Melihat Kimberly yang berdiri dan hendak pergi. Keempat sahabatnya juga ikut berdiri. Namun ditahan oleh Kimberly.
"Kalian disini saja. Aku ada urusan sebentar," ucap Kimberly.
"Baiklah," jawab Rere, Santy, Catharine dan Sinthia kompak.
"Kamu mau kemana, Kim?" tanya Aryan.
"Kepo," jawab Kimberly.
"Hahahaha." mereka tertawa
"Aish," kesal Aryan.
PUK!
Billy menepuk pelan bahu Aryan. "Sabar,"
Kimberly melangkahkan kakinya menuju pintu keluar dari kantin sembari matanya melirik kearah Tommy.
"Mau sampai kapan anda akan duduk di samping kuntilanak itu, tuan Tommy Alexander!"
Mendengar perkataan Kimberly membuat Talitha mengumpat. "Sialan. Awas kau Kimberly."
Sementara Tommy langsung berdiri dan pergi menyusul Kimberly yang sudah keluar meninggalkan kantin.
"Hahahahahaha."
Seketika tawa para sahabat-sahabatnya Kimberly pecah. Mereka begitu bahagia ketika mendengar Kimberly menyebut Talitha dengan sebutan kuntilanak.
Rere, Santy, Sinthia dan Catharine melihat kearah mejanya Henry, Lionel, Satya, dan Billy. Dan detik kemudian, mereka pun berseru secara bersamaan.
"Dan untuk kalian. Mau sampai kapan kalian duduk di samping para dayang-dayangnya kuntilanak itu!"
Mendengar seruan dari Rere, Santy, Sinthia dan Catharine. Henry, Lionel, Satya, dan Billy langsung berdiri dan berpindah duduk di meja para kekasih mereka.
Melihat Henry, Lionel, Satya, dan Billy pindah ke meja cewek-cewek mereka. Andhika dan yang lainnya juga ikutan pindah dan bergabung dengan para kekasihnya.
Sementara Aryan dan kelima sahabatnya pergi meninggalkan kantin. Mereka tidak ingin jadi obat nyamuk melihat orang-orang yang sedang kasmaran.
"Hei, kalian mau kemana!" seru Andry ketika melihat Aryan dan kelima sahabatnya pergi.
"Kekasih kami tidak disini. Dari pada kami hanya menjadi obat nyamuk. Sementara kalian sedang enak-enaknya berpacaran dan bermesraan di tempat umum! Lebih baik kami pergi!" teriak Aryan.
Mendengar ucapan Aryan. Mereka semua tertawa. "Hahahaha."