
"Huh... ramai, kenapa sih? padahal mereka bukanlah orang yang ku suka... " batin Toni.
"Ng? Kak Toni... mau Apel ngga? ini sudah di kupas, lho" kata Amanda sambil menyerahkan mangkuk dengan isi potongan apel.
"Ah... " Toni akan mengambil sepotong, tapi...
DEG!
"Ng? Tidak, aku tidak boleh berbaur dengan mereka... setelah semua ini selesai aku tidak akan pernah berkomunikasi dengan mereka lagi..." batin Toni sambil mengangkat tangannya menolak mengambil potongan apel itu.
"Ng? ngga jadi ngambil?" gumam Amanda.
Toni akhirnya terdiam beberapa saat, tapi sesuatu menyadarkannya dari lamunannya.
"Kak? Kak Toni,.. Kak Toni" panggil Amanda.
"Apa?" tanya Toni sambil melirik tajam.
"Aku pengen nanya, tapi kak Toni jangan marah ya... mukanya ntar kusut kayak kakek-kakek" kata Amanda.
"Hah, emang mau bicarakan apa?" tanya Toni.
"Anu.. gini, Kak Toni emang ngga ada yang jenguk kah dari pihak keluarga?" tanya Amanda.
"Ngga, emang buat apa?" tanya Toni
"Lah? kok masa nanya buat apa sih? ya buat jenguk, nemenin, saling ngasih kabar, cerita-cerita biar ramai gitu.. mengingat kak Toni yang di jenguk begini, aku jadi ingat saat beberapa waktu pernah beberapa tahun yang lalu sebelum Ibu ku meninggal, sebelum tiada... aku sering menghabiskan waktu di kamar rawat bersama mendiang ibu, tapi ibu selalu aja bilang agar aku ngga usah terlalu khawatir, tapi nyatanya saking terlalu sibuk dengan pendidikan... Saat aku memasuki ruangan sambil membawa medali emas karena memenangkan kejuaraan karate tingkat nasional... aku ingin memberikan itu ke ibu, tapi kak Toni tahu kah pemandangan apa yang aku lihat?" tanya Amanda.
Vanora mendengarkan dengan seksama.
"Apa emang?" tanya Toni acuh tak acuh.
"Yang aku lihat adalah... Ibu yang sudah tidak bernyawa tengah terbaring kaku di atas ranjang dengan kondisi seluruh tubuhnya tertutup selimut, aku sangat menyesal akan hal itu... bahkan... " Amanda memotong kata-katanya.
"Bahkan? bahkan apa?" tanya Toni.
Ruangan menjadi sepi karena mendengar cerita Amanda, bahkan Randi dan Andra juga mendengar dari CCTV.
Amanda menarik sedikit lengan bajunya yang sebelah kanan agar seluruh pergelangan tangannya terlihat, terlihat sebuah goresan di bagian urat nadinya.
"Bahkan aku hampir sempat mengakhiri hidupku setelah beberapa saat ibu di kebumikan" kata Amanda sambil tersenyum sedih tanpa menatap siapapun.
Vanora, Nera, dan Radith sangat kaget mendengar apa yang di ucapkan Amanda.
Randi bahkan sampai sempat tidak bisa berkata-katanya, Andra agak syok mendengar nya.
Toni terdiam.
"Yah... aku hampir kehilangan nyawaku, tapi teman-temanku menyadarkan ku akan hal yang aku lakukan... membuka mataku bahwa masih banyak orang yang peduli denganku" kata Amanda.
"Yah... jadi, aku hanya ngga ingin Kak Toni menyesal saja" kata Amanda sambil mengerutkan kening dan tersenyum.
"Yah... kalau Kak Toni kesepian.. aku bisa aja nemenin kok" kata Amanda.
"Heh, ya Makasih.. tapi aku ngga perlu di temenin, soalnya ada mbak-mbak berambut panjang dengan memakai gamis putih bermotif bercak merah dan anak-anak kecil tertawa cekikikan di sini" kata Toni memulai ledekannya.
"Hah!?" tanya Amanda.
"Tahu ngga? waktu aku ke kamar pun mbak itu selalu nemenin... bahkan menatap ku dengan tatapan tajam kayak gini" kata Toni sambil menatap Amanda dengan tatapan mengerikan yang menakutkan.
"Ngga! aku ngga denger, kak Toni bohong! itu cuman bohong!" kata Amanda.
"Eh.. aku ngga bohong, saat aku ke kamar mandi tadi ada... " belum selesai Toni meledek.
"Ih! udah! aku ngga mau denger!!" kata Amanda.
"Ih! kok serem pula, ya udah! temenin aku ke bawah deh, Nda!" kata Vanora yang bergegas mengarah ke kursi roda Amanda minta di temani.
"Iya kak! boleh jajan sekalian di kantin kan?" tanya Amanda.
"Kurasa... kau juga harus pergi bukan?" kata Toni pelan ke Radith.
"Oh ya... bagaimana? apakah di kelompok kita sudah ada yang menjenguk?" tanya Nera.
"Ya, mereka datang... dan merusuh!" kata Toni dengan wajah suram mengingat beberapa waktu yang lalu para Frontliners itu menganggu istirahatnya.
"Hahaha! biasa ajalah Ton!" kata Nera.
"Oh ya... aku sedang mengusulkan kalau Cakar naga harus menghilang dulu karena insiden kemaren" kata Nera.
"Gitu ya? seharusnya kita melakukan hal yang lebih! agar bisa mendapatkan informasi! cih! si Rey malah sudah pergi ke alam lain" kata Toni.
"Sudahlah Toni.. kau itu baru terhindar dari kematian, bersantai lah sedikit... Oh ya Toni, kalau Cakar naga ini tidak ada lagi... apa yang akan kau lakukan?" tanya Nera dengan bertopang dagu.
"Hah!? A... apa maksudmu, Nera!?"
Di kamar mandi Rumah Sakit...
"Huh! si Toni ada-ada aja!" kata Vanora.
"Hihi, Kak Toni berani ya kak" kata Amanda sambil berdiri dari kursi rodanya sementara.
"Begitulah, dan ceritamu... berani banget sampai mau bunuh diri segala!" kata Vanora.
"Yah... tapi aku sudah berubah, ngomong-ngomong... Alhamdulillah kita bisa bicara kayak gini ya kak? ku pikir kak Vanora masih marah ke aku" kata Amanda.
"Eh? Amanda masih kepikiran kah?" batin Vanora.
Sebelum Amanda pulang ke Apartemen...
Di Rumah sakit...
"Amanda? ada apa manggil aku ke ruang tunggu pasien? oh.. kau mau pulang ya? Ya udah, hati-hati di jalan" kata Vanora yang moodnya tidak enak.
"A... Anu, Kak Vanora... aku minta maaf karena sudah ninggalin Pak Vandro di Restoran itu, ini salahku" kata Amanda.
"Huh! Ini juga karena Vandro ngga tegas ngelarang kalian pergi! aku juga malah dukung kalian dan memikirkan kesenangan saja!" kata Vanora.
"Ng.. ma, maaf kak" kata Amanda agak membendung air mata karena merasa bersalah.
"Udahlah Amanda! kok kamu mau banget sih disalahin? yang salah seharusnya para geng cakar naga gadungan itu!" kata Vanora tanpa menatap Amanda.
"I.. iya, lalu.. apakah aku boleh menjenguk Pak Vandro?" tanya Amanda.
"Gak!" kata Vanora.
DEG!
"Vandro butuh istirahat, jadi jangan di temui dulu" kata Vanora.
"I.. iya udah, aku kembali dulu ya kak, mau pulang" kata Amanda tersenyum.
"Ah... iya, kita bicara saat sudah di Apartemen ya" kata Vanora.
"Ya"
Akhirnya saat Aku, Vandro, Vian, dan Nera pulang ke Apartemen aku sudah bertemu Amanda... tapi Amanda nya agak canggung.
Flashback Off...
"Kak Vanora?" tanya Amanda yang melihat Vanora termenung di depan cermin.
"*Yah... begitulah, aku selalu saja memiliki hati iri, padahal aku punya segalanya, bahkan Amanda hampir setiap saat membantuku perihal Vandro tanpa ku minta"
"Maaf ya Amanda kalau aku sebenarnya punya rasa iri padamu... tapi aku selalu menahan diri karena kau sama sekali ngga pernah berbuat salah padaku*" batin Vanora yang mengakhirinya dengan senyuman.
"Amanda masih kepikiran kah?" tanya Vanora tersenyum.
"Yah, memang kau ngga pernah berbuat salah padaku... kau juga selalu tersenyum dan membantuku, kau selalu menunjukkan kalau kau mampu bangkit meski terluka parah yang kau pikul di punggungmu itu yang membuatku sangat kagum dan nyaman denganmu" batin Vanora sambil mendorong kursi roda Amanda ke luar kamar mandi.