The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 10 : Membeli Perlengkapan surprise (2)



"Jadi, barang apa yang ingin kau tunjukkan, Professor?" tanya Amanda.


"Ini" kata Professor sambil mengeluarkan sesuatu.


"Ng? ini kan pistol?" tanya Nina.


"Ya, Oh ya Ayako tunggu disini ya, aku dan Miko akan ke ruang bawah tanah sebentar, kau main game dulu" kata Professor.


"Ya, baiklah cepat ya" kata Nina.


"Ok" kata Amanda.


Diruang bawah tanah....


"なに、はかせ?"


Nani, hakase?


( Apa, Professor? )


tanya Amanda.


"Ini, adalah pistol laser, yang jika hanya mengenai lasernya saja bisa langsung memotong apapun dalam seke.... WAAAH!!" Teriak Professor.


Tiba-tiba pistol laser itu kehilangan arah karena Professor tidak bisa terlalu menahannya.


Sementara itu Nina....


Teman-teman, kalian tahu Amanda kan? ia adalah sahabatku, tapi sahabatku itu mempunyai banyak kelebihan dan kesempurnaan yang banyak sekali orang ingin seperti dirinya.


"Duh, ini kok musuhnya susah dikalahin?"


Ia juga punya keahlian dalam membidik, dan juga.... jika ia sedang memiliki mood.....


Diruang bawah tanah....


"Waaa!!! Mikoo" kata Hirata.


"Hm! Mata senyap!" kata Amanda sambil menggerakkan tangannya dari arah mata kanan ke kiri.


Maka Warna matanya akan berubah, dan ia bisa mengendalikan orang lain hanya dengan matanya itu.


"Ah makasih, tapi punggungku" kata Hirata yang tidak bisa bergerak karena mata senyap Amanda.


"Oh, maaf" kata Amanda sambil melepaskan kendalinya....


Mata Amanda hanya akan berubah sesuai keadaan, yang tahu akan hal ini hanya aku dan Professor Hirata, jika akan mengendalikan orang, maka matanya yang biru cerah akan berubah menjadi hijau, jika ia sedang kesal atau marah matanya akan berubah menjadi warna hitam seperti orang kebanyakan, jika sedang senang matanya akan tetap menjadi biru.


Lagipula untuk mengendalikan, ia harus punya tenaga banyak, semakin sedikit tenaganya maka semakin sulit untuk mengendalikan orang, ia bisa mengendalikan orang untuk tetap di tempat tanpa bisa bergerak, bisa membuat orang bergerak sendiri, aku bahkan tidak tahun kenapa ia bisa punya hal menakjubkan seperti itu.


Sebagai sahabatnya, aku harus bisa membuat mood Amanda menjadi bagus agar ia tidak kehilangan kendali.


Lanjut ke Ruang bawah Tanah....


"Fyuuh! ありがとうございます!


みこ-さん"


( Fyuuh! terimakasih! Miko!"


kata Professor.


"Tapi bagaimana dengan pistolnya?" tanya Amanda.


"Hm... Entahlah" kata Hirata.


Sementara itu Vandro dan yang lainnya....


"Eh! kita bakal beli apa?" tanya Randi.


"Ya yang sudah di daftar" kata Nera.


"Ok! kita mulai dari bahan-bahan membuat kue!" kata Vandro.


Sementara itu Nina....


"Mereka kok lama banget sih?" tanya Nina.


Kreeet!


"Maaf ya Na, lama" kata Amanda.


"Iya, ngapain sih?" tanya Nina.


"Aha,... kami mencoba pistol ini" kata Hirata.


"Ng? Amanda? kau habis menggunakan mata senyap mu?" tanya Nina.


"Kau.... tahu?" tanya Amanda.


"Tentu, matamu agak sedikit lelah" kata Nina.


"Sebaiknya, Miko-san mengistirahatkan matanya dulu" usul Professor.


"Iya! ayo Amanda!" kata Nina.


"Tentu"


Sementara itu Di Rosement.


Kamar No. 4


"Hm... Begitu ketua? jadi? para Komandan kita akan melaksanakannya hanya kan ketua belum memberi perintah?" tanya Toni di telepon.


"Iya Ton, beritahu mereka tunggu saja sampai aku memberi perintah" ucap Nera ditelepon.


"Hm.... Ya.... Sudah ya" kata Toni sambil mematikan telepon.


Tit!


"Sepertinya untuk melakukan hal ini, akan sedikit berbahaya, apa aku akan menghubungi para Komandan ya? tapi kata ketua seperti itu, tapi geng berandalan itu sudah keterlaluan" batin Toni.


"Hm..... apa yang harus ku lakukan?"