The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 30 : Masalah Rafa



19 tahun yang lalu.....


"Rafa, Cita-citamu mau jadi apa? kalau aku mau jadi ilmuwan! " tanya Andra yang berumur 7 tahun.


"Ng... aku malu, tapi Kak Andra janji ya, ngga mau kasih tahu ke siapa-siapa" kata Rafa yang berumur 6 tahun.


"Iya tenang aja!" kata Andra sambil mendekatkan telinganya ke mulut Rafa untuk mendengar apa yang dibisiki.


"Waah! hebat! " kata Andra.


"Ssst! jangan berisik! " kata Rafa.


"Kamu udah putusin? ngga mau tinggal diistana bersama kami? " tanya Arif.


"Tidak kak, aku tidak ingin terlena dengan mewahnya istana " kata Adimas.


"Hahaha, baiklah adik, kakak akan kembali ke istana, Andra, ayo pulang, lihat? Ana sudah tidur" kata Arif.


"Ayah! Ana umur berapa tahun sekarang?" tanya Andra.


"Hm.... sekitar 3.2 bulan sayang " kata Ibu Andra.


"Oh begitu, kira-kira...cita-cita Ana saat besar nanti apa ya Ayah? Ibu?" Tanya Andra.


"Hm, Ayah tidak tahu, tapi Kami yakin kalau Ana akan punya cita-cita hebat juga seperti kakaknya " kata Arif.


"Oh ya! Ngomong-ngomong soal cita-cita! Rafa bilang tadi dia punya cita-cita hebat lho! " kata Andra.


"Ka... Kak Andra! " kata Rafa.


"Oh ya? apa cita-citanya? " kata Arif sambil memendekkan badannya dan setara dengan tinggi Andra dan Rafa.


"Katanya, Rafa mau jadi Raja! dia pengen memimpin rakyat dengan adil agar Rakyatnya hidup rukun seperti rakyat yang Ayah pimpin sekarang! " kata Andra.


"Kak Andra! aku kan udah bilang! jangan kasih tahu! " kata Rafa.


"Wah, hebat dong! Rafa masih kecil udah punya cita-cita yang besar " kata Arif.


"Pa... Paman ngga ngetawain cita-cita ku? " tanya Rafa yang tersipu Arif memujinya.


"Kenapa meski malu? itukan suatu keinginan yang ingin kita gapai saat sudah besar nanti " kata Arif.


"Memangnya siapa yang menertawakan cita-citamu Rafa? " tanya Ibu Andra.


"Yang menertawakannya adalah, **** " kata Rafa.


..._________...


"Ng! Mimpi itu lagi" kata Rafa.


"Hah!? nga.. ngapain aku disini!?" tanya Rafa melihat dirinya di mobil.


"Ah, pagi yang mulia, saya akan mengantar anda ke kediaman Pangeran Adimas" kata Bima, pengawal pribadi sekaligus asisten pribadi Rafa.


"Maaf Tuan, Yang mulia pangeran meminta anda untuk segera tiba disana" kata Bima lagi.


"Bisa ngga sih? manggilnya Rafa aja? kayak ngga akrab mana gitu" kata Rafa.


"I.. iya tu-... maksudku, Rafa" kata Bima.


"Teruskan perjalanan deh, mana kamu bawa aku belum mandi lagi" kata Rafa mencium bau busuk dari tubuhnya.


"Hehe, maaf Pang-... maksudnya Ra... Fa" kata Bima yang masih kurang merasa sopan memanggil nama itu.


"Ya sudah, kita langsung ke kediaman Paman Adimas" kata Rafa.


Di kediaman Adimas.....


Ceklek!


"Duuh! sumpek banget di dalam mobil!" kata Rafa.


"Rafa!!" kata Azka.


"A... Ayah!?" tanya Rafa.


Flashback On....


"Memangnya siapa yang menertawakan cita-citamu Rafa? " tanya Ibu Andra.


"Yang menertawakannya adalah Ayah "


Flashback Off...


Ya, Ayah! dia yang menertawakan cita-citamu, dan bilang aku tidak bisa meraih hal itu.


"Kamu darimana aja!!? udah ngga jemput Ayah di bandara, sekarang masih aja datang tidak dengan sopan santun!! kamu itu anak keturunan bangsawan! seharusnya anak yang berpendidikan! Jadi Ayah meminta Bima untuk membawamu ke sini!" Jelas Azka dengan kesal.


"Hah!? Bima!? Bima Pengkhianat ih! kamu itu berpihak kepada siapa sebenarnya!?" tanya Rafa kepada Bima.


"Ya, tentu saja pada Ayah Anda, karena saya kan di gajinya oleh beliau" kata Bima.


"Bodo amat Ah! Sudah, aku mau masuk ketemu paman Adimas dulu" kata Rafa.


Grep! Azka mencengkram kerah baju Rafa.


"Tercium Mocktail dari mulutmu, kau bermain-main dengan teman-temanmu yang tidak berpendidikan itu lagi, Rafa!? bukankah Ayah sudah bilang!? jangan bergaul dengan teman-teman seperti itu!" kata Azka dengan marah.


"Iih! kan cuma Mocktail Ayah! bukan Cocktail!" kata Rafa.


"Iya! tapi jangan dengan bergaul dengan teman-teman seperti itu!" kata Azka.


"Sudah deh! aku mau ke-.... HAH!?"