
Sesampainya di Osaka...
Banyak warga yang melihat lokasi kejadian. Putra bersama tim forensik dan penyelidikan ada di situ, dia memimpin salah satu kantor Departemen Metropolitan.
"すみません、この-けんでじぶんがやくわりおはたしたというじょせいがいます"
Sumimasen, kono-ken de jibun ga yakuwari o hatashita to iu josei ga imasu
( Permisi Pak, ada seorang wanita yang mengatakan kalau dia ikut berperan dalam kasus ini )
Kata tim polisi.
"かれおきたさせて"
Kare o kitasa sete
( Izinkan dia kemari )
kata Putra.
"はい"
Hai
( Ya )
Ya... seperti yang di duga Putra, Amanda datang.. bahkan lebih cepat dari dugaan.
"おくれてすみません"
Okuretesumimasen
( Maaf aku terlambat )
Ujar Amanda yang sudah mengubah suaranya.
"かみませんよ"
Kamimasen yo
( Tidak apa )
kata Putra.
"Kita gunakan bahasa biasa saja agar tidak ada yang mendengar" bisik Amanda.
"Ya"
"Jadi... Fukuda Momosaki-san telah tiada, aku bahkan tidak dapat mengucapkan salam perpisahan dan terimakasih padanya" gumam Amanda.
"Itu tidak perlu di pikirkan, untuk saat ini kita perlu mengambil kesimpulan bahwa ini adalah pembunuhan" kata Putra.
"Kurasa kau benar, jika terbentur sesuatu, Fukuda-san tidak akan sampai berdarah begini,.. tapi kenapa aneh?" tanya Amanda.
"Maksudmu?" tanya Putra.
"Luka pukulan di kepala Fukuda-san ada di sebelah kanan, tapi kenapa lukanya mengarah ke atas? seperti menunjuk ke arah sesuatu" kata Amanda mulai mengangkat kepalanya dan melihat ada...
"Ayunan?" tanya Putra.
"Aku tidak tahu, tapi dia mungkin tengah berusaha memberi tahu sesuatu tentang pelaku kan?" tanya Amanda.
"すみません"
Sumimasen
( Permisi )
"Ng?"
"わたしわおさかゆきょくでhあたらいていませが、ここでさつじんじけんがあったとききましたが、なにかおてつだいできることわありますか?"
Watashi mo Osaka un'yu-kyoku de hataraite imasuga, koko de satsujin jiken ga atta to kikimashitaga, nanika otetsudai dekiru koto wa arimasu ka?
( Aku juga bekerja di Departemen Transportasi osaka, aku mendengar ada pembunuhan disini, apa ada yang bisa ku bantu? )
tanya seorang wanita.
"あかねちゅい?!"
Akane Chui?!
( Letnan Akane?!)
"み...みこ-ちゃん!? ひさしぶり!!"
Mi... Miko-chan!? Hisashiburi!!"
( Mi... Miko!? lama tak berjumpa!! )
kata Akane.
"うわ-、そです、おがねきですか?"
Uwa, sodesu, ogenkidesuka?
( Wah, benar juga, bagaimana kabarmu? )
tanya Amanda.
"わたしわげんきです"
Watashi wa genkidesu
( kabarku baik )
kata Akane.
"Ku harap kau ingat kalau aku bisa menggunakan bahasa biasa" bisik Akane.
"A... Akane-san?! bahasa mu!" kata Amanda.
"Hahaha!! sudah ku duga kau lupa! Hirata-sama memberitahu ku kalau Ratu Carna sedang berkunjung ke Osaka bukankah agak aneh?" tanya Akane.
"Maaf, aku hanya kaget mendengar kalau Momosaki-san telah... " Amanda memotong kata-katanya.
"Sebenarnya, mungkin ada 3 tersangka" kata Akane.
"Apa!?" tanya Amanda dan Putra bersamaan.
"3 orang itu aku dan Momosaki interogasi karena melanggar peraturan lalu lintas secara bersamaan dan mungkin salah satu diantara mereka akan balas dendam" kata Akane.
"Siapa saja?!" tanya Putra.
"Pertama, Takahashi Aono... dia melanggar lalu lintas karena memegang Ponsel dan tidak memakai sabuk pengaman lalu dia bilang akan ada hal darurat yang menimpa pacarnya" kata Akane.
"Kedua, Tanaka Shiro... dia melanggar lalu lintas karena melebihi batas kecepatan yang di tetapkan, dia memiliki alasan bahwa istrinya marah-marah karena tidak segera membelikan tepung kanji"
"Ketiga, Yamamoto Eiji... dia di tilang karena tidak mengganti nomor plat motornya" Jelas Akane mengakhiri kronologinya.
"Aku mengerti... jadi apa yang harus kita lakukan?" tanya Putra.
"Aku akan melapor ke komandan Arsya agar dapat di seleksi lebih lanjut" kata Amanda.
"Ah! jangan Miko!" kata Akane.
"Ng? kenapa?" tanya Amanda.
"Biar aku yang menyelesaikannya! akan berbahaya dan mengganggu jika ada orang lain yang bertanya bukan?" tanya Akane.
"Ta.. Tapi aku sudah mengubah suara ku" kata Amanda.
"Meski begitu, akulah yang bersangkutan" kata Akane.
"Biar saja Amanda" kata Putra.
"Hah.. baiklah, Hati-hati ya Akane-san" kata Amanda.
"Ya! dan kau detektif! apa ada yang ingin kau katakan padaku?" tanya Akane.
"Ck!" Putra berdecak malas.
"じゃね,あかねおばさん"
Jane, Akane-obasan
( Sampai jumpa, Bibi Akane )
kata Putra.
BLETAK!
"Sakit.. " gumam Putra.