
"Oh ya, gimana tanganmu Amanda? yang bekas tembakan? kok aku lihat ngga ada perban ya?" tanya Rahmat.
"Oh, Perbannya ada di lengan kiri ku kak! ketutupan lengan gamis sih ya, kata Pak Randi nanti mau check up lagi biar lihat kapan bisa di lepasnya, soalnya hampir merusak pertahanan tulang" Jelas Amanda.
"Lama juga ya di perbannya" ujar Rahmat.
"Ya, menurutmu begitu Vian ya?" tanya Amanda.
"Ng? maksudnya?" tanya Vian.
"Itu lho, yang-" belum selesai Amanda bicara.
"Perhatian semuanya! diharapkan semua anggota Apartemen datang ke halaman! kalian harus menyambut anggota baru!"
Semuanya yang mendengarnya kaget karena kata "Anggota Baru", Amanda, Vian, dan Rahmat sempat kaget dan berbalik ke pintu luar dapur.
Nera yang sedang berlatih di GYM bersama Vandro terkejut mendengar suara toa, sedangkan Randi harus tersedak mendengar suara toa.
Di Halaman....
"Mana sih mereka?" batin Rafa.
"Rafanza Zevan Ameera sudah sampai!"
Rafa masih saja bersuara dengan toa nya.
"Kau yakin ini cara bagus memanggil mereka dengan toa, Rafa?" tanya Andra yang memperbaiki kacamata hitamnya.
"Ya Iyalah! jangan bilang norak lho!" kata Rafa sambil mengarahkan toa nya ke arah Andra.
"Jangan kearah ku! matikan toa nya! takut ada orang lain yang dengar" kata Andra, sedangkan Radith dan Pak Andi hanya diam dan tidak tahu apa yang harus di lakukan atas perbuatan Rafa.
Drap! Drap! Drap! ada suara langkah kaki.
"Oh? ada yang datang?" tanya Rafa sambil berbalik kebelakang.
"Ada apa ini? aku tadi denger ada suara toa" kata Amanda.
"Kak Rafa datang!? ke Apartemen!? kok aku bisa ngga tahu?" batin Amanda sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya sekaligus kaget.
"Pa... Pak Presdir? ini ada apa ya?" tanya Amanda pada Andra.
"Andra, ada apa ini?" tanya Vandro yang baru sampai.
"Wah... Wah!! ada apa ini????" tanya Vian dan Nera yang auranya langsung suram dengan menatap Rafa dengan tatapan memusuhi.
"Waduh... Auranya langsung ngga enak banget, Dasar... " batin Amanda menatap Vian dan Nera.
"Andra! apa maksudnya memasukkan si bar-bar ini kesini!?" tanya Nera kesal.
"Andra! kok kita ngga di kasih tahu!?" tanya Vian.
"Si Andra ini bener-bener! ngga ngasih kabar! sukanya berbuat seenaknya!" kata Randi yang baru sampai.
"Ya... karena kalian semua sudah disini, saya ingin memberitahu... kalau sebenarnya Rafa disini untuk memata-matai kita!" kata Andra sambil tersenyum lebar.
"Hah!?" tanya mereka semua kecuali Amanda.
"Ka... Kak Andra?" tanya Amanda.
"Maksudnya apaan Ndra!? kok, anu! kita ngga ngerti!" ujar Randi.
"Lagipula kita ngga mau berteman apalagi menerima anggota ngga jelas kayak si Rafa!" ujar Vian di susul Nera yang menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan Vian.
"Ng? Apa!? kalian berdua natap aku kayak gitu!? mau menjatuhkan aku kalian!? sini ayo berantem! 2 lawan 1 siapa takut!" ujar Rafa yang udah kuda-kuda.
"Tenang dulu semuanya, kalian akan salah paham jika berbuat tanpa saya jelaskan, kalian hanya akan salah paham bukan?" tanya Andra.
"Ayo kita berbicara di tempat yang lebih baik" kata Pak Andi.
"Dan kalian berdua, Vian dan Nera ngapain bawa jaring dan kantong plastik? kalau mau bungkus Rafa bentar aja, tenang dulu" ujar Andra melihat tingkah Nera dan Vian.