
Pak Andi berdiri di makam Arif dan Afifah.
"Nak Mika, Nak Kaito" gumam Pak Andi.
"Saya berjanji, akan menjaga kedua Putra-Putri kalian sampai mereka dewasa, sayangnya sekarang mereka masih kecil, tapi tak apa, saya akan berusaha" Jelas Pak Andi.
_______
"Dan begitulah, Pak Andi sudah lama tidak mengeluarkannya kekuatan sebenarnya, karena itu mengancam nyawanya, dia tidak mau tiada, bukan karena takut mati" Kata Randi.
"Eh?" Amanda yang duduk di kasur masih mendengarkan.
"Dia hanya tidak mau Andra nanti depresi dan akan tidak peduli dengan sekelilingnya, beliau ingin agar Andra bisa merasakan namanya di pedulikan, karena selama ini saya, Vian, dan termasuk Pak Andi juga sering berkunjung dan menghiburnya, tapi karena lumayan sibuk dengan kepemimpinan yang dia pegang" Jelas Randi.
"Aku mengerti Pak, tapi tetap saja... lalu apa yang terjadi saat pertarungan? Pak Andi tidak mengeluarkan kekuatan sebenarnya karena hal itu?" tanya Amanda.
"Ya, itu benar"
"Oh, lalu siapa 'dia' yang Anda maksud?" tanya Amanda.
"Em, dia.. "
Di Ruangan Andra..
"Bodoh! kau seperti itu hanya demi mengalahkan makhluk sewel itu?" tanya Vian.
"Ya, tapi tetap terimakasih Vian... maksudnya Erlan, karena mu kami selamat" kata Andra.
"Tidak usah seperti itu, aku mencium aura tidak enak saat di Rosement, pekat sekali... dan energi mu bahkan tercium pekat sekali, mulanya aku berpikir itu hanyalah ilusi saja, tapi lama kelamaan perasaanku ngga enak dan terus mengganggu, akhirnya aku memutuskan untuk ke lapangan latihan" Jelas Vian.
"Tapi, kau bagaimana caranya tahu kami ada di lapangan latihan?" tanya Andra.
"Sudah ku bilang kan? aku merasakan hawa aneh, jadi aku memutuskan kesini dan menemukan kalian bertiga di situ, akhirnya aku memutuskan untuk melawannya sementara dan dia harus mundur terlebih dahulu" Jelas Vian.
"Begitu,... anu, Vian"
"Tenang saja, aku tahu kalau dia berasal dari klan ku, klan Kitagawa, tapi anehnya... memang hanya keluarga ku yang bersisa" kata Vian.
"Bukan, sebenarnya... ini" Andra memberikan sebuah berkas pada Vian.
"Eh?!" Vian kaget melihat berkas.
Sementara itu Amanda...
"Maaf, tidak bisa saya beritahu kalau yang itu" ujar Randi.
"Tidak apa Pak, aku tidak punya wewenang untuk memaksa, jangan di paksakan, tapi aku hanya ingin masalah ini cepat selesai" kata Amanda.
Randi terdiam.
"Kalau begitu, istirahat saja dulu, jangan masuk kuliah beberapa hari ini kalau bisa" kata Randi.
"Eh?! tapi! aku kan sekarang mahasiswi! aku ngga bisa bolos!" ujar Amanda.
"Yah, asalkan tidak terlalu capek bisa sih, dan agar ngga terlalu bahaya dan tidak berhadapan sama si demit Pascal, jangan aktifkan Silent dan jangan berkomunikasi dengan Ryu" Kata Randi.
"Baiklah Pak"
"Tapi... bagaimana jika Pascal kembali ke Rosement?" tanya Amanda.
"Andra dan Pak Andi sudah memasang segel pelindung yang tidak bisa dia tembus, yah... kurasa tidak bisa dia tembus, karena bahayanya dia itu bisa menembus pelindung perisai paling rahasia" Jelas Randi.
"Baik Pak Randi, terimakasih, sampaikan salam pada kak Andra"
"Ya"
Bonus Chapter : Make up cewek
Di Hotel tempat Toni menginap...
"Hei? Mana Nera? katanya akan datang?" tanya Toni.
"Palingan lagi makeup-an itu" ujar Vian.
"Eh! bahas tentang make up cewek yuk!" kata Randi.
"Baiklah! ayo!" akhirnya mereka memegang beberapa selembar kertas dan menulis beberapa yang mau di tanya.
Yang bertanya adalah Vian, untuk yang menjawab itu Toni dan Randi
"Ok! aku tanya! kenapa cewek kalau make up lama?" tanya Vian.
"eee... jadi gini boy, alasan cewek make up nya lama, ya sebab bayangin aja alat-alat make up cewek itu bhuuanyak e poll!" ujar Toni.
Wooow 😨
"Dari mulai foundation, beauty blender, maskara, mas Eko 🤪"kata Randi.
"Lipesetik, Eye shadow, Eye liner, bedak!" Toni menambahkan.
"Lip brush! fan brush! smudge brush! blending brush! dan brush-brush lainnya🤯!" ujar Randi.
Bengek🤣
"Tau brush kagak? Kuas!!" kata Randi lagi.
"Muka berasa kek tembok 😏" celetuk Toni.
"Belum juga blush on, ada powder blush, cream blush, BLASS, gak ngerti 😭" ujar Randi.
"Dan semua warna make up itu harus serasi ama warna baju, warna jilbab, warna tas, warna sepatu, warna lambung, warna ginjal🙃" Kata Toni.
"Ya?" tanya seorang di belakang Toni dan Randi.
"Su.. sudah ya?" kata Vian yang sudah ketakutan karena tahu yang di belakang Toni dan Randi sudah bermuka benar-benar menyeramkan.
"Jadi wajar🤫 kalau durasi make up cewek itu SATU SEMESTER👀✌" kata Randi.
Toni dan Randi cekikikan.
"Lucu ya Ton!" kata Randi.
"Iya!" kata Toni.
"Berarti Nera juga kek gitu ya?" tanya Toni.
"Wah... sayangnya harusnya kalian ngga usah tahu urusan kami para cewek"
*Glek!*
#Percakapan batin#
"Eh! Vian! kenapa ngga ngasih tahu kalau ada Nera?!" batin Randi.
"Aku udah kasih tahu tadi!!"
"Kenapa berhenti? malah ngomong batin? udah selesai?!"
"Maaf"
BAK! DUAK! BRUK!!
"Waduh! sakit!" kata Toni.
"Menyebalkan, pukulan nenek tua tadi tidak berkurang sakitnya" kata Randi.
"Ngomong sekali lagi kalian akan dapat ronde kedua"