The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 61 : Obsesi



"Duh! kak Toni! gara-gara ngeledek jadi malah masuk terowongan! bukannya malah lewat lift rahasia aja!" pikir Amanda.


"Disini agak gelap" kata Amanda.


Hi.. Hi... Hi....


"Ng? suara apa itu!?" pikir Amanda.


KiKikikiki.....


"Siapa itu?" panggil Amanda, karena itu terowongan jadi suaranya bergema.


"Sebaiknya aku lari!!" batin Amanda sambil berlari.


"Alhamdulillah! aku berhasil keluar!" kata Amanda yang langsung membuka pintu rahasia untuk masuk ke Rosement.


"Ting! Sandi anda benar, silahkan masuk"


"Aku akan langsung ke kamar ah!" kata Amanda.


No. 10....


Ceklek! Blam!


CRRSH!!! Suara pancuran shower di kamar mandi, Amanda sedang membersihkan diri sebelum tidur.


"Saat tadi aku berbalik, aku melihat orang bermasker itu, Auranya sama persis, tapi kenapa? mengaku sebagai atasan?" batin Amanda yang matanya tiba-tiba berwarna hijau kembali.


"Waa! panas! kenapa sih!? saat aku lagi berpikir keras seluruh tubuhku jadi mati rasa!?" gerutu Amanda.


Selesai mandi dan Sholat isya...


Amanda sedang merenung...


Erlan bilang saat 5 tahun yang lalu... ya! saat aku pulang dari karyawisata aku melihat ibu pingsan terkapar di rumah, tanpa di perintah aku langsung membanting tas dan mengambil kunci mobil lalu membawa ibu ke rumah sakit...


"Di sana saat ibu sadar ibu ngga bicara apa-apa, hanya bilang dia kurang fit saja, tapi... apakah benar? hanya karena kurang fit bisa langsung kehilangan nyawa!? itu pasti ngga masuk akal! dan benar saja saat aku mencari-cari di laboratorium ibu! aku masih menduga apakah Roy... kode nama orang itulah yang meracuni ibu!? tidak! tapi..."


"Tapi jika memang benar seharusnya tidak segampang itu! masa dengan segampang itu sih!? ibu adalah orang yang sangat waspada, apalagi rumahku daerah kompleks yang ramai, ini pasti dilakukan orang oleh orang suruhan atau orang yang dekat dan tidak di curigai"


"Andai saja saat itu aku tidak ikut karyawisata..... maka ibu ngga..." tanpa sadar Amanda memberhentikan pikirannya karena menangis.


"Sudahlah! jika aku sedih, ibu nanti khawatir dan malah ngga tenang" ujar Amanda.


Keesokan harinya di AR Group, waktu istirahat...


"Makanlah! udah waktunya istirahat! nih! ada onigiri, mau ngga?" tanya Riri.


"Semut... kau mau kemana? kamu kecil tapi kuat ya? jalan segitu jauhnya dari sarang mu" ucap Amanda yang sedang mager di meja mengamati semut.


"Ni anak korslet kali ya? kamu kenapa sih?" tanya Riri.


"Lagi kepikiran sih Kak" kata Amanda.


"Kepikiran apa?" tanya Riri.


"Ada deh"


"Idih! ngga mau kasih tahu nih?" tanya Riri.


"Haah!" Amanda sedang lesu dan akhirnya memakan bekal yang disiapkan Rahmat tadi pagi.


"Widih! bekal kamu makanan mahal! emangnya setiap hari siapa yang masakin?" tanya Riri.


"Ah... masa sih mahal kak?" tanya Amanda.


"Iya! tempat bekal nya udah gede, banyak ruang, ada nasi, sayur, lauk, buah, dan salad! lauknya aja ayam bakar! itu apa ngga susah dan mahal?" tanya Riri.


"Aha, itu ngga tau kak" kata Amanda ngga bisa memberikan penjelasan.


"Huft! dari tadi ngga tau mulu" kata Riri.


"Aku udah selesai makan, ini buat istirahat kedua, aku kerja dulu ya kak" kata Amanda menutup bekalnya.


Klap!


"Amanda kenapa ya? agak aneh" ucap Riri.


Di Teritori Divisi IT....


"Permisi..." kata Wildan.


"Iya?" tanya Amanda.


Wildan dan Amanda sedang berbincang-bincang.


"Ng? Wildan? tumben banget minta tolong sama Amanda" gumam pelan Vian.


Vian menatap mereka berdua...


"Sudahlah! kenapa aku malah terobsesi amat sama mereka berdua, ngga ada kerjaan" kata Vian.


Kemudian...


Di ruangan Vian...


"Hei! Vian! mau pesan apa buat makan siang kita Divisi IT untuk 2 minggu kedepan? ini ada menu! cepetan! aku mau ke sekarang!" kata Kelly.


"Bentar!!" kata Vian yang panik sambil melihat Laptop CCTV.


Ceklek! Pintu terbuka...


"Permisi" kata Wildan.


SRAK! GREP! Vian dengan secepat mungkin mendatangi Wildan dan mencengkeram kerah baju Wildan.


"Wildan! sini! lihat apa ini!!?" Seru Vian marah sambil membawa Wildan ke Laptopnya.


"Kenapa kau bersama dengan orang yang mencelakai General Manager!? jawab! siapa dia Wildan!!?" tanya Vian memperlihatkan rekaman insiden Vandro yang terlempar botol.


( Season 2 Chapter 44 )


"A... anu... dia juga yang menyuruhku untuk membawa OG itu keluar" kata Wildan menunduk.


Vian sangat terkejut mendengar Amanda juga terlibat.


"Kenapa kau tidak memberi tahu!!? Kita ini Tim Wildan!!" Seru Vian sambil melepaskan cengkeraman nya dan langsung mengambil ponselnya.


Bruk! Wildan terduduk.


"Wildan, ada apa sebenarnya!?" tanya Kelly.


"Aku tidak tahu... tapi aku sudah melakukan kesalahan!" kata Wildan menutup mukanya karena sudah terlambat.


Sementara itu Amanda...


"Duh! kata Pak Wildan, di parkiran barangnya... tapi di sturknya ngga ada tertera nomor Plat mobilnya, dimana ya?... Eh!? Ada nomor tidak di kenal menelpon ku?" tanya Amanda melihat Ponselnya.


"Duh.. angkat apa ngga ya?" pikir Amanda.


"Angkat aja deh! Halo Assalamu'alaikum" kata Amanda.


"Kamu dimana!?" tanya Vian.


"Eh... Vian, di... di parkiran, ada apa?" tanya Amanda.


"..... ... "


"A... apa maksud nya Vian!?" tanya Amanda ngga mengerti.


"Intinya, cepat kembali masuk!" kata Vian.


"Kenapa!?" tanya Amanda.


Tiba-tiba...


Grep! Ada seseorang yang menggenggam tangan Amanda dan mengambil ponselnya.


"Kena kau!"