The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
BONUS! CHAPTER 3 bagian 10



Di Rosement...


Vanora pergi ke lapangan latihan.


"Ng!? bekas ini.... " Vanora mendekati tanah dan memegangnya dengan telapak tangannya.


"Ninjutsu Tenma Tensei... Andra, kau sudah menggunakan jurus terlarang ini untuk apa!?" batin Vanora.


"Hah! menyebalkan!" kata Vanora sambil mengambil sarung tangan, dan pengikat kepala dan melompat ke atas pohon.


Di Deathcore Forest...


KRK! KRK! CKRAAK!!!! Topengnya langsung terbuka, Bestari langsung keluar dari wadahnya.


"Ka... Kak Elena!!?" tanya Amanda.


"Hehe.... " Elena langsung menyerang Amanda, tapi Amanda langsung melompat ke pohon.


"Elena... apa maksudmu?" tanya Andra.


"Elena sudah menjadi bawahan ku, Elena... cepat serang Terano itu!" kata Bestari.


"Baik Kanjeng Nyai" kata Elena sambil mengeluarkan Katana dan mulai menyerang Amanda.


TRANG! CRIK!! TRANG! Bunyi pedang terus saja bergemuruh.


"Kak Elena! kenapa!?" tanya Amanda.


"Haaa!!!! Jiko Shinkuken!!!"


"Ukh! kalau begitu... baiklah!!" kata Amanda.


"Uchuu Ankoku Ninpou!!" Amanda menyerang Elena balik dengan pedangnya.


Rangga dan Erlan datang.


"Apa yang terjadi!? Ka.. Kaito-sensei!?" tanya Rangga.


"Kita harus membantunya!" kata Arif mencoba mendekati area pertarungan.


Bestari sedikit melirik.


"Jangan ikut campur, ini adalah pertarungan antara Fujiwara VS Kitagawa" kata Bestari sambil memasang perisai yang menutupi antara Elena dan Amanda saja


"Ukh!!! Bahkan aku tidak bisa melewati perisai ini seperti tadi!! Mode Tensei ku tidak bereaksi pada perisai seperti ini!" ujar Arif..


"Ana!!" batin Arif melihat Putrinya bertarung.


"Papa!!!" Teriak Andra langsung menarik tangan Arif dan menyingkir.


JDUAR! Ternyata Bestari menyerang dari dalam perisai.


"Terimakasih Andra" kata Arif.


"Dia bisa menyerang kita dari dalam perisai, tapi kita tidak bisa menembusnya saat Papa menggunakan Mode Tensei, aku dan Pak Andi bisa masuk karena nebeng dengan Papa tadi" Jelas Andra.


"Ini kejadian seperti dengan Pascal, kalau Pascal hanya akan memadatkan raganya apabila dia akan menyerang musuh, dia tidak akan bisa menyerang lawannya jika raganya astral" Jelas Pak Andi.


"Kita hanya bisa tetap disini... mencoba menghancurkan perisai ini hanya membuang-buang tenaga saja" kata Pak Andi.


"Kenapa kakak!?" batin Erlan.


"Semuanya!!" terdengar suara dari atas pohon.


"Va.. Vanora!?" tanya Andra dan Erlan.


"Apa yang kau lakukan disini!?" tanya Andra.


"Aku yang harusnya bertanya! aku merasakan aura jurus aneh, jadi aku pergi ke lapangan latihan rupanya saat aku merasakan tanah, ternyata ada jurus terlarang! jadi aku kesini!" kata Vanora sambil melirik Arif.


"Eh? siapa dia?" tanya Vanora.


"Ah... ini"


"Dia adalah Ayah nak Andra" kata Pak Andi.


"Eh!? serius!?" tanya Vanora.


"Iya" kata Arif.


Vanora melihat di belakang Arif.


"A... Amanda!? dia bertarung!!? dan kalian diam saja!?" tanya Vanora.


"Jika kita diam saja maka akan tambah gak guna, kita tidak bisa merusak perisai ini... kalau ngotot kita akan diserang kanjeng Nyai itu" kata Erlan.


******


KTRANG! KRK!!!


Pedang Amanda dan Elena saling bertumpu.


"Kenapa... kenapa kak Elena seperti ini?! Bestari itu jahat!! kenapa jadi wadahnya!?" tanya Amanda.


"Kau tidak mengerti, ada hal lain yang ingin ku capai dengan bekerja sama dengannya" kata Elena.


"Kak Elena gak seperti dulu!! aku mohon buka matamu!!" kata Amanda sambil melompat kebelakang saat Elena mempunyai ruang untuk melawan.


"Lalu kau pikir aku ini apa!? buta!? aku akan tetap melawan yang menghalangi rencana ku!" kata Elena lagi sambil memulai jurus dan mengalirkan jurus ke pedangnya dan mengaktifkan Angry Turquoise hingga matanya berwarna merah.


Amanda menyerang Elena dengan pedangnya, Elena langsung juga mulai menyerang.


Amanda akan menebas Elena dengan pedangnya tiba-tiba...


"Hah!? apa yang... " tapi sebuah pemandangan membuat Amanda kaget.


Tiba-tiba pedang Amanda menembus wajah Elena.


"Heh.. inilah kekuatanku yang sebenarnya, kekuatan penembus!" kata Elena.


"Uu... Hantu" kata Rangga.


"Apa katamu!!?" tanya Elena.


"Memang hantu kok! udah nembus! jahat pula! sama aja kayak Nyi Roro Sombong itu!" kata Vanora menunjuk Bestari.


"Mau hantu kah! atau apakah! aku tetap harus mengalahkanmu Amanda!" kata Elena.


"Kalau begitu... Baiklah!! maju! orang yang hilang arah harus dicari dan di sadarkan bahwa jalan yang dia ambil itu salah!" kata Amanda sambil melakukan segel tangan dan mengalirkan jurus itu ke pedangnya dan mengaktifkan Aquamarine Silent dan membentuk pola Silent.


"Uchuu Ankoku Ninpou!!"


"Oki Jiko Shinkuken!!"


"HIAAA!!!"


"HIAAA!!!"


Serangan jurus masing-masing mulai mengenai mereka.


"Berhenti!!!! Aaaaa!!!" Teriak Vanora.


"Berhenti!!! kalian adalah teman!!!" Teriak Erlan.


"HAH!?" tanya Amanda dan Elena mendengar teriakan Erlan dan langsung berhenti.


Amanda dan Elena berhadapan satu sama lain.


Dibelakang Elena, serangan Amanda merubuhkan sebuah batu besar, 3 pohon rindang, dan merusak sebidang tanah dengan luas 10 M, sedangkan di belakang Amanda serangan Elena menghancurkan sebidang tanah seluas 20 M.


"Hmf... " gumam Bestari melihat pertarungan mereka.


Amanda menonaktifkan Silent-nya begitu juga Elena yang menonaktifkan Turquoise-nya.


"Kami tidak akan pernah bermusuhan! kami adalah teman!!" Seru Amanda menatap Bestari.


"Grr... Teman!?" tanya Bestari.


"Maafkan saya Kanjeng Nyai" kata Elena.


"Grr... Berani-beraninya kau mengkhianati Kanjeng Nyai!!!" kata Pocong Wedon.


"Sabar Wedon... rupanya mereka berdua ini benar-benar perlu di hajar" kata Bestari mulai mendekati mereka.


"Ka.. Kanjeng Nyai?" tanya Elena agak memundurkan kakinya.


"Tidak apa kak! aku akan mempertahankan mu!" kata Amanda.


"Kak Elena tidak akan menjadi musuh kami! dia adalah teman kami! dia bukan teman kalian!" kata Amanda, tiba-tiba saja Bestari menghilang dengan cepat.


"Hah!!?" tanya Amanda, Elena, Erlan, Andra, Rangga, Vanora, Pak Andi, dan Arif.


Bestari langsung muncul didepan Amanda.


"Hah!? cepat sekali!! jurus teleportasi-nya memang tidak secepat Ayah, tapi aku tidak merasakan Aura-nya!" batin Amanda.


"Gawat!!"