The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Chapter 8: Kangen



Hari Senin...


"Saatnya bekerja" gumam Amanda.


"Memangnya, kapan aku bisa bertemu Kakak ya?" batin Amanda.


Bruk!


"Hei! Hati-hati dong!" kata Vian.


Vian kaget, "Amanda?!"


"Lho? Vian, ya? maaf, kenapa kaget?" Kata Amanda.


Erlan! lain kali hati-hati!


Vian terbelalak, kemudian pergi dengan wajah kesal, "Sudahlah, tidak mungkin Amanda yang itu. Ini Amanda yang lain"


Amanda hanya bingung dan kembali bekerja.


Sore hari...


"Amanda!" bisik Vandro di samping pagar.


Drap! Drap! Drap! suara drapan kaki Amanda berlari kesana.


"Ayo Amanda! kita pergi ke menara Timur" Sahut Vandro.


"Iya Pak"


Saat Sampai di menara ****Timur****...


"Ayo, kita kedalam" Kata Vandro.


"Iya Pak!"


Saat masuk ke menara Timur, mereka langsung pergi ke dalam ruangan sepi.


"Ini, ngapain Pak?" tanya Amanda.


"Kita mau ke Rosement"


"Hah!? lewat sini!?" kaget Amanda.


"Ya, kalau ngga salah disini deh tombolnya,... dapat!" Jawab Vandro.


Vandro langsung menggeser batu, dan mengakses kata sandi dengan pinnya.


Langsung dari bawah Batu, muncul seperti meja yang seperti mirip kapsul, didalamnya ada kursi, sepertinya Amanda tau yang harus dilakukan.


"Ayo Amanda, duduk sini masuk kedalam Kapsul" Sahut Vandro.


"I-iya Pak!" kata Amanda sambil bingung.


Wing!! Lift Kapsul yang berjalan, disana menyimpan semua Hal-hal yang Rahasia, seperti:


-Mahkota Kerajaan untuk Raja, Ratu, Pangeran, dan Putri.


Amanda terdiam, "Kenapa mahkota Raja ada di penyimpanan bawah tanah? eh? gambar segel kerajaan... kenapa sama dengan liontinku?!"


"Hm? kenapa Amanda? kenapa serius gitu?" Tanya Vandro yang heran melihat Amanda sangat serius melihat Barang-barang itu.


"Eh? Em sebenarnya-..." Amanda belum selesai bicara dia mengingat Wasiat Ibunya.


Tapi ibu berpesan, agar jangan pernah memberitahukan Liontinmu itu kepada siapapun!


"Em, ngga ada apa-apa! hanya terkesima aja lihat semua Barang-barang ini, hehe" Jawab Amanda sambil panik didalam hati.


"Oh begitu"


"Oh iya Pak Vandro, apa Pak Vandro sengaja mengajak saya kesini, untuk melihat semua ini?" tanya Amanda.


"Ya benar, agar kamu tau bagaimana dan dimana saja tempat rahasia menuju Rosement itu berada, ini juga keinginan Pangeran" Jelas Vandro.


Amanda terdiam, "Keinginan Pangeran Aliandra? keinginan untuk mengetahui jalan rahasia ini... atau keinginan soal liontin-... jangan suudzon, Amanda! hanya Ibu dan aku yang tahu! tapi, gambar segel kerajaab tadi..."


TING! sudah sampai.


"Ayo masuk" ajak Vandro.


"I-iya Pak!" Kata Amanda.


"Em, saya langsung kekamar ya Pak!" Kata Amanda.


"Oh, iya"


Drap! Drap! Drap!


Ceklek, Blam!


"Huuft..." Amanda menghirup Inhalernya karena berlari menjadi pemicunya.


"Benaran? atau hanya kebetulan? Liontinku? sama dengan yang difoto pajangan itu! Apa ini?" tanya Amanda, sambil menghirup Inhalernya kembali.


Akhirnya setelah dia mandi, dan makan malam, ia akan kembali ke kamarnya...


Amanda melihat Vanora, dan yang lainnya bermain lempar sandal, ia hanya tersenyum melihatnya namun tak ingin bermain saat diajak Vanora di ruang makan tadi.


Vian juga terbawa suasana dan bermain lempar sandal, wajahnya tersenyum senang, tertawa.


Amanda terbelalak melihat Vian tertawa, terlintas memori di otaknya seorang lelaki yang muncul dimimpinya sebelumnya.


"Erlan?"


Deg, Amanda terdiam, dipandangnya telapak tangannya itu.


"Erlan? kenapa? kenapa aku menyebut nama itu? siapa dia?" batin Amanda.


Tiba-tiba air mata Amanda keluar dari pelupuk matanya, deras.


Amanda sendiri tidak tahu kenapa ia menangis tiba-tiba, tidak ada penyebabnya. Namun bergegas ia akan kembali ke kamarnya, rasanya malu ia menangis tidak jelas di sana.


"Kenapa ini? malu-maluin nangis gak ada sebab gini! tapi, entah kenapa hatiku rasanya, kangen"