
Dia... Hermansyah, anak laki-laki yang populer karena dia pintar dan gampang bergaul, dia juga menjabat sebagai sekretaris OSIS.
Suatu hari aku berkelompok dengannya.
Saat mengerjakan tugas.
Maaf ya Len, aku ada tugas OSIS, jadi ngga bisa ngerjain dulu, maaf banget!
βYah... karena OSIS sih, yah mau gimana lagi?β begitu pikirku.
Tapi saat mengumpulkan tugas, dia yang mendapatkan nilai lebih tinggi dari pada diriku, dan begitu seterusnya! aku ingin sekali menulis nama mereka yang ngga ngerjain tugas!
Tapi... aku ngga ingin ngga punya teman, aku tidak ingin di benci, aku mengurungkan niatku, sampai suatu hari, Herman melakukan hal yang sama.
βAneh... dia sudah melewati batas! ngga mungkin ada tugas OSIS! bahkan pada setiap aku minta deadline tugas!β
Dan melakukannya, mengkategorikan dia tidak mengerjakan tugas.
Herman meminta penjelasan ku....
"Alen! apa maksudnya!? mengkategorikan ku tidak mengerjakannya tugas!?" tanya Herman.
"Memang kau sendiri yang ngga ngerjain tugas!" kata Alen.
"Lah!? aku kan udah bilang? kalau aku ada tugas OSIS-... " belum selsai Herman bicara.
"Ini.... aku udah minta dan tanya, kepada ketua OSIS, saat hari-hari aku minta tugas padamu, lalu kau bilang ada urusan OSIS? ini apa? katanya OSIS off dulu selama sebulan karena sedang mengurus pembentukan ekskul mading" kata Alen menunjukkan perbincangan di pesan Ponsel nya.
"Karena... kami mengandalkan mu! kau pintar! jadi kami pikir kau tidak perlu bantuan kami!" kata Herman.
"Begitu!!? itu namanya egois!! apakah kau ngga ngerti?!? kalau yang namanya kerja kelompok itu ya berkelompok! kau selalu mengecewakan! dasar si muka dua! pertemanan kita.... berakhir sudah!" kata Alen sambil pergi.
Herman terdiam.
"Haha... aku kalah taruhan teman-teman" kata Herman.
"Kurang ajar... menjadikan hal ini sebagai taruhan" batin Alen.
Saat aku lulus masuk Farmasi di Universitas terfavorit ini... aku mengikuti PPS dan akhirnya mendapat banyak kejutan, mulai dari para silsilah organisasi HMJ.
"Oh.... jadi itu kak Amanda, dan Kak Nina, kak Amanda ketua HMJ, kak Nina sebagai Sekretaris ya? hm...Kak Nina, anak konglomerat Falesia itu. Pantas saja banyak anak laki-laki yang naksir kak Amanda, kak Amanda mahasiswi paling pintar di Universitas ini, paling dia jual tampang aja, Kak Amanda, melihatnya saja membuatku kesal, mengingatkan ku pada si Herman, akan ku bongkar tabiat aslinya" batin Alen.
Sebetulnya.. aku heran, biasanya aku acuh tak acuh sama orang, tapi... kenapa aku kepo dengan kak Amanda? Ng mungkin karena ini bentuk kebencian ku pada orang-orang sejenis Herman.
...Ya Pasti begitu....
Kupikir itulah dasar tindakan ku saat itu untuk menaruh simpati, aku mengikuti kebiasaannya memakai tas pinggang yang di pasang menggunakan sabuk, meminjam jurnal, tanya-tanya jurnal dan makalah, dan menemuinya di kala ada kesempatan, tujuanku mencari celah di saat dia lengah, bisa jadi itu kunci untuk membongkar tabiat aslinya.
Tapi... sejauh ini hasilnya nihil, dia justru banyak memberikan kesan positif.
Yang membuatku yakin, bahwa kak Amanda tidak sama dengan Herman atau yang lainnya.
******
Di taman kampus...
"Wah! iya! saya jadi lebih paham setelah kakak jelaskan!" kata Alen.
"Iya dong, Dasar... " kata Amanda sambil tersenyum.
"Terimakasih kak!" kata Alen.
"Sama-sama King! ya udah,.. aku mau beli jus buatmu sekalian ambil Ponsel ku ya" kata Amanda sambil pergi.
"Eh!? ngga usah kak!" kata Alen tapi terlanjur karena Amanda sudah pergi.
"Kau dapat ya? cara agar dapat 'simpati' dari Amanda?"
"Eh?" Alen menoleh ke sumber suara.
"Kak Putra"
Bonus Chapter :
Amanda sedang tertidur pulas di kamar Apartemen.
LINE! Notifikasi pesan masuk di Ponsel menyadarkan nyenyak nya tidur Amanda.
Di Rumah Alen...
"Em... resep ini kayaknya rada Hard deh, tanya kak Amanda di Line deh" gumam Alen sambil mengetik di Ponselnya sambil melirik jam dinding di kamarnya.
"Bambank!! demi apa dah jam 2 subuh!?!? wado! ga sadar jam dah, parah" gumam Alen lagi.
"Kak Amanda pasti udah tidur jadi ngga enak udah ganggu" kata Alen.
LINE!
"Hah!!? Notifikasi pesan dari kak Amanda!?" Seru Alen.
"Di... Di balas! bahkan se-rinci seperti biasanya" batin Alen, antara takjub dan tidak enak.
Bonus Chapter :
Di balas terus-terusan
Jam 02.30
"Terimakasih kak, saya sudah paham sekarang" Alen mengirim pesan itu.
^^^Mantap King! You're welcome π€^^^
"Ah... sebagai penutup.. ngirim stiker ah" Gumam Alen.
"Eh!! di balas pakai stiker juga!?" tanya Alen.
"Aku yang mulai chat duluan ga sopan banget ga sopan banget kalau ngga ku balas kan? ya udah, kirim stiker lagi" kata Alen.
LINE!
"Eh!? dibalas pakai stiker lagi!?!? pokoknya jangan berhenti di aku!" kata Alen sambil mengirim stiker lagi.
LINE!
"Di balas lagi!?"
LINE!
"Lagi!?"
Gitu terus sampai waktu sahur.
Akhirnya Alen berhenti.
"Kak Amanda itu sesuatu banget" gumam Alen yang takjub akan tingkah Amanda.
Keesokan harinya di kampus...
Alen menemui Amanda yang sekarang shift di kantor HMJ.
"Maaf kak!" kata Alen.
"Hihi... no problem King, aku terimakasih juga karena kamu aku ngga tidur jadi bisa sekalian sahur" kata Amanda sambil tersenyum yang menyipitkan matanya agar tidak ketahuan matanya ada mata panda.
"Duh! ngga enak bener kak! sorry banget! minta maaf banget kak! maaf!" kata Alen sambil menyatukan kedua tangannya sambil menundukkan kepalanya tanda minta maaf.
"Ah... gak papa King, Oh ya... aku disini karena ada shift, kamu ngga masuk kelas?" tanya Amanda.
"Waduh! Ada!!! aku misi kak! maaf sekali lagi!!!" kata Alen sambil lari.
"Ah... iya"
"Mahasiswa yang menarik" batin Amanda sambil tersenyum heran.