
Sebelumnya di kamar Vandro....
DUK!
"WADAW!!!!!" Seru Vandro yang kakinya kepentok ujung meja.
"Aah! sial banget! he!? Dokumennya!!! Fyuh! untung ngga kena tumpahan kopi" gumam Vandro.
"Sudah Vandro! ayo! kau harus sadar! kau itu harus tetap sempurna bagaimana pun juga!" kata Vandro yang bicara sendiri di cermin.
"Ya! benar"
"Aku ngapain sih? bodoh... " batin Vandro.
KRING! KRING! Suara panggilan di Ponsel Vandro yang terlihat mewah itu.
"Ng? siapa yang malam-malam nelpon?" tanya Vandro sendiri.
"Ng? Oh, Randi? kenapa?.... Apa!!?"
..._______...
"Karena akulah pemimpin mereka, ketua geng cakar naga!" kata Nera.
"Eh!?" tanya Amanda.
"Bohong... kan!!? tapi, semua anggota geng cakar naga yang ada tidak ada yang menyangkal, semuanya terdiam, apa ini? aku di bohongi?, lagi... " batin Amanda yang jantungnya berdegup kencang.
"Hei! aku ngga bohong lho! lihat Amanda? dia juga orang yang kau kenal!" kata Nera sambil mengarahkan perhatiannya ke salah satu anggota geng.
"Heh, sudah kubilang kan? aku ngga akan bisa melindungi mu kalau kau mengetahui bahwa aku.... salah satu anggota cakar naga" ujar Toni sambil membuka tudung hoodienya.
DEG!
SRUK! Vandro langsung menyambar tangan Nera yang menyentuh bahu Amanda.
"Apa maksud semua ini Nera!!?" tanya Vandro dengan berdesis seram tangannya langsung menggantikan tangan Nera yang merangkul bahu Amanda.
"Wah! Wah! Wah! sudahlah! jangan terlalu begitu!" kata Nera.
"Amanda! ayo kita masuk ke dalam, saya akan jelaskan" kata Vandro.
Tapi Amanda menolak.
"Ngga, aku ngga mau!" kata Amanda.
"Pak Vandro kenapa sih!!? selalu melarang ku ini dan itu!!? aku juga ingin tahu! sekarang aku meminta jawaban!!!! aku serius!! aku benar-benar akan membenci bapak kalau menghalangiku terus!!" Seru Amanda yang matanya langsung berwarna merah.
DEG!
"Sudah Vandro, dia memang berhak tahu sekarang" kata Rahmat.
"Ta... Tapi" Vandro menatap Amanda yang sekarang benar-benar kesal.
"Mata ku.... kenapa penuh Amarah!? ya iyalah! aku di bohongi! padahal aku anggota! seharusnya perlu tahu! dasar... " batin Amanda yang pelan-pelan membiru kembali.
"Apa ini!? aku baru bangun!" kata Vanora yang baru sampai bersama Vian juga Randi.
"Jadi...? bagaimana sekarang Nak Nera? apakah benar kalau Nak Toni yang... " kata Pak Andi memutuskan kata-katanya.
"Hei Pak Tua! jangan menuduhku selalu seperti itu!" ujar Toni.
"Setelah saya prinsip dan mengambil kesimpulan, itu mengatakan bahwa positif bukan Toni yang berada di rekaman Vian, melainkan yang bersangkutan dan memimpin Cakar naga gadungan itu!" kata Nera.
"Ga.... gadungan? jadi selama ini bukan cakar naga yang di pimpin kak Nera? aku... " batin Amanda.
"Rey, hanya dia yang parasnya persis dengan Toni, dia juga saudara kembar Roy" kata Nera.
"Melihat dari reaksi anda Pak Andi, sepertinya saya tidak perlu menyampaikan apapun dan menjelaskan siapa Rey bukan?" tanya Nera.
"REY!!? Siapa lagi kalau bukan si pembuat masalah itu!!? kenapa...." batin Pak Andi dengan muka marah.
"Baiklah, sekarang waktunya aku harus pergi, oh ya! Amanda tadi mau ngomong apa ke aku?" tanya Nera.
"A... anu itu, aku ingin ngajak Kak Nera makan besok sore, aku traktir" kata Amanda menunduk.
"Maaf ya Amanda, kamu kasih ke Vanora aja, aku ada urusan, Oh ya! jangan lalai berlatih ya kalau aku nggak ada? kita akan beradu kembali lagi lho, ya udah semua aku pamit" kata Nera langsung mengarah ke motornya dan pergi dari sana bersama rombongan dan Toni.
JRRANG! Gerbang di tutup kembali.
"Ayo Amanda, ku antar ke kamar mau ngga?" tanya Amanda.
"Bo.. boleh kak, kita ke kamar mau ikut nonton movie ngga?" tanya Amanda.
"Boleh! soalnya besok malam sampai 3 hari ke depan aku ngga di apartemen, mau ke luar negeri menandatangani kontrak" ujar Vanora.
"Ya, ayo Kak" ajak Amanda.
"Aku... dibohongi lagi, sekarang aku bimbang, Presdir bisa di percaya atau ngga? Allah, beritahu jawabannya"