The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 85 : Kunjungan ke rumah Putra (2)



"Ini dia! Benny!" kata Putra.


"Eh!? seekor Bunglon?" tanya Amanda.


"Ya!" kata Putra bersemangat.


"Mau pegang dia?" tanya Putra.


"Eh!? nanti digigit!" ujar Amanda.


"Ngga kok, Benny ini bunglon yang jinak" kata Putra.


Akhirnya Amanda memegang Benny dengan kondisi berkeringat dingin dan kaku.


"Na... Nanti kalau dia Pup di tanganku gimana?" tanya Amanda sambil berdegup kencang.


"Benny itu bunglon yang bersih, dia ngga akan pup sembarangan kalau bukan di kandang" kata Putra yang agak tersinggung.


"Kyahaha! Benny lucu banget sih!" kata Amanda senang karena Benny berjalan mengelilingi kepalanya yang di lapisi jilbab.


"Padahal tadi Amanda agak ketakutan, tapi sekarang dia malah senang sekali" batin Putra menghembuskan nafas sambil tersenyum.


"Padahal Benny itu bunglon berjenis veiled ya" kata Putra.


"Eh? Veiled?" tanya Amanda tapi fokus dengan Benny.


Veiled adalah bunglon yang kepalanya seperti kubah, mereka terkenal dengan sikap yang agresif, pemarah, dan penyendiri.


"Wah,... kayak aku ya" ujar Amanda sambil memainkan kepala Benny.


"Ha... Ha... kayaknya" ujar Putra tertawa heran.


Awal bertemu saja dia sudah mendesis padaku, semenjak itu... aku sering memberinya makan, memandikannya secara perlahan, bermain dengannya juga, agar dia terbiasa dan menerima keberadaan manusia di sekitarnya, dia juga sering ku ceritakan kondisi sikap dan mood ku, kadang suka, kadang duka.


"Oh.. aku jadi paham kenapa Benny menjadi teman terdekatmu" Ujar Amanda sambil membelai Benny.


"Ng?" tanya Putra.


"Karena Benny adalah sahabat mu! kan sahabat ada saat suka dan duka" ujar Amanda yang tersenyum menatap Benny, dan mata Amanda berubah menjadi Silent Biru cerah karena senang.


"Ah... Hmf, kau benar" ujar Putra sambil tersenyum tipis.


"Tapi kok bisa kau tahu Benny itu Bunglon? karena kebanyakan orang mengira Benny itu katak" tanya Putra.


"Yah... kelihatan beda kok, Benny ya Benny, katak ya katak, kok di samain?" tanya Amanda.


"Ngga"


"Erlan... mengenal Amanda bertahun-tahun, aku tahu kalau itu pertanda dia lagi senang" batin Putra


"Aku baru pertama kali ke rumah mu, dulu kita ketemu saat aku ngobatin adikmu saat aku masih kelas 3 SD, tapi saat SMA kita jarang ketemu ya, haha!" Kata Amanda.


"Benar juga"


"Oh ya! sebelumnya aku liat Benny berubah warna" kata Amanda.


"Itu tergantung moodnya, Benny" jawab Amanda.


Mama Putra memperhatikan dari jauh.


"Eh!? gadis SMA itu,.. bermain dengan Benny? padahal kan"


Mama, tolong jangan pamerkan Benny ke sembarangan Orang, hanya orang yang Alfian akui yang boleh mengenal dan melihat Benny, karena Benny adalah teman Alfian yang berharga. Mama Putra mengingat pesan Putra.


"Ah! Tante!" kata Amanda.


"Oh... Mama" ujar Putra berbalik.


"Tapi aku ngga suka gadis itu!" batin Mama Putra yang kesal.


"Nda, kurasa sudah waktunya kita lanjutin tugas Makalah tadi" ujar Putra.


"Astaghfirullah! iya ya! aku hampir lupa!" ujar Amanda.


"Benny, lain kali kita main lagi ya" kata Amanda tersenyum.


"Ukh,.. padahal pasti seru jika bisa bermain dengan Benny setiap hari" ujar Amanda


"Itu sama aja kau pengen tinggal disini, Nda" ujar Putra yang tersenyum heran.


"Benny,... kami pamit ya-... " belum selesai Putra bicara dia kaget melihat Benny.


Bunglon berubah warna tergantung dari suhu atau moodnya, Benny berubah warna menjadi kuning.


"Badannya mulai menguning, mengenal Benny bertahun-tahun, aku jadi mengerti, kalau itu pertanda dia lagi senang, Benny... Kamu senang karena mendapat tekan seperti Amanda ya?" batin Putra sambil tersenyum.


"Untunglah, tugasnya udah kelar sebelum maghrib" ujar Amanda.


"Ya, masalah Print, dan jilid serahkan saja padaku" ujar Putra.


"Hihi... Makasih ya Putra, ini benar-benar menyenangkan, aku mungkin bisa saja lebih lama lagi, tapi sekitar 20 menit lagi buka puasa, sayang sekali" ujar Amanda.


"Yah... berkunjung lah lain waktu" kata Putra.


"Hm! baik, terimakasih"


"Ng? saya pulang dulu Tante" kata Amanda tersenyum.


JLEB!!!


Akhirnya Amanda menaiki mobilnya dan pulang ke Rosement.


Putra menatap kepergian Amanda, tapi menyadari kalau ada serangan yang akan mengarah padanya.


ZAP! Putra berhasil menghindar.


"Kenapa kau beritahu gadis SMA itu soal identitas Mama hah!?" tanya Mama Putra.


"Bu... Bukan Mah! bukan Alfian yang bilang!! dia sendiri yang tahu kok!" ujar Putra sambil menghindari serangan Mamanya.


"Ngga mungkin! jangan bohong kamu!" ujar Mama Putra.


"Alfian juga kaget! dan alasannya bikin kaget lagi!" ujar Putra.


"Ng? Ok, dia bilang apa?"


"Di... Dia bilang"


Flashback Episode sebelumnya...


"Yah... Soalnya, kelihatan kok dari auranya" ujar Amanda.


"Aura?" tanya Putra.


"Iya, gimana ya bilangnya? pokoknya pas Mamamu bukain pintu, langsung berasa aja aura hangatnya seorang Ibu, meski kau bisa merasakannya atau tidak, kau harus benar-benar bersyukur, karena kamu masih mempunyai orang tua, tidak seperti ku bahkan tidak ada yang menyambut ku pulang, Dasar..." Amanda terdiam sambil menunduk.


"Haha! tapi Mamamu kelihatan muda banget lho Put! hampir aja aku ke panggil 'dek' Dasar... Haha!" kata Amanda.


Flashback Off....


"Gitu Mah, bilangnya" kata Putra sambil melirik Mamanya.


"Ng?"


BLUSH!!


"He? Mama Napa Blushing?" tanya Putra.


"Astaga! baru kali ini ada yang bilang begitu padaku!! Aura katanya!!?" tanya Mama Putra yang blushing.


"Ma... Nanti Alfian bilangin Papa lho" kata Putra.


"Apa!? udah berani ya kamu sekarang?!?"


"Ngomong-ngomong Ma, teman Alfian tadi itu sedang kuliah sama-sama Alfian juga" ujar Putra.


"Eh? jadi dia bukan gadis SMA?" tanya Mama Putra.


"Bukan, usianya 19 tahun sih, tapi kayaknya mukanya Babyface juga" ujar Putra.


"Pantesan cantik"


"Hmf.... Amanda, baru datang ke sini tapi dia sudah banyak membawa kejutan" batin Putra sambil tersenyum.


Sementara itu Amanda...


"Hachu!! Snif! aku kok bersin ya? berasa deja vu, ada yang bicarain aku nih" gumam Amanda di mobil.