
Keesokan harinya...
Di rumah sakit...
"Bima!!! aku rindu! kok ngga ngasih kabar sih!?" tanya Rafa sambil memeluk Bima dengan melingkarkan tangannya ke leher Bima.
"A... Anu, saya ngga bisa ngasih kabar karena harus istirahat Ra... Fa" ujar Bima.
"Yuhu! Bima udah bisa manggil namaku!" ujar Rafa.
"Biasa aja! Eh? Pangeran Rafizi, terimakasih juga sudah ikut berkunjung, suatu kehormatan bisa bertemu dengan anda setelah sekian lama, perkenalkan saya Asisten pribadi Tuan Rafa" ujar Bima.
"Tentu, aku ke sini juga karena minta paksa ikut, kata kak Rafa kalau Om Bima itu lebih penting dari segalanya! nyebelin ngga sih!?" tanya Rafi.
"Rafa... " Bima menoleh ke Rafa dengan tatapan mengerikan.
"A... Anu! uh! Rafi! ngga usah ikut ngadu segala napa!" ujar Rafa.
"Biar saja, beliau kan adikmu kan Rafa?" tanya Bima sambil tersenyum.
Rafa sedang berbincang dengan Bima.
"Ternyata... Kak Rafa paling santai dan tenang bareng Om Bima, kayaknya mereka udah lama deh bertemu, aku jadi iri sama Om Bima yang bisa deket sama Kak Rafa" batin Rafi.
"Oh ya! kalau kak Rafa kayak gini terus, kakak bisa kalah jauh dari kak Andra!" ujar Rafi.
"Hah?" Rafa bingung.
"Lihat aja tuh! kak Andra seorang Raja yang sudah banyak menjalin kerjasama dengan kerajaan-kerajaan besar! lalu menjadi seorang Presdir yang memimpin perusahaan yang terkenal di berbagai negara! juga kepemimpinannya yang luar biasa! aku jadi salut sama Kak Andra! pasti banyak cewek yang pengen jadi calon istri kak Andra!" kata Rafi menyindir Rafa.
"Rafi!!! jangan ngeledek! sindiran mu itu pedas! pedas sekali! dibandingkan cabe level 1000!" kata Rafa sambil mengibas-ngibaskan tangannya.
"Terserah! we we we!" kata Rafi sambil meleletkan lidah.
"Hiii!!!!"
Sementara itu Di Rosement...
Di dapur...
Vian dan Amanda sedang di dapur..
"Ku lihat-lihat Rahmat biasanya masak disini... tapi kok kayaknya dia masaknya aneh ya? cepat banget tapi rasanya juga enak" batin Vian sambil memperhatikan Rahmat yang sedang mencari bahan di kulkas.
Amanda melihat Vian.
"Ng... Ngga!" jawab Vian.
"Ada apa? oh ya Amanda, ini pesanan susu kotak mu" ujar Rahmat memberikannya pada Amanda dengan wajah datar seperti biasa.
"Makasih kak" jawab Amanda.
"Mau ngga Vian? ini enak lho! kalau mau nanti kak Rahmat ambilkan lagi" tawar Amanda sambil tersenyum.
BLUSH!
Vian menatap Amanda terlalu lama sambil dapat Mode Blushing.
"Ng? kau kenapa Vian!? kok mukamu merah banget!?" tanya Amanda.
"Ng.. Ngga!" kata Vian.
Akhirnya Vian berbicara kecil ke Amanda.
"Kau ngga berpikir kah? kalau Rahmat memasak pakai bumbu yang aneh aneh?" tanya Vian sambil berbisik.
"Bumbu.. yang aneh-aneh?" tanya Amanda.
Amanda dan Vian langsung mengarahkan kepala mereka keatas untuk berpikir.
"Tidak! kurasa kak Rahmat bukan orang yang kayak di atas!" ujar Amanda.
"Iya sih" kata Vian.
"Oh ya, Amanda kau dari mana? penampilanmu terlihat kau habis pergi?" tanya Rahmat.
"Oh, aku tadi dari rumah sakit jenguk kak Toni lagi, lalu nganterin buah" jawab Amanda.
"Dia hanya bilang makasih dan langsung ngasih secarik kertas dan nutup pintu, kubuka gambarnya norak, jelek!" kata Amanda.
"Ha.. Ha... Ha, dasar si Toni" gumam Vian dan Rahmat bersamaan.
Di halaman Apartemen....
"Good! halaman yang bagus! ada lokasi olahraga! kolam renang! pemandian air panas! semua lengkap! kurasa aku bakal puas di angkat sebagai anggota disini, sekarang.. mana sambutan ku?" tanya Rafa sambil tersenyum dengan mengibaskan Topinya.