The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Episode 52 : Kencan (2)



Akhirnya mau bagaimana lagi?


Mau ngga mau Randi terpaksa membelikan saldo kartu gesek buat Vandro dan Vanora.


"Saldo sudah terisi, selamat bersenang-senang" kata Pihak Gamezone.


Sementara itu Amanda dan Sembilan...


"Wah! High Score!" kata Amanda selesai bermain game menembak.


Plok! Plok! Plok! Sembilan menepuk tangan.


"Manda hebat!" kata Sembilan memuji.


"Ahaha! Kak Sembilan bisa aja!" kata Amanda tersenyum sangat cantik, bahkan membuat pengunjung lelaki di sana sulit untuk berpaling.


"Saya makin Syuka!" kata Sembilan dengan wajah senang tapi aneh. Tapi bagi Amanda itu biasa saja.


"Hehe, ayo kita main itu lagi yok!" kata Amanda sambil mengajak Sembilan.


"Ayo! ku traktir!" kata Sembilan.


Sembilan dan Amanda sangat bersenang-senang disitu, mereka bermain capit boneka, Mobil-mobilan, tentu saja mobil-mobilan itu keahlian Amanda.


"Yuhu!" kata Amanda.


"Tralala Trilili" kata Sembilan memainkan setir mobil disitu.


"Yuk! main yang lain" kata Sembilan.


"Wah... Setir mobilnya copot! syukur permainan setir mobilnya ngga copot saat Kak Sembilan yang main" kata Amanda melihat pengunjung menduduki kursi Sembilan dan setir mobil yang dimainkan pun Copot.


"Kak Sembilan! ada permainan bela diri! ke sana!" kata Amanda berlari ke sana.


"Begitu ku perhatikan... Kak Sembilan itu... tidak terlalu Pandai memainkan semua permainan disini, tapi asyik bisa bersama Kak Sembilan" batin Amanda sambil tersenyum.


Akhirnya Amanda menduduki kursi itu, kursi permainan simulasi bela diri.


"Disini akan ada efek menyerang dan juga terkena serangan, Manda milih bela diri apa?" tanya Sembilan.


"Karate!" kata Amanda.


"Good! sekarang di bawah kaki Manda ada dorongan untuk melakukan penyerangan melalui kaki, kalau di tangan juga ada, ini peralatan untuk menggunakannya, ada helm pelindung, dan pelindung tubuh bagian depan" kata Sembilan menjelaskan.


"Saat Manda pakai helm ini, otomatis pikiran Manda tersambung dengan mesin ini jadi Manda bisa melakukan gerakan apapun, bahkan bisa salto belakang dan depan sesuai yang Manda mau di pikiran Manda" kata Sembilan lagi.


"Wah! lengkap! Kak Sembilan tahu banyak ya" kata Amanda.


"Tekan ini" kata Sembilan.


Tit! Amanda menekan tombol dan mulai.


"Sabuk hitam... " pikir Amanda.


Lawan Amanda menendang.


"Ukh!" Amanda merasakan efek serangan itu.


"Serang Manda!" kata Sembilan.


Tanpa sadar, Amanda di perhatikan oleh mereka.


"Hiyaaa!!! Tendangan berputar!" kata Amanda otomatis kursi itu berputar dari depan seperti salto depan!.


"Wah! Manda hebat!" kata Sembilan.


Plok! Plok! Plok! yang memperhatikan Amanda juga ikut bertepuk tangan.


"Wah! ada permainan simulasi menjinakkan kupu-kupu! aku suka kupu-kupu biru! Kak Sembilan, kita ke sana boleh?" tanya Amanda.


"Apapun yang membuat Manda senang pasti boleh" kata Sembilan.


"Wah! makasih banyak Kak! aku mau kupu-kupu biru!" kata Amanda tersenyum senang, sedangkan Sembilan menatapnya dengan tersenyum juga.


Kembali ke Tim Randi...


"Dro! coba lagi gih, mesin bonekanya!" kata Vanora.


"Ya! ini lagi di coba! ayo! ah! jatuh!! padahal sedikit lagi!" kata Vandro.


"Yah! coba lagi deh Dro!" kata Vanora.


Vandro dan Vanora sudah mencoba setengah jam, tapi bagi mereka itu serasa seperti 5 menit...


"Hei! udah dong! saya udah ngantri setengah jam nih!" kata pengunjung yang ngantri.


"Sebentar!" kata Vandro dan Vanora dengan tampang menyeramkan yang membuat si pengunjung perlahan-lahan mundur sambil bergidik ngeri.


Vandro dan Vanora sangat serius seperti sedang belajar dalam pelajaran matematika.


"Ya! akhirnya berhasil!" kata Vandro.


"Haha! Kakakku memang hebat!" kata Vanora.


"Setelah coba 26 kali aja... girang banget" pikir pengunjung itu heran.


"Nih... buatmu" kata Vandro.


"Hah!? buatku?" tanya Vanora masih bingung.


"Ya... terus buat siapa? demit?" tanya Vandro.



"Lagian ni boneka kagak ada lucu-lucunya, bentuknya Absurd gitu juga" kata Vandro agak mengejek.


"Wah! tapi aku suka! makasih Vandro!" kata Vanora girang.


Sementara itu Kondisi Randi...


"Dimana!? dimana mereka!? Ah! kehilangan jejak!" kata Randi yang mencari kemana-mana.


"Duh! aku harus cari mereka!" pikir Randi.


Tiba-tiba...


JDUK! ada bola basket mengenai kepala Randi. Randi meringis kesakitan sambil menunduk.


"Siapa yang lempar!? Hah!? basket?" pikir Randi.


"Maaf... apakah anda tidak apa-apa?" tanya Seseorang yang sangat di kenal Randi.


"Sembilan!!!"