The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 54 : Julukan untuknya



Amanda rebahan di kasur.


Kakak akan melindungi mu apapun yang terjadi


Amanda mengingat kembali perkataan Andra.


"Kakak"


Keesokan Harinya...


Akhirnya setelah beberapa saat lamanya aku tidak berjalan-jalan weekend dengan Nina....


"Alhamdulillah, aku akhirnya ada waktu bisa jalan-jalan" kata Amanda.


"Hihi... iya ya" kata Nina.


Kami memutuskan akan pergi ke kebun binatang, kebetulan sekali hari ini dan besok aku libur, tapi kebun binatang ini istimewa! mirip taman bermain, jadi banyak sekali seperti roller coaster, rumah hantu, DLL, ini di sebut


"Wah! bagus ya! lihat! ada harimau putih!" kata Amanda.


"Ya.. Ya,... siluman harimau putih" kata Nina.


Tapi di belakang mereka ada dua orang yang membuntuti.


"Kau yakin dengan kayak gini, Ki?"


"Tenang aja lu Lan! mereka ngga bisa di biarkan sendirian!"


Ya, Zaki dan Erlan,.. maksudnya 'Vian' sedang membuntuti kedua gadis yang sedang weekend di kebun binatang.


"Kok aku ngerasa ada yang ngikutin ya? tapi auranya kayak ngga pengen berbuat jahat?" batin Amanda.


"Ng? Amanda! kau denger ngga?" tanya Nina.


"Eh!? a... apa?" tanya Amanda.


"Itu, nanti kita naik roller coaster ya" kata Nina.


"Ya.. baiklah" kata Amanda.


******


"Huh! kita hampir kehilangan jejak mereka! ngapain sih tadi kau pengen ke rumah Professor Hirata!?" tanya Zaki.


"Saat kerja, aku dengar dari beberapa karyawan akan pergi ke Citraland ini, aku jadi memutuskan untuk meminum obat penawar sementara, agar wajahku tidak dapat terdeteksi" kata Vian,.. maksudnya Erlan.


"Hah! ya udah... kita ikutin mereka aja kalau gitu" kata Zaki.


"Lah!? mereka kemana!?" tanya Zaki lagi.


"Kalau gitu, ayo kita beli minum dulu di restoran itu ya" kata Erlan.


"Ya udah"


Akhirnya Erlan dan Zaki memesan tempat duduk.


"Kau tunggu disini, aku pesan dulu" kata Erlan.


"Yo!"


Lalu Erlan pergi ke kasir untuk memesan minum.


"Mbak, saya mau pesan lemon tea 2" kata Erlan dan Amanda yang tiba-tiba disitu.


"Eh!?"


"Lho!!? Erlan!?" tanya Amanda.


"A,.. Amanda!?" tanya Erlan.


"Ukh! aku permisi!" kata Erlan dan langsung pergi mengarah ke Zaki.


"Ng? udah pesan minumnya belum La-...." belum selesai Zaki bicara.


Greb! Erlan menarik kerah baju bagian belakang Zaki.


"Zaki! ayo pergi!" kata Erlan sambil berlari dan menarik Zaki yang terseret.


"Woi! Woi! gw terseret!!!" Seru Zaki.


"Erlan! berhenti! Dasar..." ujar Amanda.


Drap! Drap!


"Amanda! ada apa!?" tanya Nina yang menghampiri Amanda.


Amanda langsung menarik tangan Nina dan mengejar mereka.


"Nina! aku tadi melihat Erlan dan Zaki, ayo! kita kejar mereka!" kata Amanda.


"Eh! tapi minumannya!?" tanya Nina.


"Cancel aja dulu! Dasar..." ujar Amanda.


Mereka saling lari dan tarik menarik untuk mengejar dan di kejar.


"Zaki! kita masuk ke sana!" kata Erlan.


"Hah!!? jangan bercanda! itu rumah kaca! banyak cermin! ntar tersesat!" kata Zaki.


"Meski begitu, aku ngga bisa ketemu Amanda dulu!" kata Erlan.


"Iya sih" kata Zaki.


"Erlan!! berhenti kau! Dasar..." kata Amanda.


Akhirnya mereka masuk ke dalam rumah cermin.


"Ok! kita berdua harus mengalihkan perhatian satu diantara mereka berdua!" ujar Erlan saat berada di pintu dalam rumah cermin.


"Baiklah,.. saling menghubungi lewat Ponsel ya" kata Zaki.


Mereka akhirnya masuk, bahkan Amanda dan Nina.


"Duh! mana sih Erlan... awas aja kalau ketemu! akan ku libas kau baik-baik Erlan! Dasar... " kata Amanda dengan geram.


Di sisi lain....


"Huft! capek!" kata Nina.


Saat Nina akan membuka pintu...


Ceklek!


"Hah!!!?" pertemuan tak di duga mengagetkan mereka.


"Nina!!?"


"Zaki!?!?"


"Apa yang kau lakukan disini!?" tanya mereka berdua bersamaan.


"Harusnya aku yang bertanya hal itu padamu!" kata Nina.


"Dah! sampai ketemu Nina!" kata Zaki yang akan pergi.


GREP!


"Eits! mau kemana??????" tanya Nina dengan tampang menyeramkan.


"Hiii!!!!"


Sementara itu...


"Duh! dasar Erlan! kemana dia!?" gumam Amanda.


"Eh!!? di cermin itu! Erlan!?" batin Amanda.


Tapi salah... rupanya cermin.


"Erlan... kau ada di mana?" tanya Amanda.


"Aku... aku tidak bisa mengatakannya" kata Erlan.


"Kenapa? apakah kau sedang marah padaku?" tanya Amanda.


"Bukan, aku ngga marah" kata Erlan.


"Lalu kenapa? kenapa kau menghindari ku? apakah aku ada salah padamu?" tanya Amanda.


"Em... sebelum aku menjawab itu, kenapa kau mengejar ku? selalu menunggu sampai aku datang, padahal belum tentu aku kembali kan?" tanya Erlan.


"Aku hanya tidak ingin kehilangan dirimu saja, mengingat insiden di hotel kota Yoshino, setelah insiden kau pergi entah kemana, kau hanya kembali saat lulus SMA dan kuliah saat lulus kau juga langsung pergi, makanya aku bertekad ingin bertanya padamu tapi kau selalu saja tidak ada, menelpon di saat yang tidak tahu kapan, aku hanya bisa mendengar kabarmu dari Vian" tutur Amanda.


"Amanda... "


"Padahal... aku hanya ingin mendengarnya dari mulutmu langsung, dari suaramu langsung, jadi aku tidak akan melepaskan mu karena aku takut kau akan pergi lagi saat insiden 4 tahun yang lalu" ujar Amanda.


"Aku hanya ada urusan besar yang tidak bisa di selesaikan begitu saja dengan mudah, maaf jika aku pergi mendadak... kau tidak ada salah padaku, justru aku hanya tidak ingin kau terlibat dan tidak bisa keluar dari dunia yang biasa kau jalani, karena jika aku melibatkan mu,... aku hanya akan jadi beban untukmu selama urusanku belum selesai" kata Erlan dengan menunduk dan bersandar di dinding, sedangkan di belakang tembok, di halang dinding Amanda juga sedang bersandar sambil berbicara.


"Kau jangan meremehkan ku, Dasar kau lelaki lemon tea" kata Amanda.


"Eh!? lemon tea!?" tanya Erlan.


"Ya, julukan buatmu, Dasar... " kata Amanda.


"Jangan usil... yang penting, aku minta maaf" kata Erlan.


"Tidak... seberapa lama pun urusan mu tidak selesai, aku akan tetap menunggu mu... sampai urusan mu selesai, dan... hiks.. " Amanda sedikit menangis tapi bisa di dengar Erlan.


"Aku... hiks,... setelah urusan mu selesai dan kau kembali... hiks! aku akan menghajar mu habis-habisan! kau pantas mendapatkannya!" kata Amanda sambil mengusap air matanya.


"Kau masih saja cengeng ya? Dasar cengeng" ujar Erlan.


"Baiklah, aku akan memastikan urusan ku selesai dan akan bertemu denganmu kalau begitu, maaf ya, aku pergi dulu. Aku meninggalkan sesuatu untukmu, kau bisa melihat nya di sebelah ruangan mu untuk sekarang Maybe next time, Amanda" kata Erlan dan akhirnya pergi.


Akhirnya Erlan pergi untuk mencari Zaki.


Amanda pergi ke ruangan setelahnya.


"Ng? kotak?" gumam Amanda.


Amanda akhirnya membuka kotak itu.


"Eh!!? Dasar... hiks, dasar Erlan bodoh!!" kata Amanda yang tersenyum sambil menangis mengamati isi dari kotak yang di tinggalkan Erlan.


Sementara itu...


"Mau lari kemana kau Zaki????" tanya Nina.


"To... tolong, Lan" pinta Zaki.


"Gimana lah nasib ku saat ini?"