THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Ancaman Lionel



"Apa masih sakit perutnya?" tanya Rere kepada Santy yang saat ini sudah sadar.


"Masih sedikit terasa ngilu," jawab Santy dengan suara pelannya.


"Re, Sin! Kimberly sama Catherine mana? Kenapa hanya kalian berdua aja disini?" tanya Santy yang terjadi melihat keberadaan dua sahabatnya yang lain.


"Kimberly sama Catherine lagi memberikan hukuman untuk orang yang udah buat lo celaka," jawab Rere.


Mendengar jawaban dari Rere membuat Santy terkejut. Dirinya takut jika pembalasan yang dilakukan oleh Kimberly akan mengakibatkan lawan celaka dua kali lipat.


Rere dan Sinthia yang melihat perubahan wajah Santy seketika paham. Keduanya memikirkan pembalasan kejam yang diberikan oleh Kimberly untuk orang yang telah menyakitinya.


"Hei." Rere menepuk pelan bahu Santy sehingga membuat Santy terkejut. "Lo nggak usah mikirin tentang apa yang akan dilakukan oleh Kimberly untuk orang yang nyakitin lo. Pikiran aja kesembuhan lo," ucap Rere.


"Apa yang dikatakan oleh Rere benar, San. Pikiran kesembuhan lo. Nggak usah mikirin yang lain," sela Sinthia.


Ketika Rere dan Sinthia tengah menghibur Santy, tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara pintu dibuka.


Cklek..


Rere, Sinthia dan Santy secara bersamaan melihat kearah pintu. Dan dapat melihat lihat Kimberly dan Catherine yang datang.


Kimberly dan Catherine melangkah mendekati ranjang Santy sembari tersenyum menatap Santy yang tengah menatap dirinya.


"Bagaimana? Apa masih sakit perutnya?" tanya Kimberly setelah sampai di samping ranjang Santy.


"Udah nggak. Hanya ngilu sedikit saja. Bagaimana?" ucap dan tanya Santy menatap wajah Kimberly.


"Bagaimana apanya?" tanya Kimberly yang pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaan dari Santy.


"Kim." Santy menggeram kesal sembari menatap horor Kimberly.


"Aish! Sedang sakit masih berani ngelawan," omel Kimberly.


"Kamu yang mancing aku ngelawan kamu," jawab Santy.


Mendengar jawaban dari Santy membuat Rere, Sinthia dan Catherine seketika tertawa. Apalagi ketika melihat wajah terkejut Kimberly ketika mendengar ucapan dari Santy.


"Kamu nggak perlu khawatir atas apa yang aku lakukan terhadap orang yang sudah nyakitin kamu. Kamu sahabat aku. Aku akan balas orang-orang yang sudah nyakitin kamu. Aku nggak akan tinggal diam jika melihat kamu atau kalian disakiti." Kimberly berbicara dengan menatap wajah keempat sahabatnya satu persatu.


"Kita juga bakal melakukan hal apapun demi membalaskan dendam terhadap orang-orang yang nyakitin lo, Kim!" sahut Rere, Santy, Sinthia dan Catherine bersamaan.


"Intinya kita akan saling menjaga dan saling melindungi satu sama lainnya," ucap Kimberly.


"Hm." Rere, Santy, Sinthia dan Catherine berdehem sembari menganggukkan kepalanya.


^^^


Sreekk..


"Aakkhhh!" teriak Amel merasakan sakit di kepalanya.


Saat ini Amel bersama dengan Lionel dan para sahabat-sahabatnya di sebuah gudang yang tak terpakai. Disana juga ada Triny dan keempat sahabatnya. Mereka menatap Amel dengan tatapan penuh amarah.


Dan saat ini Lionel tengah menarik kuat rambut Amel. Dirinya benar-benar marah terhadap apa yang dilakukan Amel terhadap kekasihnya.


"Apa salah Santy sama lo, hah?! Kenapa lo nyakitin dia?! Lo hanya murid baru disini. Jadi nggak usah belagu seolah-olah lo sudah lama sekolah disini!" bentak Lionel yang makin kencang menarik rambut Amel.


"Aakkhhh!" teriak Amel dengan keras.


"Apa sebenarnya tujuan lo dan teman-teman lo sekolah disini?! Apa jangan-jangan lo dan teman-teman lo punya maksud jahat lagi sekolah disini!" Dania berucap dengan penuh penekanan dan dengan tatapan matanya yang menatap tajam kearah Amel.


Lionel menatap tajam kearah Amel seolah-olah ingin memakan hidup-hidup gadis itu.


"Lo harus dengarkan apa yang dikatakan oleh sahabat gue karena apa yang diucapkan oleh sahabat gue akan terbukti. Termasuk gue pribadi," sahut Andhika.


"Termasuk gue,' ucap Tommy menambahkan.


Amel seketika ketakutan ketika mendengar ucapan serta ancaman dari Lionel, Tommy dan Andhika.


"Lo kasih tahu sama teman-teman lo termasuk Molly dan Sheela. Gue tahu kalau kalian sekongkol. Lo dan kelima teman-teman lo juga berteman dengan Molly," sahut Billy.


Mendengar perkataan dari salah satu temannya Lionel membuat Amel terkejut. Dia tidak menyangka jika Billy tahu bahwa dia dan keenam teman-temannya juga berteman dengan Molly.


"Gue kasih waktu selama 1 minggu. Jika lo dan teman-teman lo masih di sekolah ini. Jangan salahkan gue dan sahabat-sahabat gue jika kita melakukan hal buruk sama lo dan teman-teman lo."


Setelah mengatakan itu, Lionel melepaskan menyingkirkan tangannya dari rambut Amel bersamaan dengan Lionel mendorong kuat tubuh Amel hingga tersungkur di lantai.


Lionel kemudian berdiri dari duduknya dengan menatap tajam kearah Amel. Begitu juga dengan yang lainnya.


"Pikirkan kata-kata kita kalau lo mau selamat."


Setelah itu, Lionel dan yang lainnya pergi meninggalkan Amel sendirian dalam keadaan tak baik-baik saja.


***


Di kediaman keluarga Ardian Aldama tampak ramai dimana semua anggota keluarga berkumpul disana.


Hari ini adalah hari dimana Ardian membawa istri dan keempat anaknya untuk tinggal di Jerman. Sementara untuk perusahaan yang ada di Amerika akan diserahkan tanggung jawab kepada tiga orang kepercayaannya.


Tiga orang kepercayaannya itu berasal dari keluarga yang mana keluarganya itu sudah lama mengabdi dengan keluarga Aldama.


Jarak lokasi tempat tinggal Ardian dengan lokasi tempat tinggal Fathir dan Helena berjarak tiga jam. Fathir dan Helena berada di kota yang sama yaitu kota Hamburg. Sementara jarak lokasi kediaman Fathir dan lokasi kediaman Helena sekitar dua jam.


"Kakak bahagia mendengar kamu kembali ke Jerman dan memutuskan untuk tinggal di Jerman, Ardian!"


"Aku juga bahagia kak. Beberapa bulan terakhir ini ntah kenapa aku merasa tak bahagia tinggal di Amerika. Pikiranku selalu tertuju kota Jerman."


"Kalau Kimberly tahu kalau Paman kesayangannya tinggal di Jerman dan tidak kembali lagi ke Amerika. Dia pasti sangat bahagia sekali," sahut Helena.


"Bagaimana tidak bahagia? Diantara kita, Kimberly orang pertama yang ingin Paman kesayangannya tinggal di Jerman," sela Liana.


"Kamu benar Liana. Putriku pernah curhat padaku. Dia mengatakan bahwa dia ingin semua adik-adik dari Daddy nya tinggal di Jerman," sahut Nashita.


"Dan sekarang keinginan Kimberly sudah terwujud. Papi Ardian sudah di Jerman sekarang!" seru Rehan.


"Tinggal Papa Samuel. Jika Papa Samuel memilih tinggal di Jerman. Lengkap sudah keluarga besar Aldama!" seru Fathan.


"Yup! Saat ini Papa Samuel berada di Singapura bersama dengan keluarga kecilnya. Ih, aku jadi kangen sama si kembar! Udah kelas berapa sekarang si kembar ya?!" Jovita berucap dengan penuh kebahagiaan sembari membayangkan wajah si kembar Nana dan Nina.


"Bagaimana kalau kita video call Papa Samuel?" tanya Fauzan.


"Jangan sekarang," cegah Pasya.


"Kenapa kak Pasya?" tanya Arziki.


"Kita video call sama Papa Samuel ketika Aryan, Valen, Triny, Billy dan Kimberly pulang sekolah. Nggak asyik jika video call tanpa mereka," jawab Pasya menjelaskan.


"Benar juga," sahut Arziki.


Setelah mengobrol kecil, mereka melanjutkan untuk menikmati beberapa makanan dan minuman yang mereka pesan melalui delivery.


Mereka menikmati makanan dan minuman itu dengan wajah yang bahagia, terutama Fathir. Dirinya bahagia satu adik laki-lakinya memutuskan untuk tinggal di Jerman. Tinggal adik bungsunya Samuel. Fathir berharap adik laki-lakinya itu juga memutuskan untuk tinggal di Jerman.