
Kimberly menatap tajam kearah pelayan toko itu. "Kau. Hitung semua tas yang berjejer di etalasemu itu!" bentak Kimberly.
Mendengar bentakan dari Kimberly membuat pelayan toko itu terkejut dan kemudian langsung menghitung semua total harga semua tas yang ada di etalase itu. Pelayan itu benar-benar takut saat ini. Begitu juga dengan Sisil dan Kiki.
Beberapa menit kemudian, pelayan toko itu selesai menghitung semua tas-tas tersebut.
"Berapa?" tanya Kimberly ketus.
"100 mi-milliar, mbak."
Kimberly tersenyum di sudut bibirnya, lalu detik kemudian Kimberly mengeluarkan semua kartunya yang ada di dalam dompetnya. Kartu-kartu itu Kimberly letakkan dan disusun secara berjejer di atas meja kaca. Ada 8 kartu yang dikeluarkan oleh Kimberly yaitu BCA Visa Platinum, BRI Infinite Card, BNI Visa Infinite, Mandiri Visa Platinum, Citi PremierMiles, HSBC Premier Mastercard, CIMB Niaga Mastercard Platinum, UOB Privi Miles.
Melihat Kimberly mengeluarkan 8 kartu yang mana semua kartu-kartu itu hanya dimiliki oleh orang-orang kaya dan terpandang. Mereka menatap kartu-kartu itu dengan tatapan syok. Mereka semua tak percaya jika Kimberly memiliki banyak kartu.
"Kau pilih salah satu kartu-kartu ini untuk membayar semua tas-tas itu. Atau jika perlu kau boleh cek jumlah saldo yang ada di setiap kartu-kartu ini." Kimberly berucap dengan tatapan matanya masih sama.
Berlahan pelayan itu mengambil satu kartu yaitu Mandiri Visa Platinum. Pelayan itu kemudian menggesekkan kartu itu ke Mesin EDC. Setelah itu, pelayan tersebut menyodorkan Mesin EDC kearah Kimberly. Kimberly yang mengerti langsung memasukkan pinnya. Setelah selesai, Kimberly kembali menyodorkan kembali Mesin EDC kearah pelayan itu.
Setelah transaksi selesai. Pelayan itu mengembalikan kartu itu kepada Kimberly.
"Bagaimana? Sudah percaya jika aku mampu membayar semua tas dari atasan kamu, hum?"
Kimberly memasukkan kembali semua kartu-kartunya itu ke dompetnya. Setelah selesai, Kimberly menatap nyalang semua orang sembari memasukkan dompetnya ke dalam tasnya. Ketika ingin mengeluarkan tangannya dari dalam tasnya. Kimberly memegang satu kotak kecil. Kotak itu berisi kartu namanya.
Kimberly mengambil sekitar dua puluh kartu namanya, kemudian Kimberly melemparkan kartu namanya itu kearah semua orang.
"Itu adalah kartu namaku. Silahkan kalian lihat!" teriak Kimberly.
Beberapa dari mereka mengambil kartu nama itu, termasuk Kiki, Sisil dan pelayan toko itu.
Detik kemudian, mereka semua terkejut ketika melihat dan membaca nama Kimberly yang nama belakangnya bermarga Aldama.
"Seperti kesepakatan kita. Jika aku mampu membayar semua tas-tas itu. Maka kalian semua bersedia untuk menerima hukuman dariku. Bahkan keluarga kalian juga akan terkena imbasnya. Sekarang persiapkan mental kalian. Besok pagi kalian semua akan mendapatkan kejutan dariku."
Kimberly tersenyum di sudut bibirnya sembari matanya menatap nyalang mereka semua.
"Nona," panggil seseorang.
Baik Kimberly maupun orang-orang yang ada di hadapan Kimberly melihat kearah sepuluh orang laki-laki yang berpakaian hitam memberikan hormat kepada Kimberly.
"Kenapa kalian ada disini?" tanya Kimberly kepada salah satu anak buah dari kakak keduanya.
"Kami mendapatkan perintah dari Bos Uggy untuk datang kesini," jawab Deryl tangan kanannya Uggy.
"Jadi Kak Uggy sudah lihat dan tahu kejadian disini?" tanya Kimberly.
"Sudah, Nona. Bos sudah menyaksikan apa yang Nona alami barusan. Bahkan Bos juga sudah melihat wajah-wajah dari orang-orang yang menghina Nona. Bos benar-benar marah ketika mereka semua menghina Nona dan keluarganya," jawab Deryl.
"Ya, sudah kalau begitu. Kalian bawa semua tas-tas itu pulang ke rumahku. Aku terpaksa membeli semua tas-tas sialan demi membuktikan hinaan dari para sampah itu." Kimberly berbicara dengan ketus sambil tangannya menunjuk kearah orang-orang yang sudah menghinanya.
"Baik, Nona." Deryl langsung mematuhi perintah dari Kimberly dan diikuti oleh anggotanya.
Kimberly menatap mereka semua, lalu terukir senyuman manis di bibirnya. "Aku belum mengadukan masalah ini kepada keluargaku. Tapi justru salah satu kakakku sudah mengetahuinya terlebih dahulu. Eeemm! Sepertinya hukuman kakakku bakal lebih kejam dari pada hukuman dariku."
Setelah mengatakan itu, Kimberly pun pergi dengan senyuman kebahagiaan. Sementara orang-orang yang telah menghinanya merutuki kebodohannya masing-masing karena ikut menghina Kimberly. Mereka semua menatap tajam Sisil dan Kiki.
Sementara disisi lain Tommy yang mengetahuinya masalah yang menimpa Kimberly menjadi kesal. Ketika Tommy ingin menghampiri Kimberly berniat ingin menolongnya. Namun ada seseorang yang menahan tangannya. Orang itu adalah Billy. Billy dan Catharine juga ada di mall itu.
Billi meminta kepada Tommy untuk membiarkan Kimberly mengatasinya. Billy sangat yakin jika Kimberly bisa mengembalikan keadaan. Dan apa yang dikatakan oleh Billy menjadi kenyataan. Kimberly berhasil membalikkan keadaan. Kini mereka semua diam dan menatap takut Kimberly.
"Kimberly," panggil Tommy.
Kimberly yang mendengar seseorang yang memanggilnya langsung mengalihkan perhatiannya melihat kearah samping. Dapat Kimberly lihat Tommy yang datang bersama Billy dan Catharine.
"Kamu gak apa-apa. Maaf ya aku gak datang nolongin kamu. Ini semua gara-gara Billy. Dia yang cegah aku buat nolongin kamu. Katanya kamu bisa mengatasinya dan bisa membalikkan keadaan."
Kimberly hanya tersenyum mendengar ucapan dan kata maaf dari Tommy. Tanpa Tommy berita tahu. Kimberly juga sudah tahu. Kimberly sempat melihat kalau Tommy ingin menghampirinya, namun terhalang karena bahunya sudah ditahan oleh Billy. Dari situlah Kimberly memulai membalas orang-orang yang telah menghinanya.
"Aku gak apa-apa. Kamu gak perlu khawatir. Aku tahu kamu mau menghampiri aku. Dan aku juga tahu makhluk bantet yang ada di sebelahmu itu melarangmu. Aku sudah tahu wataknya dia." Kimberly berbicara seenak perutnya saja.
"Dasar siluman kelinci kurap," balas Billy kesal.
Kimberly langsung memberikan tatapan horornya kearah Billy dengan bibir yang digerak-gerakin ke kiri dan ke kanan.
"Apa?" Billy justru menatap lebih horor kearah Kimberly.
Ketika Kimberly ingin membuka mulutnya. Tommy pun langsung menggandeng tangannya dan membawanya ke restoran yang ada di sekitar mall tersebut.
"Lebih baik kita cari makan. Aku sudah lapar," ucap Tommy.
"Eemm. Baiklah. Aku juga sudah lapar. Apalagi setengah tenagaku terkuras habis menghadapi para sampah-sampah itu," jawab Kimberly.
Mereka yang mendengar jawaban dari Kimberly hanya tersenyum dan geleng-geleng kepala. Seperti itulah mood Kimberly jika ada yang mengusiknya.
***
Kini Kimberly, Tommy, Billy dan Catharine sudah berada di restoran di depan mall. Tommy dan Billy pergi memesan makanan dan minuman. Sementara Kimberly dan Catharine sibuk mengobrol.
"Itu semua tas mau kamu apakan Kim?" tanya Catharine.
"Belum tahu. Yang jelas semua tas-tas itu hanya empat milikku," jawa Kimberly santai.
"Hehehehe. Aku minta satu ya." Catharine memperlihatkan wajah bak anak kecil di depan Kimberly.
"Gak. Minta sana sama si bantet tu. Apa gunanya ada dia kalau kamu mintanya sama aku. Kecuali kamu belum punya pacar. Aku bakal kasih tu tas." Kimberly langsung menolak permintaan Catharine.
"Aish. Dasar pelit."
"Biarin. Pelit pangkal kaya."
Mendengar jawaban dari Kimberly seketika Catharine merengut kesal. Kimberly yang melihat kekesalan di wajah Catharine tersenyum puas. Sebenarnya Kimberly hanya pura-pura saja. Dirinya melakukan itu hanya untuk menjahili Catharine.
"Kenapa wajah kamu ditekuk gitu?" tanya Billy yang datang bersama Tommy dengan membawa makanan dan minuman pesanan mereka.
"Tanyakan saja sama anak kelinci yang ada di hadapan aku ini," jawab Catharine.
Mendengar perkataan dari Catharine membuat Kimberly mendengus kesal. "Dasar nenek lampir kudisan," balas Kimberly.
Tommy dan Billy hanya tersenyum melihat para kekasih merek. Setelah perdebatan Kimberly dan Catharine. Mereka pun memulai makan mereka.
Ketika mereka semua tengah menyantap makanan, tiba-tiba Kimberly tersendak lalu mengeluarkan sesuatu dari mulutnya.
Detik kemudian, Kimberly terkejut melihat sebuah cincin yang ada di tangannya. Tommy, Billy dan Catharine tersenyum ketika melihat wajah syok Kimberly.
Kimberly membersihkan cincin itu. Setelah cincin itu bersih. Dapat dilihat oleh Kimberly nama tommy terukir di lingkaran luar cincin itu. Kimberly melihat kearah Tommy.
"Tommy."
Tommy tersenyum sembari memperlihatkan jari manisnya di depan Kimberly. Kimberly yang melihat hal itu seketika menangis. Kimberly melihat namanya terukir di lingkaran luar cincin yang dipakai Tommy.
Melihat Kimberly yang menangis. Tommy langsung menghapus air matanya. Setelah itu, Tommy mengambil cincin yang masih dipegang oleh Kimberly, lalu memasang kan nya di jari manis Kimberly.
"Cantik. Sama seperti orangnya." Tommy berbicara sembari mengecup punggung tangan Kimberly.
"Ini dalam rangka apa?" tanya Kimberly.
Tommy tersenyum mendengar pertanyaan dari Kimberly. Begitu juga dengan Billy dan Catharine.
"Dalam rangka sepuluh hari jadian kita," jawab Tommy.
"Terus cincin ini..."
"Aku pesan duluan pas kencan kedua kita waktu itu. Jadi pas kencan ketiga kita cincinnya selesai deh."
"Terima kasih ya," ucap Kimberly dan langsung memberikan ciuman di pipi Tommy.
Tommy yang mendapatkan ciuman di pipinya dari Kimberly tersenyum bahagia. Billy dan Catharine ikut bahagia melihat kebahagiaan di wajah Kimberly dan juga Tommy.