
Nomor 876
"Ini bener kamarnya, kak?" tanya Amanda.
"Ya... ini kamarnya" kata Nera sambil membuka pintunya.
Ceklek!.
"Yo Ton! aku bawa rombongan nih!" kata Nera.
Toni sedang berolahraga dengan menggunakan barbel kecil, dan menatap dengan wajah Arogan dan datarnya.
"Apa-apaan ini Nera? kenapa bawa rombongan gini?" tanya Toni.
"Ya ngga apalah... biar rame, hehe" kata Nera cengengesan.
"Kau ngapain ke sini?" tanya Toni pada Radith.
"Tuan kebetulan ke sini karena sedang ada urusan dengan dokter Randi, jadi aku sekalian kesini... apa ada masalah?" tanya Radith.
"Huft!" Toni entah kenapa kesal.
Amanda mendekatkan kursi rodanya ke arah Toni.
"Ng?" Toni melirik Amanda.
"Kak Toni.. semoga cepat sembuh ya, ini ada bunga... aku juga ingin bicarakan sesuatu dengan kak Toni, semoga Kak Toni berkenan" kata Amanda yang menyodorkan dengan tangan kanannya, karena tangan kiri nya masih dalam proses penyembuhan.
Toni melihat tangan kiri Amanda yang di perban segitiga.
"Emang mau bicarakan apa?" tanya Toni.
"Sebenarnya aku kesini karena untuk mengawasi Putri Aliana,... Raja ingin melihat bagaimana Toni dengan Tuan Putri, di kamar Toni.. ada CCTV tersembunyi... jadi sekarang, Tuan Raja dan dokter Randi sedang mengawasi CCTV itu di sebuah ruangan... Raja juga bilang agar membiasakan memanggilnya Tuan, dan Putri Aliana juga ingin agar aku membiasakan memanggil Putri Aliana dengan sebutan Nona ini memang sulit.." batin Radith.
"Ng... begini, makasih karena Kak Toni udah menyelamatkan ku dan Kak Rafa saat insiden cakar naga waktu itu.. bahkan perlu ditembak oleh, Rey" kata Amanda.
"Cih! ngga usah bawa-bawa nama itu di depan ku lagi" kata Toni.
"O.. Oh, maaf kak... jadi, sebagai imbalan karena sudah menyelamatkan ku.. apa yang kak Toni mau? aku bisa menemani Kak Toni kok kalau mau, kalau ingin barang, aku mungkin bisa coba beli" kata Amanda.
"Heh... kenapa perlu repot-repot? baiklah... bagaimana kalau kau bayar dengan tubuhmu? kau mau? aku selalu penasaran kenapa kau selalu memakai pakaian tertutup" kata Toni tersenyum menantang.
"Hah?" tanya Amanda dengan tenang tapi heran dengan kata-kata Toni.
"Apa....!!!?" batin Radith kaget.
"HAAAH!!!!?" tanya Vanora kaget.
"TONI!?"
Di Ruangan lain...
"Woi!!! maksudnya si Toni itu gimana!!!? si Toni udah kurang ajar!!!" tanya Randi sambil mengguncangkan tubuh Andra yang ada di sebelahnya begitu mendengar dari layar kalau Toni berkata seperti itu.
"Woi Ndra! kita kesana aja apa ngga!?" tanya Randi panik.
"Ada Radith di sana" bisik Andra.
****
"Toni... berhenti, kau sudah kurang aja pada Amanda... minta maaf sekarang" kata Radith.
"Woi! pala banteng! kau kurang ajar banget ngomong kayak gitu ke Amanda! bisa lebih sopan ngga!!? kayak ngga pernah sekolah!" Seru Vanora pada Toni.
"Yah! aku kan cuma bilang gitu, lagipula aku kan udah pasang badan dia dari tembakan waktu insiden, meski dia terlihat luka yang lebih parah... bayar pakai tubuhnya atau kalau ngga mau buat aku seneng sebagai gantinya... disini ngebosenin" kata Toni sambil menutup sebelah telinganya karena suara Vanora terlalu keras.
"Huh!"
"Baiklah" kata Amanda.
"Hah!?" tanya Toni dan Vanora.
"A... Amanda!?" Vanora tidak percaya.
"Ok, aku akan terima tantangan dari kak Toni.. sebagai gantinya, kak Toni jangan meremehkan aku lagi! aku ngga sudi dan ngga terima, bahkan bisa-bisa aku menghajar kak Toni jika menganggap ku tidak bisa menerima sebuah tantangan! aku ngga suka!" kata Amanda.
"No... Nona!?" batin Radith.
"Aku akan menantang Kak Toni! jika aku bisa membuat Kak Toni nyaman atau senang, aku akan menang!" kata Amanda.
"Oh, sebuah tantangan? benar juga, kau waktu itu pernah meneriaki ku bukan?" tanya Toni.
"Ok, ku Terima tantangan mu, tapi bagaimana jika aku hanya bisa senang dengan kau yang membayarnya dengan tubuhmu bagaimana?" tanya Toni berdiri di depan kursi roda Amanda dengan wajah menantang.
"Ok! Aku terima tantangannya! aku tahu.. harus gimana!" kata Amanda menatap Toni dengan serius.
"W... wah" Nera bereaksi begitu karena tahu bahwa selama ini tidak pernah ada yang membuat Toni senang ataupun berwajah biasa.
"Sebelum itu, kak Radith.. apakah aku bisa meminta sesuatu?" tanya Amanda berbalik ke Radith.
"Eh!?"
****
"Woi! kita ke sana aja apa aja ya!!? aku kuatir Ndra!!!!" seru Randi.
Andra : "..... " Andra hanya menatap rekaman CCTV dengan serius.
****
Jreeng! suara lantunan gitar yang merdu di mainkan Amanda dengan pelan.
🎼Chiisa na katta wo narabete aruita🎼
🎼Nande mo nai koto de waraiai, onaji yume wo mitsumeteita🎼
🎼Mimi wo sumaseba ima demo kikoeru🎼
🎼Kimi no koe ORENJI-iro ni somaru machi no naka🎼
🎼Kimi ga inai to hontou ni taikutsu da ne🎼
🎼Samishii to ieba warawarete shimau kedo🎼
🎼Nokosarete mono nando mo tashikamaru yo🎼
🎼kieru koto naku kagayaiteiru🎼
🎼Ameagari no sora no you na kokoro ga hareru you na🎼
🎼Kimi no egao wo oboeteiru omoidashite egao ni naru🎼
🎼kitto futari wa ano hi no mama mujaki na kodomo no mama🎼
🎼Meguru kisetsu wo kakenukete iku sorezore no ashita wo mite🎼
- Judul lagu : Orange
- By : 7!!
Jreng! Amanda memetik salah satu tali gitar menandakan lagu yang dia nyanyikan selesai.
Toni terlihat tidur karena merdu akan lagu yang di nyanyikan Amanda.
"Hah!!?" Toni sadar kalau dia tertidur karena lagu yang di nyanyikan Amanda.
"Hahaha!!! wajah malumu itu!! seumur hidup baru kali ini aku lihat!! wakakaka!!!" Vanora tertawa lepas.
"Hahahaha!!! kok aku gemes ya!?" tanya Nera yang tertawa sambil memukul-mukul ranjang Toni.
****
"Ma... maksudnya apaan iki?" tanya Randi.
Andra tetap saja diam, sedang menilai apa sebenarnya yang akan di lakukan adiknya.
****
"Bagaimana Kak Toni? merasakan relaksasi dari lagu ku?" tanya Amanda.
Plok! Plok! Plok! Nera dan Vanora memberikan tepukan tangan kepada orang pertama yang membuat Toni menampakkan wajah malu dan tersulut perasaan.
"Kalau Kak Toni mau lagi.. silahkan aku selalu siap dengan 1000 lagu di kepalaku" kata Amanda sambil tersenyum.
"Heh, siapa juga yang mau coba?" tanya Toni berusaha agar tidak salting.
"Tapi Kak Toni tadi ngga nolak kan? tadi suaraku dan laguku enak kan? Kak Toni nikmatin laguku kan? iya kan? berarti aku menang, haha... yeay!" kata Amanda.
Sementara itu Andra dan Randi...
"Hadeeh!!" Randi menepuk jidatnya, sedangkan Andra masih saja berpikir.