THERE IS LOVE IN SCHOOL

THERE IS LOVE IN SCHOOL
Kebohongan Aruna



Plak!


Seketika salah satu murid perempuan itu menampar pipi Kimberly. Murid perempuan itu marah karena Kimberly tidak mau bertanggung jawab atas sahabatnya yang terjatuh.


Kimberly memberikan tatapan tajam kearah murid perempuan yang sudah menampar pipinya.


"Kenapa lo nampar gue, hah?!" bentak Kimberly.


"Pake nanya lagi lo! Lo udah buat sahabat gue jatuh dan kesakitan. Sementara lo seenaknya main pergi gitu aja!" bentak murid perempuan itu dengan menatap marah kearah Kimberly.


"Bahkan lo nggak minta maaf sama sahabat gue," sela murid perempuan yang satunya.


Kimberly makin menatap marah kedua murid perempuan tersebut dengan kedua tangannya mengepal kuat.


"Yang nabrak duluan itu dia! Dia yang jalannya nggak pake mata!" bentak Kimberly dengan menatap nyalang murid perempuan yang sudah menampar pipinya dengan jari telunjuknya menunjuk kearah murid perempuan yang kesakitan itu. "Dan gue nggak harus minta maaf sama dia karena gue nggak salah," ucap Kimberly.


Setelah mengatakan itu, Kimberly pergi meninggalkan ketiga murid perempuan tersebut. Dirinya terlalu malas berlama-lama berurusan dengan ketiga murid perempuan itu.


"Lo mau pergi kemana, hah?! bentak murid perempuan pertama dengan mencekal pergelangan tangan Kimberly.


"Lo nggak bisa pergi kemana-mana sebelum minta maaf sama kita bertiga, terutama kepada sahabat kita." murid perempuan kedua berucap dengan ketus dan tatapan matanya yang menatap tajam Kimberly.


Mendengar perkataan dari kedua murid perempuan itu membuat Kimberly tersenyum menyeringai.


"Kalau gue nggak mau, lo berdua mau apa, hah?!" tantang Kimberly.


"Jadi lo berani sama kedua sahabat gue?" tanya murid yang terjatuh tadi.


Kimberly menatap wajah murid yang terjatuh itu. "Kenapa gue harus takut sama dua manusia modelan kayak mereka? Gue nggak takut sama kalian bertiga, termasuk keluarga kalian. Nggak ada di dalam kamu hidup gue takut sama orang-orang belagu kayak kalian."


Mendengar ucapan demi ucapan dari Kimberly membuat ketiga murid perempuan itu marah. Mereka menatap tajam kearah Kimberly.


"Besar juga nyali lo ya. Sekarang terima akibat dari apa yang lo perbuat hari ini," ucap murid perempuan yang memegang tangan Kimberly.


Murid perempuan itu melirik kearah dua sahabatnya. Sementara kedua sahabatnya yang mendapatkan lirikan dan kode seketika paham.


Setelah itu, keduanya langsung menyerang Kimberly secara bersamaan.


Kedua murid perempuan itu menyerang Kimberly dengan cara ingin menampar dan memukul Kimberly. Namun dengan gerakan cepat Kimberly menangkap tangan salah satu dari kedua murid perempuan itu bersamaan dengan Kimberly memberikan tendangan kuat tepat ke perut murid perempuan yang satunya sehingga membuat murid perempuan tersebut tersungkur di tanah.


Duagh!


Bruk!


Kimberly menatap marah kearah murid perempuan yang tangannya masih dipegang olehnya.


"Mau memukulku ya," ucap Kimberly sembari tangannya memelintir tangan murid perempuan itu hanya dengan menggunakan satu tangan kanannya. Sementara tangan kirinya masih dipegang oleh murid perempuan yang menampar pipinya.


"Aakkhh!" murid perempuan itu berteriak kesakitan ketika merasakan sakit di pergelangan tangannya. Murid perempuan itu seketika menangis.


Setelah puas melihat musuhnya kesakitan, Kimberly kemudian mendorong kuat tubuh murid perempuan itu sehingga tersungkur di tanah.


Bruk!


Murid perempuan itu menangis kesakitan sembari memegang pergelangan tangannya.


Kimberly menatap tajam kearah murid perempuan yang sudah menampar pipinya sehingga membuat murid perempuan itu ketakutan.


"Lo sudah salah mencari lawan, nona!"


"Aakkhh!"


Seketika murid perempuan itu berteriak kesakitan akibat dicekik oleh Kimberly.


Kimberly seketika mencekik leher murid perempuan itu dengan tangan kanannya sehingga membuat murid perempuan itu melepaskan tangan kirinya dan berpindah memegang tangan kanan Kimberly yang ada di lehernya.


"Mati saja kau," ucap Kimberly dengan menguatkan cekikikan di leher murid perempuan itu.


"Kimberly!" teriak Tommy yang datang langsung memeluk tubuh Kimberly dari belakang.


Tommy datang bersama Billy, Triny, Aryan dan para sahabatnya. Dan juga keempat sahabatnya Kimberly.


"Lepaskan dia sayang." Tommy berusaha membujuk Kimberly.


"Tapi dia sudah berani menamparku. Padahal aku tidak salah," jawab Kimberly.


"Iya, aku tahu. Tapi kamu sudah memberikan hukuman kepada mereka. Jadi aku rasa sudah cukup," balas Tommy.


"Kim," panggil Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


Kimberly langsung melihat kearah Billy. Dapat Kimberly lihat tatapan memohon Billy. Begitu juga dengan Triny dan Aryan.


"Lepaskan ya," mohon Triny.


"Kamu orang baik. Orang yang baik itu tidak akan menyakiti lawannya yang sudah tak berdaya," ucap Aryan sembari membelai kepala Kimberly.


"Lepaskan ya," ucap Billy dengan menyentuh tangan Kimberly yang ada di leher murid perempuan itu.


Berlahan Kimberly melepaskan cekikannya dari leher murid perempuan itu. Setelah terlepas, Tommy langsung membawa tubuh Kimberly menjauh.


"Kita ke kantin ya," ucap Tommy lembut.


"Nggak mau. Aku mau ke rooftop aja," jawab Kimberly.


Tommy tersenyum mendengar permintaan dari Kimberly. "Baiklah. Kita ke rooftop sekarang."


Setelah itu, Tommy membawa Kimberly menuju rooftop dan diikuti oleh Rere, Santy, Sinthia dan Catherine di belakang.


"Kalian susul saja Kimberly dan Tommy. Biar kita-kita yang urus tiga perempuan ini!" seru Triny.


"Baiklah!"


Setelah itu Billy, Aryan dan yang lainnya pergi menyusul Tommy, Kimberly, Rere, Santy, Sinthia dan Catherine.


Triny menatap iba ketiga murid perempuan yang kini dalam kondisi tak baik-baik saja.


"Maafkan kesalahan dari adik sepupuku. Lagian kalian juga yang salah. Salah satu teman kalian yang terlebih dahulu menabrak adikku. Tapi malah kalian yang marah-marah. Bahkan adikku sudah berusaha untuk menghindar. Tapi kalian yang memancing keributan. Jadilah seperti ini." Triny berucap sembari menatap iba ketiganya.


Setelah itu, Triny dan keempat sahabatnya membantu ketiga murid perempuan itu yang tak lain juga teman sekelasnya untuk dibawa ke UKS. Lebih tepatnya, ketiga murid perempuan itu adalah murid baru. Ketiga baru satu bulan bersekolah di sekolah ini.


^^^


Semuanya sudah berada di rooftop. Sejak sampai di rooftop, Kimberly tidak langsung berbicara. Justru Kimberly hanya melamun. Lebih tepatnya Kimberly tengah mengingat kejadian beberapa menit yang lalu.


Melihat Kimberly yang hanya diam tanpa berbicara sama sekali membuat Billy, Triny, Aryan, Tommy dan yang lainnya menatap khawatir Kimberly.


Billy berlahan mengusap lembut kepala belakang Kimberly sehingga membuat Kimberly langsung melihat kearah dirinya.


Kimberly mengalihkan perhatiannya ke depan. Setelah itu, Kimberly menarik nafasnya dalam-dalam lalu membuangnya pelan-pelan.


"Bil," panggil Kimberly.


"Ada apa, hum?" jawab Kimberly.


"Aku bertemu dengan dia," jawab Kimberly.


Billy, Triny dan Aryan saling memberikan tatapan. Mereka bingung dengan perkataan Kimberly. Begitu juga dengan Tommy dan yang lainnya.


"Dia?" tanya Aryan.


"Dia siapa, Kim?" tanya Triny.


Kimberly menatap wajah ketiga sepupunya secara bergantian. Dan seketika air matanya mengalir begitu saja membasahi wajah cantiknya.


"Lah kok malah nangis," ucap Triny dan langsung menghapus air mata Kimberly.


"Ada apa? Katakan," ucap Billy.


"Aku melihat kak Aruna," ucap Kimberly dengan suara lirihnya.


"Kak Aruna? Bukannya kak Aruna ada di London?" tanya Aryan.


"Kim!" seru Billy, Triny, Aryan bersamaan.


"Kak Aruna ada di negara ini," jawab Kimberly.


"Jadi kak Aruna sudah balik dari London?" tanya Aryan.


"Triny," panggil Andhika.


"Iya, Dhik."


"Siapa kak Aruna itu?" tanya Andhika.


"Kak Aruna itu kekasihnya kak Riyan. Mereka sudah lama pacaran. Hanya saja kak Aruna menetap di London beberapa bulan untuk meneruskan kuliah bisnisnya sampai selesai. Tinggal tiga bulan lagi kuliahnya selesai," jawab Triny.


Mendengar jawaban dari Triny membuat Andhika dan yang lainnya langsung paham.


"Hiks... Hiks...," Kimberly makin terisak sehingga membuat mereka semua makin khawatir.


Billy seketika langsung memeluk tubuh Kimberly. Dan Billy dapat rasakan tubuh Kimberly yang bergetar.


"Katakan padaku kenapa kamu seperti ini? Ada apa dengan kak Aruna? Kenapa kamu nggak bahagia ketika mengatakan bahwa kak Aruna berada di negara ini?" tanya Billy lembut.


"Kak Aruna... Kak Aruna tidak benar-benar mencintai kak Iyan. Selama ini kak Aruna sudah bohongin kak Iyan."


Mendengar perkataan dari Kimberly membuat Billy, Triny dan Aryan terkejut. Begitu juga dengan Tommy, Andhika dan yang lainnya.


Kimberly melepaskan pelukannya lalu menatap wajah Billy. Air matanya kembali jatuh membasahi wajahnya.


"Saat aku dalam perjalanan menuju ke sekolah. Aku tidak sengaja melihat kak Aruna. Awalnya aku berpikir kalau aku salah lihat karena yang aku tahu bahwa kak Aruna ada di London. Karena rasa penasaranku. Aku berhenti lalu mengikuti kak Aruna. Dan....."


Kimberly menghentikan perkataannya. Dirinya tidak sanggup untuk meneruskan ceritanya itu. Ditambah lagi air matanya masih terus mengalir membasahi wajahnya.


"Dan apa Kim?" tanya Triny.


"Kak Aruna bersama pria lain di sebuah cafe."


"Apa?!" teriak Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


Kimberly mengeluarkan ponselnya. Setelah itu, Kimberly mencari video ketika dirinya merekam adegan tersebut sebelum masuk ke dalam ruangan tersebut sebagai pelayan.


"Ini, lihatlah sendiri!" Kimberly memberikan ponselnya kepada Billy.


Billy mengambil ponsel milik Kimberly. Aryan dan Triny berpindah duduk di samping Billy agar bisa melihat ponsel Kimberly.


Billy melihat ada sebuah video di layar ponselnya Kimberly. Setelah itu, Billy menekan gambar segitiga putih di layar ponsel Kimberly.


Beberapa detik kemudian...


"Yak! Apa-apaan ini! Kenapa kak Aruna tega melakukan hal itu terhadap kak Riyan?! Apa kurangnya kak Riyan sehingga kak Aruna tega melakukan hal menjijikkan itu di belakang kak Riyan?!"


Aryan tampak marah ketika melihat dan mendengar ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Aruna.


Di dalam video itu terlihat dimana Aruna bersama seorang laki-laki yang tak lain kekasihnya. Aruna mendekati Riyan hanya untuk menaikkan statusnya dan status keluarganya di depan semua orang. Dengan menjadi bagian keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo membuat dirinya dan keluarga besarnya dipandang sehingga tidak ada yang berani melawan dirinya dan keluarganya.


Jika seandainya ada yang mencari masalah dengannya dan keluarganya, maka dia bisa memanfaatkan keluarga Aldama dan keluarga Fidelyo untuk membalas orang-orang yang sudah mencari masalah dengannya dan keluarganya.


Di dalam video itu juga Aruna menyebutkan bahwa dirinya tidak benar-benar mencintai Riyan. Dia selama ini hanya berpura-pura mencintai Riyan. Di dalam hatinya hanya ada Bethran seorang.


"Brengsek! Dasar perempuan murahan," ucap Billy dengan raut amarahnya.


Billy menatap wajah cantik sepupunya itu lalu tangannya menghapus air matanya.


"Semuanya akan baik-baik saja, oke! Kita akan lindungi kak Iyan dari perempuan ular itu," ucap Billy sembari menghibur Kimberly.


"Bagaimana caranya?" tanya Kimberly.


"Bagaimana kalau kita bagi tugas?" tanya balik Billy.


"Kamu bersikap biasa saja ketika berhadapan dengan kak Aruna. Kamu nggak perlu lakuin apa-apa seolah-olah tidak terjadi apa-apa," ucap Billy.


"Jadi maksud kamu. Aku bermain cantik di hadapan kak Aruna dengan berperan sebagai adik ipar yang baik. Sementara kalian bermain-main di belakang kak Aruna. Begitu?"


"Yup! Seperti itulah rencana yang akan kita buat," sahut Billy, Triny dan Aryan bersamaan.


"Kamu akan memberikan informasi tentang kak Aruna kepada kita setiap kamu bersama kak Aruna. Setelah itu, kita akan menjalankan niat kita." Aryan berucap dengan penuh semangat.


"Hm!" Billy, Triny dan yang lainnya menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan rencana Aryan.


"Baiklah," jawab Kimberly sembari tersenyum.


Melihat senyuman mengembang di bibir Kimberly membuat mereka semua akhirnya bisa merasakan kelegaan.


"Sudah tenang sekarang?" tanya Tommy dengan mengusap lembut kepalanya.


"Sudah," jawab Kimberly.


"Jadi, bisa ke kelas kita sekarang?" tanya Triny.


"Hm!" Kimberly berdehem disertai anggukkan kepalanya.


Setelah itu, mereka semua pun beranjak dari duduknya lalu segera pergi meninggalkan rooftop untuk menuju kelas masing-masing.