THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kekhawatiran Nashita



Di kediaman keluarga Aldama dimana terlihat seorang wanita paruh baya yang sejak tadi mondar-mandir di ruang tengah sembari terus menghubungi anak perempuannya yang belum kembali dari sekolah.


Wanita paruh baya itu adalah Nashita Aldama ibu dari Kimberly Aldama.


Nashita sudah berulang kali menghubungi putrinya, namun putrinya tidak menjawab panggilan darinya.


Yang membuat Nashita khawatir dan takut adalah ponsel putrinya itu tersambung, namun putrinya itu tidak menjawabnya.


Sementara untuk ponselnya Aryan. Nashita juga sudah berulang kali menghubungi keponakannya itu. Namun ponsel keponakannya itu tidak aktif.


Pikiran Nashita bukan hanya tertuju kepada putrinya saja, melainkan terhadap keponakannya juga. Nashita mendapatkan panggilan dari Billy yang mengatakan bahwa Kimberly pergi bersama Aryan ke Sweett Cafe. Billy juga sudah memberitahu alasan Kimberly dan Aryan pergi kesana.


"Kim, Aryan! Kalian dimana? Kenapa belum juga? Semoga kalian baik-baik saja sayang," batin Nashita.


Ketika Nashita tengah mengkhawatirkan putranya dan juga keponakannya yang belum bisa dihubungi, tiba-tiba Nashita mendengar suara klason mobil diluar.


Mendengar suara klason mobil diluar, Nashita langsung berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Nashita berharap yang pulang itu adalah putrinya dan juga keponakannya.


^^^


Cklek..


Nashita membuka pintu utama. Setelah pintu terbuka, Nashita langsung keluar. Dan seketika senyuman memudar.


"Ternyata kalian," ucap Nashita lesu.


"Sayang."


"Mommy."


Fathir menyentuh pundak istrinya. Tatapan matanya menatap khawatir istrinya itu.


"Ada apa sayang?"


"Kimberly," jawab Nashita lirih.


"Kenapa dengan Kimberly, Mom?" tanya Jason, Uggy, Enda dan Riyan bersamaan.


"Lebih baik kita bicara di dalam saja," tutur Fathir lalu memapah tubuh istrinya masuk ke dalam rumah. Dan diikuti oleh Jason, Uggy, Enda dan Riyan di belakang.


^^^


Kini mereka sudah di ruang tengah dengan Fathir yang masih memeluk tubuh istrinya.


"Sekarang katakan padaku. Ada apa dengan Kimberly?"


"Kimberly belum pulang dari sekolahnya."


Mendengar perkataan dari ibunya membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan terkejut. Dengan kompaknya mereka melihat jam yang melingkar di tangan masing-masing.


"Ini sudah pukul 4 sore!" seru mereka secara bersamaan.


"Mom!"


Jason, Uggy, Enda dan Riyan menatap ibunya untuk meminta penjelasan.


"Mobilnya Kimberly dibawa pulang sama Triny. Dan Triny bilang kalau Kimberly pergi bersama Aryan ke Sweett Cafe."


Mendengar jawaban dari ibunya membuat Jason, Uggy, Enda dan Riyan  berpikir jika terjadi sesuatu di Sweett Cafe sehingga membuat kedua adiknya itu pergi kesana.


Uggy mengambil ponselnya di saku celananya. Dirinya ingin menghubungi Deryl dan menanyakan keadaan adik perempuannya dan juga adik sepupunya.


Setelah ponselnya berada di tangannya, Uggy langsung menekan nomor Deryl yang memang sudah hafal diluar kepalanya.


Beberapa detik kemudian...


"Hallo Bos!"


"Hallo Deryl. Kau ada dimana sekarang?"


"Aku berada di jalan Bos."


"Apa kau tahu kedua adikku berada?"


"Tahu Bos. Saat ini aku sedang mengawal nona dan tuan Aryan untuk pulang ke rumah."


"Apa yang terjadi?"


"Nona Vanny berulah Bos."


"Maksud kamu?"


"Nona Vanny ke Sweett Cafe dengan membawa 21 laki-laki bersamanya. Dari 21 laki-laki itu, satu sebagai calon pembeli dan sepuluhnya anak buahnya nona Vanny. Sisanya anak buahnya dari laki-laki itu."


"Jadi maksud kamu perempuan sialan itu ingin menjual cafe milik kedua adikku kepada orang lain."


"Benar Bos."


Mendengar perkataan dari Uggy membuat Fathir, Nashita, Jason, Enda dan Riyan seketika terkejut.


"Bagaimana bisa perempuan itu melakukan hal itu?"


"Nona Vanny membawa berkas yang isinya mengatakan bahwa tuan Aryan sudah memberikan cafe itu kepadanya. Dan untungnya manager cafe yang bertanggung jawab di sana berusaha untuk mempertahankan cafe itu sampai nona dan tuan Aryan datang."


"Lalu apa yang terjadi?"


Mendengar penuturan dari Deryl membuat Uggy menggeram marah. Dirinya tidak terima Vanny menyakiti kedua adiknya. Terutama adik perempuannya.


"Jadi adik perempuanku bertarung sendirian melawan kesepuluh anak buahnya dari perempuan sialan itu?"


"Benar Bos!"


Deg..


Fathir dan Nashita seketika terkejut dan juga syok ketika mendengar ucapan dari Uggy yang mengatakan bahwa putrinya bertarung melawan kesepuluh laki-laki sendirian. Begitu juga dengan Jason, Enda dan Riyan. Ketiganya juga seketika marah ketika mendengar ucapan dari Uggy.


"Sayang, putri kita!" Nashita berucap lirih sembari menggenggam pergelangan suaminya.


"Tenang, oke!" hibur Fathir.


"Ketika nona sedang bertarung. Sepertinya ada yang membantu nona, Bos! Apa sosok itu yang membantu nona, Bos?"


"Apa kau melihat tatapan mata adikku?"


"Aku tidak melihat dengan jelas Bos. Tapi aku bisa melihat sekilas dari tatapan mata nona. Tatapan mata nona tidak seperti biasanya. Tatapan matanya berbeda. Apalagi ketika berhadapan dengan nona Vanny."


"Baiklah, Deryl! Terima kasih informasinya. Hati-hati di jalan."


"Baik Bos!"


Setelah mengatakan itu, Uggy pun langsung mematikan panggilannya.


"Uggy, bagaimana? Apa yang terjadi?" tanya Nashita dengan nada khawatirnya.


"Vanny ingin merebut Sweet Cafe. Namun digagalkan oleh Bayu. Ketika anak buahnya Vanny ingin menyakiti Bayu. Kimberly dan Aryan datang."


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Jason.


"Karena dia gagal merebut cafe itu, dia memerintahkan anak buahnya untuk menyerang Kimberly."


"Brengsek!" Jason seketika marah ketika mendengar jawaban dari Uggy tentang Vanny yang menyerang adik perempuannya.


"Sekarang dimana adik perempuanmu dan adik sepupumu, Uggy? Mommy benar-benar mengkhawatirkan mereka berdua," ucap dan tanya Nashita.


"Dalam perjalanan pulang ke rumah, Mom! Deryl mengawalnya dari belakang."


Tepat setelah Uggy mengatakan itu, mereka semua dikejutkan dengan suara klason mobil.


Tin.. Tin..


"Itu mereka pulang?" seru Enda dan Riyan bersamaan.


Jason dan Uggy dengan kompak langsung menuju ruang tamu untuk melihat Kimberly dan Aryan.


Sementara Fathir, Nashita, Enda dan Riyan tetap di ruang tengah dengan posisi sudah berdiri dengan tatapan matanya menatap kearah ruang tamu.


"Astaga, Kimberly!" teriak Nashita ketika melihat putrinya digendong oleh putra sulungnya.


Kini Kimberly sudah ditidurkan di sofa dengan beralaskan paha Nashita. Nashita menangis melihat wajah pucat Kimberly.


"Jason, kenapa adikmu?"


"Mom, tenang ya. Kimberly baik-baik saja. Itu Kimberly nya sedang tidur. Mungkin kelelahan," jawab Jason yang berusaha menenangkan ibunya.


Enda melihat kearah Aryan yang saat ini tatapan matanya menatap kearah Kimberly. Enda meyakini bahwa Aryan tengah mengkhawatirkan Kimberly.


Puk..


Enda seketika menepuk pelan bahu Aryan sehingga membuat Aryan terkejut.


Aryan melihat kearah Enda lalu kembali menatap kearah Kimberly yang masih memejamkan matanya.


"Kimberly akan baik-baik saja. Dia perempuan yang kuat," ucap Enda.


"Maafkan aku kak Enda. Aku gagal melindungi Kimberly sehingga Kimberly harus bertarung sendirian," ucap Aryan.


Mendengar perkataan dari Aryan membuat hati Enda sedih. Begitu juga dengan Fathir, Nashita, Jason, Uggy dan Riyan.


Fathir kemudian berdiri dari duduknya lalu berpindah duduk di samping keponakannya itu.


Grep..


Fathir seketika memeluk tubuh keponakannya itu sembari tangannya mengusap-usap lembut punggungnya.


"Kamu tidak salah sayang. Jika ada yang disalahkan. Orang itu adalah Vanny. Dia yang salah karena sudah berbuat jahat padamu dan Kimberly."


Setelah mengatakan itu, Fathir melepaskan pelukannya. Matanya menatap wajah tampan keponakannya itu.


"Sudah ya. Jangan merasa bersalah atas apa yang telah terjadi. Karena Daddy tidak suka akan hal itu."


"Sekarang kamu pergi bersih-bersih dulu di kamar. Setelah itu, kamu makan lalu istirahat! Mommy tidak izinin kamu pulang dulu." Nashita berbicara lembut kepada Aryan.


"Baik, Mom!"


Setelah itu, Aryan beranjak dari duduknya lalu pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju kamarnya di lantai dua.


Fathir dan Nashita menyediakan masing-masing kamar untuk semua keponakannya jika keponakannya menginap.