THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Hukuman Yang Setimpal



Di kediaman Adrian terlihat seorang pemuda tengah duduk di sebuah kursi mini bar yang ada di rumahnya.


Pemuda itu adalah Anshell Adrian murid baru di sekolah tempat Kimberly bersekolah.


Anshell saat ini tengah memikirkan tentang kejadian kemarin di sekolah dimana seorang Kimberly yang begitu pemberani dan jago dalam bela diri sambil menikmati wine kesukaannya.


Seketika Anshell tersenyum ketika membayangkan wajah Kimberly ketika menghadapi musuh-musuhnya. Tidak ada gurat ketakutan. Bahkan terlihat gurat bahagia ketika membalas para musuhnya.


"Gadis yang menarik. Aku harus mendapatkannya."


"Kimberly, kau harus menjadi milikku apapun yang terjadi. Aku akan menyingkirkan siapa pun yang mencoba menghalangiku untuk mendapatkan kamu."


Anshell berbicara dengan senyuman di sudut bibirnya. Dirinya sudah bertekad untuk mendapatkan Kimberly bagaimana pun caranya.


***


Setelah selesai dengan urusannya di sekolah. Kimberly memutuskan untuk pergi jalan-jalan. Tujuan Kimberly adalah ke toko buku. Toko buku tersebut menjual bermacam-macam aneka buku dan alat tulis. Toko tersebut juga menyediakan buku-buku bacaan, diantaranya adalah novel dan komik.


Sementara untuk keempat sahabatnya Rere, Santy, Sinthia dan Catherine memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing. Awalnya mereka ingin ikut bersama Kimberly sembari menemani Kimberly.


Dikarenakan khusus hari ini Kimberly ingin pergi sendirian. Berakhir Kimberly menyuruh keempat sahabatnya untuk langsung pulang.


Setelah menempuh perjalanan selama satu setengah jam. Kini Kimberly telah sampai di depan toko buku tersebut.


Kimberly memarkirkan mobilnya di tempat parkir. Setelah cukup aman. Kimberly pun langsung keluar dari dalam mobil.


^^^


Kimberly sudah berada di dalam toko buku. Kakinya kemudian melangkah mengitari setiap rak-rak buku yang ada di dalam toko tersebut.


Kimberly terus berjalan mengitari rak-rak buku tersebut dengan tatapan matanya menatap satu persatu buku-buku yang tersusun rapi.


Ketika Kimberly tengah fokus menatap buku-buku tersebut, tatapan matanya tak sengaja melihat kearah dua gadis remaja yang berpakaian sama seperti dirinya yaitu SMA tengah mengambil dua buah novel.


Setelah mengambil dua novel itu, salah satu gadis remaja tersebut memberikan kode kepada temannya.


Temannya itu mengangguk. Kemudian kedua gadis remaja itu melangkah mendekati seseorang yang berdiri tak jauh dari kedua gadis remaja itu. Gadis itu tengah fokus melihat buku yang dipegangnya.


Dengan rasa penasarannya, Kimberly melangkahkan kakinya mengikuti kedua gadis remaja berseragam SMA tersebut.


Ketika sudah berada tepat di belakang kedua gadis remaja itu Kimberly memperhatikan salah satu gadis itu membuka tas dari gadis di depannya.


Kimberly seketika tersenyum di sudut bibirnya. Kemudian Kimberly mengeluarkan ponselnya dan mereka aksi dari kedua gadis remaja itu.


^^^


"Ini kak."


Gadis tersebut memberikan beberapa buku yang telah dipilihnya kepada kasir.


"Semuanya $15 dolar, kak!"


Gadis itu pun langsung mengeluarkan uang dari dalam dompetnya lalu memberikan uang itu kepada kasir.


Selesai membayar, gadis itu pun pergi. Namun ketika gadis itu hendak pergi, tiba-tiba dua gadis remaja itu berteriak sehingga membuat semua pengunjung mendengar teriakannya.


"Gadis itu pencuri!"


"Di dalam tas gadis itu ada dua novel. Kalau tidak percaya. Silahkan diperiksa isi tasnya!"


Mendengar ucapan dan teriakan dari kedua gadis SMA tersebut security dan satu karyawan wanita langsung mendekati gadis itu dan kemudian memeriksa isi dari tas gadis tersebut.


Seketika security dan karyawan wanita itu terkejut ketika menemukan dua novel di dalam tas seorang gadis.


"Anda benar-benar tidak tahu malu ya! Anda mencuri dua novel ini dengan berpura-pura sebagai pembeli." karyawan wanita yang memeriksa tas gadis itu menatap hina gadis itu.


"Nggak nyangka dengan kelakuan kamu. Pura-pura membayar barang belanjaan, ternyata di dalam tasnya sudah tersimpan dua novel. Dasar perempuan hina," ucap karyawan wanita lainnya.


"Kalau nggak mampu beli. Jangan nyuri dong. Dasar perempuan tidak tahu malu!" bentak karyawan perempuan itu.


"Uuuh! Dasar pencuri. Penjarakan saja dia. Biar tahu rasa!" seru salah satu pengunjung perempuan.


"Saya tidak mengambil novel ini. Ini fitnah! Saya juga tidak tahu kenapa dua novel ini ada di dalam tas saya," sahut gadis itu.


Mendengar ucapan dan pembelaan darj gadis itu membuat beberapa pengunjung, semua karyawan dan dua gadis SMA tersebut menatap jijik kearah gadis itu.


"Mana ada maling ngaku."


"Kalau ada maling ngaku. Penjara penuh."


Sementara beberapa pengunjung lainnya hanya diam. Mereka percaya terhadap gadis itu. Bahkan mereka saat ini tengah fokus mencari-cari buku incarannya. Dan tidak peduli akan kejadian tersebut.


Mendengar makian, hinaan dan teriakan dari karyawan toko dan pengunjung membuat dua gadis yang sudah memasukkan dua novel ke dalam tas gadis itu tersenyum bahagia sembari bertos ria.


"Untung saja dua gadis SMA itu melihatnya. Kalau tidak. Pasti kamu telah berhasil mencuri dua novel itu!"  bentak karyawan wanita yang menjadi kasir tersebut.


Salah satu karyawan langsung melihat kearah dua gadis SMA itu lalu mengucapkan terima kasih kepada kedua gadis tersebut.


"Terima kasih ya kak. "


"Sama-sama kak," jawab gadis pertama.


"Kita juga kebetulan lihat tadi," jawab gadis kedua.


Setelah mengatakan itu, kedua gadis SMA tersebut pergi meninggalkan toko buku. Namun tiba-tiba langkah kedua terhenti karena seseorang menarik bajunya dari belakang.


"Mau kabur, hum!"


Kimberly melangkah mendekati kedua gadis SMA itu tanpa melepaskan tangannya dari baju kedua gadis SMA tersebut.


Semua orang yang ada di dalam toko buku termasuk para karyawan dan security melihat kearah Kimberly.


"Kakak Kimberly!" seru gadis yang menjadi korban fitnah.


Kimberly seketika tersenyum menatap wajah gadis itu.


Kimberly kembali menatap wajah kedua gadis SMA itu dengan tatapan tajamnya.


"Setelah melakukan hal yang sangat menjijikkan. Kalian mau pergi begitu saja, hum?! Kalian tidak akan pergi kemana-mana."


Kimberly mengambil ponselnya. Setelah itu, Kimberly menghubungi seseorang dan menyuruhnya untuk datang.


"Hallo, nona!"


"Hallo kak Deryl. Kakak ada dimana? Sibuk tidak?"


"Saya kebetulan memang sedang mengawasi nona. Ada apa, nona?"


"Kebetulan. Sekarang kakak Deryl Kemarilah. Aku ada di dalam toko buku."


"Baiklah. Saya akan masuk!"


Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung mematikan panggilannya. Dan beberapa detik kemudian, seseorang datang menghampiri Kimberly.


"Nona."


"Kakak Deryl sudah datang."


Sementara para pengunjung, karyawan toko, security dan dua gadis SMA itu menatap bingung Kimberly dan Deryl.


"Ada apa, nona?"


Deg!


Seketika tubuh para pengunjung, security, para karyawan dan dua gadis SMA itu terkejut ketika mendengar ucapan dari Kimberly.


"Baiklah, nona!"


Setelah itu, Deryl langsung menjalankan apa yang diminta oleh Kimberly adik dari Bosnya.


Kimberly tersenyum mengerikan menatap dua gadis SMA yang sudah memfitnah adik sepupunya. Lebih tepatnya adik sepupu dari Triny.


Ibunya Triny adalah kakak perempuan dari ayah gadis yang difitnah tersebut.


"Cara yang sangat licik," ucap Kimberly.


"Apa maksud lo?!" bentak gadis pertama.


"Kita nggak kenal Lo. Jadi minggir!" bentak gadis kedua.


"Aku sudah katakan bahwa kalian tidak akan bisa kemana-mana. Jika kalian tetap pergi, silahkan! Setelah itu ucapkan selamat tinggal kepada dunia ini," ucap Kimberly dengan tersenyum bak iblis.


Mendengar perkataan dan tatapan mata gadis yang ada di hadapannya membuat dua gadis SMA itu seketika ketakutan. Tubuh keduanya merinding dan bergetar.


"Aku tahu apa yang sudah kalian lakukan terhadap gadis itu," ucap Kimberly sembari menunjuk kearah adik sepupunya.


"Mengakulah sekarang, maka dengan begitu aku akan memaafkan kesalahan kalian berdua."


Mendengar perkataan dari gadis di hadapannya membuat dua gadis SMA itu seketika terkejut.


Namun detik kemudian...


"Apa maksud lo, hah?! Jangan macam-macam lo!"


"Lo pikir kita berdua takut sama perempuan kayak lo! Lo pasti dibayar sama perempuan murahan itu agar kelakuan bejatnya tak diketahui."


Mendengar ucapan dari lawannya membuat Kimberly seketika marah.


PLAK!


PLAK!


"Akh!"


Kimberly memberikan dua tamparan keras di pipi gadis itu sehingga membuat sudut bibir gadis itu robek dan berdarah.


"Sepertinya kamu tipe perempuan yang tidak bisa diajak bicara baik-baik. Baiklah kalau begitu. Jangan salahkan aku jika aku melakukan sesuatu kepadamu dan juga keluarga kamu."


Setelah mengatakan itu, Kimberly mendorong kuat tubuh dua gadis SMA itu hingga tersungkur di lantai.


Kimberly menatap semua orang yang ada di dalam toko buku. Dan tatapan matanya terakhir tertuju kepada semua karyawan dan security, salah satunya karyawan yang menghina adik sepupunya.


"Kalian punya cctv, bukan? Kenapa tidak kalian gunakan itu untuk mencari tahu kebenarannya? Dan kenapa kalian langsung percaya akan perkataan kedua gadis murahan itu yang mengatakan bahwa gadis itu mencuri dua novel di toko ini?" Kimberly berbicara sembari menunjuk kearah dua gadis SMA dan sepupunya secara bergantian.


"Punya otak tapi tidak digunakan dengan baik. Punya mulut tapi tidak bisa berbicara dengan sopan sekali pun orang tersebut bersalah."


"Terus apa yang barusan kalian bilang? Gadis itu tidak punya uang? Apa kalian yakin jika gadis itu tidak punya uang? Terus uang dari mana sehingga gadis itu bisa membayar barang belanjaannya sebesar $15 dolar?"


Semuanya hanya diam. Tidak ada satu pun yang bersuara. Bahkan menatap Kimberly saja mereka takut-takut.


"Delia," panggil Kimberly.


"Iya, kak!"


"Perlihatkan dompet kamu lalu keluarkan semua apa saja isi dari dompet kamu itu. Perlihatkan kepada para manusia-manusia menjijikkan yang ada di sekitar kamu ini!"


"Baik, kak!"


Lalu Delian mengeluarkan dompetnya dari dalam tasnya. Dan setelah itu, Delia mengeluarkan semua isinya dan meletakkan di lantai biar semua orang yang ada di dalam toko buku itu bisa melihatnya.


Seketika semuanya terkejut dengan kedua mata membulat sempurna. Bagaimana tidak terkejut. Mereka melihat ada begitu banyak uang dan kartu yang keluar dari dalam dompet gadis itu.


"Bagaimana? Apa kalian sudah melihatnya? Gadis itu memiliki banyak uang dan kartu kredit, bukan?! Berarti gadis itu memiliki uang sehingga bisa masuk ke dalam toko ini. Jika gadis itu mau, dia bisa memborong semua apa yang ada disini."


Kimberly menatap tajam kepada semua orang yang ada di dalam toko buku, termasuk para karyawan dan security.


"Periksa internet, sekarang! Setelah itu, kalian semua akan tahu apa yang terjadi!"


Mendengar ucapan dari Kimberly membuat semuanya langsung membuka internet di ponsel masing-masing. Begitu juga dengan kedua gadis SMA itu.


Dan detik kemudian....


Semua orang yang ada di dalam toko buku tersebut terkejut ketika melihat kejadian awal mula dua novel itu bisa berada di dalam tas seorang gadis.


"Bagaimana? Sudah lihat? Sudah tahu kebenarannya, hum?"


Mereka semua hanya diam dengan menundukkan kepalanya, namun tidak dengan orang-orang yang tidak ikut dalam menuduh gadis itu. Mereka justru menatap dengan senyuman mengejek kepada orang-orang yang sudah berbuat buruk terhadap gadis itu.


"Dikarenakan kalian sudah tahu kebenarannya. Maka dari itu saya Kimberly Aldama selaku kakak dari gadis yang sudah kalian hina dan kalian tuduh akan menuntut pembalasan."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat mereka semua ketakutan terutama para karyawan toko dan security, karena mereka yang terlebih dahulu menghina gadis itu.


"Nona, maafkan kami!" seru para karyawan toko itu secara bersamaan.


Kimberly tersenyum menyeringai menatap para karyawan toko itu.


"Kakak Deryl," panggil Kimberly.


"Iya, nona!"


"Aku mau kakak Deryl buat beberapa pengunjung yang ada disini tidak bisa lagi memasuki atau berbelanja ke toko buku mana pun. Buat semua toko buku yang ada di dunia ini tidak mau menerima mereka. Termasuk juga toko buku yang ada di dalam mall!"


"Baik, nona!


"Dan untuk para karyawan toko ini. Buat mereka semua kehilangan pekerjaannya. Pastikan mereka tidak diterima bekerja di toko mana pun."


"Baik nona. Lalu bagaimana dengan kedua gadis SMA itu, nona?!"


"Eeemm... Untuk kedua manusia menjijikkan ini. Cari tahu keluarganya. Dan hancurkan."


"Baik, nona!"


"Tidak! Jangan lakukan itu kepada keluargaku!" teriak kedua gadis SMA itu histeris.


"Sudah terlambat. Selamat menikmati kesengsaraan."


Setelah mengatakan itu, Kimberly melangkah mendekati adik sepupunya yang sedang memasukkan uang dan kartu kreditnya ke dalam dompet.


"Sudah?"


"Sudah kak."


"Kita pulang sekarang."


Setelah itu, Kimberly menggandeng tangan adik sepupunya itu dan berjalan keluar dari toko buku tersebut.


Sementara orang-orang yang ada di dalam seketika menangis akan hukuman yang diberikan oleh Kimberly, kecuali orang-orang yang tidak ikut serta dalam membully. Mereka bersikap biasa saja.


Alasan mereka tidak mau ikut-ikutan membully karena mereka tidak ingin penyesalan menghampiri mereka. Karena penyesalan selalu datang belakangan.