THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kemarahan Jacob Terhadap Keluarga Rowan



Di sebuah rumah mewah terlihat seorang pemuda tampan tengah duduk di sofa ruang tengah sembari pikirannya memikirkan ibu dan adik perempuannya yang pergi dari kediaman Rowan akibat ulah nenek dan bibinya.


Ibu dan adik perempuannya diusir oleh nenek dan bibinya ketika ibunya sedang mengandung calon adik keduanya dan usia adik perempuannya saat itu berusia 6 tahun.


Pemuda itu bernama Jacob Rowan, putra pertama dari Sebastian Liam Rowan dan Indira dari istri pertamanya.


Sebastian memiliki dua anak. Satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.


"Mi, Dek! Kalian dimana? Bagaimana caranya aku bisa menemukan kalian? Aku benar-benar merindukan kalian."


"Tuhan, aku mohon berikan petunjuk padaku! Beritahu aku dimana lagi aku harus mencari mereka. Aku benar-benar merindukan mereka."


Jacob menangis. Hatinya benar-benar sakit dan terluka kala belum mendapatkan hasil pencariannya tentang ibu dan adik perempuannya.


Ketika Jacob sedang memikirkan dan merindukan ibu dan adik perempuannya, tiba-tiba terdengar suara bell berbunyi.


Ting..


Tong..


Seorang pelayan berlari untuk membukakan pintu untuk sang tamu.


Beberapa detik kemudian, pelayan itu datang dengan beberapa orang di belakangnya.


"Tuan Jacob."


Jacob langsung melihat kearah sang pelayan. Namun seketika tatapan matanya menajam ketika melihat beberapa orang berdiri di belakang pelayannya itu.


"Bibi silahkan kembali ke dapur!"


Setelah itu, pelayan itu pergi meninggalkan majikannya untuk kembali ke dapur.


"Mau ngapain kalian kemari?" tanya Jacob dengan tatapan tajam dan wajah dinginnya.


Jacob langsung melontarkan pertanyaan pedasnya tanpa terlebih dahulu mempersilahkan orang-orang tersebut untuk duduk.


"Sayang," lirih pria paruh baya itu ketika mendengar ucapan kejam dan tatapan tajam putra sulungnya.


Yah! Yang datang itu adalah ayah kandungnya bersama istri kedua ayahnya lengkap dengan adik-adiknya. Serta nenek dan Bibinya, orang yang sudah membuat dirinya berpisah dengan ibu kandungnya dan adik perempuannya.


"Sekali aku bertanya kepada kalian. Mau ngapain kemari. Lancang sekali kalian mengotori rumahku!" bentak Jacob dengan tatapan amarahnya.


"Jacob, jaga bicaramu. Bagaimana pun kami adalah keluargamu," tegur sang bibi.


"Diam kau! Jangan campuri urusanku. Aku mau bicara apapun itu urusanku. Kau tidak berhak menegurku!" bentak Jacob.


Deg..


Seketika wanita yang berstatus bibi dari Jacob terkejut. Hatinya tersentak ketika mendengar ucapan dan bentakan dari Jacob, keponakan kesayangannya.


"Sayang, Papi..."


"Aku tidak ingin mendengar apapun dari mulut anda. Status anda sebagai ayah telah hilang sejak anda mengusir ibu kandungku dan adik perempuanku demi percaya terhadap kedua perempuan busuk itu!" bentak Jacob sembari menunjuk kearah sang nenek dan sang bibi, kakak perempuan ayahnya.


"Dan kalian semua bukan keluargaku. Termasuk dua perempuan itu. Mereka bukan nenekku dan bukan Bibiku. Hubungan kami sudah putus sejak kepergian ibu kandungku dan adik perempuanku!"


Mereka semua menangis ketika mendengar ucapan demi ucapan yang begitu menyakitkan dari Jacob. Mereka tidak menyangka jika sampai detik ini Jacob masih menyimpan dendam kepada keluarga Rowan. Mereka berpikir jika kemarahan Jacob hanya sementara.


Namun pikiran mereka salah. Sudah 18 tahun kejadian tersebut. Jacob masih menyimpan rasa sakitnya dan dendamnya kepada keluarga Rowan, terutama terhadap ayah kandungnya, nenek dan bibinya.


"Sekarang pergi dari rumahku! Jangan pernah lagi kalian menginjakkan kaki kalian di rumah ini!" bentak Jacob dengan menatap tajam dan penuh amarah kearah ayahnya, ibu tirinya, adik-adik tirinya, neneknya dan bibinya.


"Ka-kakak," lirih adik-adiknya.


"Pergi!" teriak Jacob.


"Jacob... Papi... Hiks... Mohon....,"


"Aku bilang pergi. Aku sudah tidak ingin memiliki hubungan dengan kalian lagi."


"Ingat! Jika aku mendapatkan kabar buruk atau kabar duka mengenai ibu kandungku dan adik perempuanku. Maka kemarahanku dan dendamku kepada kalian akan bertambah. Aku bersumpah tidak akan pernah memaafkan kesalahan kalian. Aku akan buat hidup kalian menderita seperti yang dirasakan oleh ibu kandungku dan adik perempuanku."


"Kalian sudah merampas kebahagiaanku sejak kecil. Dan kalian tahu kebahagiaanku itu apa!" bentak Jacob dengan matanya yang memerah.


"Kebahagiaanku adalah ibu kandungku dan adik perempuanku. Jika kalian ingin aku kembali dengan kalian. Jika kalian ingin aku memaafkan kesalahan kalian, maka bawa kembali ibu kandungku dan adik perempuanku pulang ke kediaman Rowan. Bersujud kepada mereka dan minta maaflah. Barulah aku kembali kepada kalian dan memaafkan kesalahan kalian!" teriak Jacob disertai air matanya yang mengalir membasahi wajah tampannya.


Sementara Sebastian, istri keduanya, kedua anaknya, ibunya dan kakak perempuannya hanya diam membisu dengan air mata membasahi wajah mereka masing-masing ketika mendengar ucapan demi ucapan dari Jacob.


Di dalam hatinya Sebastian, ibunya dan kakak perempuannya menyesali atas apa yang mereka perbuat dulu terhadap istrinya/adik iparnya/menantunya dan putrinya/cucunya/keponakannya.


Jika kesalahan Sebastian dulu adalah tidak mempercayai istrinya dan lebih mempercayai semua perkataan ibu dan kakak perempuannya sehingga ikut mengusir istri dan putri keduanya itu.


Sementara untuk ibunya dan kakak perempuannya yang memang tidak menyukai sejak awal terhadap menantunya/iparnya itu. Mereka selalu bersikap kasar terhadap menantunya/iparnya itu sehingga berakhir mereka melakukan hal menjijikkan kepada menantunya/iparnya.


"Sekarang keluar kalian dari rumahku. Jangan pernah lagi kalian datang kesini!" teriak Jacob.


"Bibi!" panggil Jacob kepada pelayannya.


"Iya, tuan!"


"Panggil dua penjaga diluar."


"Baik tuan!"


Pelayan wanita itu langsung pergi meninggalkan ruang tengah untuk menuju keluar rumah.


Beberapa detik kemudian...


"Tuan!" sapa dua laki-laki.


"Usir mereka semua dari rumahku. Dan jangan biarkan mereka datang lagi kesini."


"Baik tuan."


Setelah itu, dua penjaga itu membawa pergi keluarga Rowan, walau hati mereka masih ingin di rumah Jacob. Mereka semua benar-benar merindukan Jacob. Mereka semua tersiksa akan dendam Jacob kepada mereka terutama Sebastian, ibunya dan kakak perempuannya.


"Indira, kau dimana sayang. Maafkan kesalahanku karena tidak mempercayaimu," batin Sebastian yang saat ini sudah berada diluar rumah Jacob.


"Putri kesayangannya Papi. Kamu dimana nak? Semoga kamu dan Mami baik-baik saja ya. Papi janji akan membawamu dan Mami kamu pulang."


***


Kimberly sudah diperbolehkan masuk sekolah dengan syarat tidak boleh banyak aktivitas.


Kini Kimberly bersama dengan keempat sahabatnya dan Prisca. Mereka berada di kelas.


Rere, Santy, Sinthia dan Catherine menatap lekat wajah Kimberly. Mereka menatap dengan tatapan sedih.


Kimberly yang menyadari bahwa dirinya ditatap oleh Rere Santy Sinthia dan Catherine balik menatap wajah keempat sahabatnya itu.


"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Kimberly.


"Kim, kenapa lo nggak bilang jika punya alergi dua macem?" tanya Catherine menatap sendu wajah Kimberly.


"Lo tega sama kita. Kita udah lama bersahabat, tapi lo nggak kasih tahu kita soal alergi lo itu." Sinthia juga ikut bersuara dengan tatapan matanya menatap wajah Kimberly.


"Kenapa Kim?" tanya Santy dan Rere bersamaan.


Mendengar pertanyaan demi pertanyaan dari keempat sahabatnya. Ditambah lagi dengan tatapan mata keempat sahabatnya itu menatap penuh harap akan mendapatkan jawaban dari dirinya.


Seketika terukir senyuman manis di bibir Kimberly. Dirinya tahu bahwa keempat sahabatnya saat ini merasa bersalah karena tidak mengetahui tentang alerginya itu.


"Oke, aku minta maaf! Bukan aku sengaja merahasiakan tentang alergi aku ini kepada kalian. Tapi menurut aku, itu tidak perlu diceritakan. Karena itu tidak penting. Dari pada menceritakan tentang alergi aku. Mending cerita yang lain. Masih banyak manfaatnya dari pada membahas tentang alergi aku. Ditambah lagi, aku tidak ingin membuat kalian khawatir."


Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Rere, Santy, Sinthia dan Catherine paham. Mereka tahu betul bagaimana sifat Kimberly. Dia tidak ingin orang-orang mengkhawatirkan dia.


"Gue bangga sama lo Kim," pungkas Prisca.


Kimberly tersenyum ketika mendengar ucapan dari Prisca. "Gue juga bangga sama kalian. Terima kasih sudah mau jadi sahabat gue. Dan terima kasih buat kalian yang selalu ada untuk gue. Semoga kalian nggak bosan bersahabat dengan gue."


"Kita nggak akan pernah bosan menjadi sahabat lo Kimberly!"


"Kita sayang lo. Sayaaaang banget!"


Tanpa Kimberly dan kelima sahabatnya ketahui. Tommy, Billy, Aryan dan para sahabatnya sejak tadi menguping pembicaraannya di luar kelas. Mereka tersenyum bahagia ketika melihat raut bahagia Kimberly dan juga ucapan dari kelima sahabatnya Kimberly terutama Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Baik Billy maupun Arya tahu bagaimana besarnya rasa sayang, rasa peduli, rasa solit dan rasa solidaritas Rere, Santy, Sinthia, dan Catherine terhadap Kimberly. Mereka benar-benar menganggap Kimberly saudari mereka bukan hanya sekedar sahabat.


"Berbahagia selalu kalian," batin Billy dan Aryan.