
Sudah sekitar 1 minggu aku berada di rumah sakit... benar-benar membosankan, tapi demi penyembuhan....
Beberapa hari yang lalu... Vian dan Pak Randi datang menjenguk ke kamarku sambil membawa bingkisan.
"Kaget ya? ini rumah sakit pusat milik keluarga ku, Andra menyewa gedungnya sebagai privat agar orang ngga sembarangan masuk, kecuali yang berwenang" jelas Randi.
Aku juga meminta maaf pada Vian karena meninggalkan dia di restoran.
"Kenapa pada minta maaf segala sih!? kemarin Andra, terus Vandro, Nera, dan sekarang kamu! aku juga minta maaf Amanda, karena responku terlambat saat menolong mu di serang pelayan itu" kata Vian.
"Ngga apa-apa" kata Amanda menunduk.
"Eh? sekarang kamu udah berani meminta maaf di tempat umum? biasanya canggung kan?" tanya Amanda, Vian kaget, dan Randi meledek Vian.
Akhirnya aku menceritakan apa yang terjadi padaku dan Kak Rafa saat di culik anggota geng cakar naga pada Pak Randi dan Vian, mereka lumayan terkejut mengenai hal itu, moodnya juga langsung terlihat ngga enak.
"Bagaimana dengan luka-lukamu?" tanya Randi.
"Alhamdulillah ngga apa-apa kok Pak, untuk tanganku yang kena tembakan, ini... juga ngga terlalu sakit, untuk luka biasa di wajah, dan di tangan itu udah biasa, kalau yang kepala ini hanya gegar otak" kata Amanda.
"Kau yakin? kenapa kelihatannya kau banyak sekali memakai perban? di kepala, tangan, juga wajah" kata Vian menyelidiki.
"Aku.. di pukuli dan luka biasa kok, ngga usah terlalu di pedulikan, lagipula... aku kan kuat!" kata Amanda sambil tersenyum.
Vian tertegun.
"Lagipula... aku kan kuat Erlan!"
"Pak Randi... apakah semuanya bisa sembuh kembali?" tanya Amanda agak khawatir.
"Saya akan berusaha sampai semuanya sembuh" kata Pak Randi.
"Kau tetaplah istirahat sampai keadaan membaik dan boleh pulang, jangan keluyuran!" kata Vian.
"Ok... kalian berdua disini saja ya, aku harus menemui seseorang" kata Randi setelah memeriksa Ponsel nya.
"Iya" kata Vian dan Amanda bersamaan.
"Kurang tahu... memang luka-lukaku tidak separah punyamu, tapi aku disini juga buat nemenin Vandro" kata Vian.
"Oh.. gitu ya, ngomong-ngomong, Vian... sebelumnya bagaimana keadaan para staf?" tanya Amanda.
"Em... yang lagi terluka, mereka lagi mendapat perawatan khusus, tapi baik-baik saja" kata Vian.
"Sebelum itu... apa boleh Vian? aku bertanya sesuatu padamu?"
Sementara itu di ruang tunggu rumah sakit...
"Huh! pasca operasi dari 3 hari yang lalu pun sudah dilakukan... tapi kenapa kau pun belum sadar, Ton!?" pikir Nera gusar.
"Perang ini... perang antar geng yang melibatkan warga biasa, hingga aparat negara... perang ini siapa yang menang dan kalah? kerugian yang di dapat dari 3 kubu, kelompok ku, kelompok Rey, juga aparat negara yang melindungi para warga" batin Nera.
"Ya... kami sekarang tengah menyelidiki kasus ini.. tapi menurut kesaksian warga, ada kelompok geng cakar naga yang memiliki atribut merah itu menolong warga, bagaimana kesimpulan anda?" tanya Wartawan di TV rumah sakit.
"Cakar naga, tetaplah geng! jangan jadikan mereka pahlawan! mereka sudah banyak berbuat onar!" begitu jawaban yang di wawancara di TV.
"Aku sama sekali tidak ingin menjadi seorang Pahlawan" batin Nera.
BUK! Nera meninju tembok, saking sebalnya.
Di istana....
Ruang kerja Andra...
Andra duduk di meja kerjanya.
"Ini di temukan di kantong jaket Rafa" gumam Andra melihat sebuah Foto.
"Ini.... " Andra memperhatikan foto itu dengan mengerutkan alis.