
Keesokan paginya Kimberly selesai sarapan bersama kedua orang tuanya dan keempat kakaknya. Sesuai janjinya kepada Tommy bahwa dia akan baik-baik saja. Dan terbukti hari ini dirinya tampak ceria.
Sementara untuk Fathir, Nashita, Jason, Uggy, Enda dan Riyan sudah mengetahui apa yang terjadi di sekolah karena Billy memberitahu Jason. Dan Jason memberitahu keluarganya.
Tin.. Tin..
Mendengar suara klakson mobil, seorang pelayan berlari menuju ruang tamu untuk membukakan pintu.
Beberapa detik kemudian...
"Siapa, Bi?"
"Tuan Tommy, nyonya!"
"Kenapa tidak disuruh masuk Tommy nya, Bi?" tanya Kimberly.
"Maaf, non. Tuan Tommy katanya nunggu diluar aja dan tuan Tommy meminta sama non untuk segera menemuinya."
"Baiklah."
Kimberly berdiri dari duduknya lalu melangkahkan kakinya menghampiri kedua orang tuanya. Setelah itu, Kimberly memberikan ciuman di pipi keduanya.
Selesai dengan kedua orang tuanya, Kimberly beralih menghampiri keempat kakak-kakaknya. Kimberly secara bergantian memberikan ciuman di pipi keempat kakak-kakaknya itu.
"Mom, Dad, Kak! Aku berangkat ya. Bye!"
Setelah berpamitan dengan kedua orang tuanya dan keempat kakaknya, Kimberly pun pergi menuju ruang tamu dan menemui Tommy yang sedang menunggunya di luar.
***
Dua pasang kaki yang terbalut oleh sepatu skets itu menapaki ubin kelas dengan langkah ringan. Mereka adalah Tama dan Samuel.
Biasa Tama dan Samuel rasakan perhatian para penghuni kelas langsung tertuju padanya. Tak mempedulikan hal bisasa tersebut, Tama dan Samuel melanjutkan langkahnya menuju kursinya.
Setibanya di kursinya, Tama dan Samuel langsung menduduki pantatnya kursi.
"Gimana? Kalian maukan gabung tim bakset?" tanya salah satu teman kelasnya yang bergabung dalam olahraga basket.
"Nggak" jawab Tama dan Samuel dengan singkat.
Lawan bicaranya berdecak kasar, sulit sekali merayu si hati kulkas seperti Tama dan Samuel. Dirinya ingat, ini sudah penawaran ke sepuluh kalinya dan jawabannya selalu sama yang diberikan oleh keduanya.
Tama dan Samuel sebenarnya jago dalam bermain basket. Hanya saja, keduanya sudah tidak ingin bermain basket lagi karena keduanya pernah dikhianati oleh anggota satu timnya. Kejadian itu ketika mereka berada di sekolah lamanya satu tahun lalu.
Tama dan Samuel adalah siswa pindahan dari Weixier High School kelas 2 SMP. Tama dan Samuel sudah enam bulan bersekolah di Since High School. Banyak siswi-siswi mengagumi Tama dan Samuel, salah satunya Viviana. Gadis itu begitu menyukai Tama. Sedangkan Tama sama sekali tidak tertarik dengan siswi yang bernama Viviana itu.
"Tama, Samuel. Ayolah! Potensi kalian sangat bagus di Basket. Hitung-hitung kalian berdua makin banyak penggemar agar kalian berdua semakin tenar disini," ucap temannya itu.
"Males," jawab Samuel.
"Nggak ikut basket aja gue udah tenar di sekolah ini. Buktinya Viviana selalu ngejar-ngejar gue sehingga membuat gue stres. Apalagi kalau sampai gue ikut basket. Pasti akan ada seribu Viviana yang akan ngejar-ngejar gue," jawab Tama.
Teman sekelasnya Tama dan Samuel yang bernama Lian berdecak kesal karena ucapan demi ucapan penolakan yang diberikan oleh Tama dan Samuel kepadanya.
Bukan tanpa alasan Lian begitu memaksa Tama dan Samuel untuk gabung dalam tim basket, dua bulan lagi Since High School akan mengikuti turnamen dengan beberapa sekolah.
Tapi Lian tidak melihat potensi kemenangan dari pantauan latihan setiap hari. Seminggu yang lalu Lian melihat Tama dan Samuel yang sedang bermain bola basket berdua dan jika dilihat oleh Lian, sepertinya Tama dan Samuel tahu banyak soal permainan bola basket.
Pasalnya, Tama dan Samuel seringkali mengkoreksi dirinya sendiri jika salah ketika latihan.
"Ya, udah kalau begitu! Bagaimana kalo lo ajarin kita aja," tawar Lian mencoba bernegoisasi kepada Tama dan Samuel.
"Tugas guru Irfan!" Tama dan Samuel menjawab bersamaan.
Astagaaa, Lian sampai meremas tangannya sendiri saking gemas dengan ucapan penolakan dari Tama dan Samuel.
Lian tahu ada gur Irfan, tapi bagaimana lagi? Pelatihnya juga yang meminta Lian untuk membujuk Tama dan Samuel agar mau bergabung dengan tim basket.
"Ya, jadi pelatih kedua."
Tama dan Samuel tetaplah Tama dan Samuel, tidak akan pernah mau menuruti orang lain, kecuali orang tuanya sendiri.
***
Kimberly sudah berada di sekolah. Kini Kimberly sedang melangkahkan kakinya menuju kelasnya. Namun seketika langkah terhenti ketika seorang laki-laki menghadang jalannya.
"Aish, dia lagi." Kimberly membatin.
Setelah menatap laki-laki di depannya, Kimberly memutuskan untuk pergi. Dirinya tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan laki-laki yang tak jelas dan aneh menurutnya.
Disaat Kimberly hendak melangkah, lebih tepatnya baru dua langkah. Laki-laki itu dengan kurang ajar mencekal pergelangan tangan Kimberly.
"Yak, Azka! Lepaskan tangan gue!" bentak Kimberly.
Laki-laki yang menghadang Kimberly adalah Azka, laki-laki yang seenaknya masuk ke dalam mobil Kimberly ketika mobilnya mogok dan bersikap tidak sopan.
"Kalau gue nggak mau. Lo mau apa, hum?" tanya Azka dengan tersenyum manis menatap wajah cantik Kimberly.
"Gue ngomong sekali lagi. Lepaskan tangan gue!" bentak Kimberly.
"Gue nggak mau." Azka menjawab dengan makin mengencangkan pegang tangan Kimberly.
Kimberly benar-benar marah terhadap Azka atas apa yang dilakukan oleh Azka. Tatapan matanya menatap tajam Azka.
"Lo benar-benar brengsek! Lepaskan tangan gue!"
"Jawabannya tetap sama. Tidak!"
Kimberly seketika melayangkan tamparan ke wajahnya Azka, namun dengan cepat Azka menangkap tangan Kimberly.
"Nggak akan bisa lo nampar gue, cantik! Tangan lo terlalu cantik dan halus untuk melakukan kekerasan."
Azka mengusap-usap lembut punggung tangan Kimberly, kemudian Azka mengecupnya berulang kali.
Kimberly seketika membelalakkan matanya ketika melihat apa yang dilakukan oleh Azka. Dirinya semakin menatap tajam disertai amarah kearah Azka.
Sreekk..
Plak..
Kimberly berhasil menarik tangannya bersamaan dengan satu tamparan keras di pipi Azka.
Mendapatkan tamparan dari Kimberly membuat Azka menatap marah kearah Kimberly. Dirinya sebagai laki-laki tidak terima jika dirinya ditampar. Ini adalah untuk pertama kalinya Azka ditampar oleh perempuan.
"Lo berani nampar gue?!" bentak Azka.
"Tuh buktinya. Satu tamparan mendarat mulus di pipi lo. Kenapa? Lo mau marah sama gue? Yang salah kan lo. Kenapa lo yang jadi marah karena gue tampar," sahut Kimberly dengan tatapan seringainya.
Mendengar jawaban dari Kimberly membuat Azka mengepal kuat tangannya dan dengan tatapan matanya menatap marah kearah Kimberly.
"Karena lo udah berani nampar gue. Lo harus dihukum."
Azka seketika menarik tangan Kimberly, namun Kimberly langsung menghindar sehingga Azka tidak berhasil menyentuh dirinya.
"Nggak semudah itu lo bisa nyentuh gue," ucap Kimberly.
Setelah mengatakan itu, Kimberly langsung pergi meninggalkan Azka sendirian. Dirinya benar-benar muak akan sikap Azka padanya.
Sedangkan Azka yang melihat kepergian Kimberly memutuskan untuk mengejar Kimberly, namun tiba-tiba seseorang menahan bahunya dari belakang sehingga membuat langkah Azka terhenti.
Azka membalikkan badannya dan melihat orang yang sudah menahannya.
"Lo."
"Iya, ini gue."