
Di Rosement.....
No. 10
Tok! Tok! Tok! suara ketukan pintu dari kamar Amanda.
Ceklek!
"Iya?"
"Malam Amanda" kata Vandro.
"Wah, malam Pak Vandro, Pak Vandro mau masuk?" tanya Amanda.
"Ngga apa-apa, saya mau memastikan kamu sudah pulang, soalnya tadi saya hubungi kamu tidak diangkat" kata Vandro.
"Wah! maaf Pak! Ponsel ku tadi baterainya hampir habis jadi saya charger, Pak Vandro mau bicara sesuatu?" tanya Amanda.
"E....kita di ruang makan yuk" kata Vandro.
Diruang makan....
"Eh? apa yang terjadi jika aku bertemu kakakku?" tanya Amanda.
"Ya, jika kakakmu diluar dari ekspetasi mu, apa yang ingin kau lakukan?" tanya Vandro.
"Em.... Aku dan Kakak mungkin dulu pernah terjadi sesuatu yang membuat kami tidak bersama sampai sekarang, dan Presdir sedang berusaha agar aku bisa bertemu kakak, jika ia diluar Ekspetasi, aku akan membantu kakak untuk tetap menjalani semua yang menjadi bebannya sebagai saudara, dan memaafkan semua kesalahan yang di perbuat padaku, entah itu kesalahan sebab Ekspetasi nya, atau kesalahan yang ia buat secara pribadi, aku akan berusaha menerimanya dengan lapang dada" kata Amanda.
"Oh, begitu kah? kau akan semudah itu memaafkannya?" tanya Vandro.
"Ya, walau sebesar apapun kesalahannya itu, aku tetap berusaha agar bisa memaafkannya, karena itu salah satu terjalinnya toleransi dan kasih sayang sebagai saudara, contohnya aku sudah memaafkan kesalahan mendiang ibu angkat ku yang menyimpan kenyataan kalau aku bukan anak Kandungnya" kata Amanda.
"Aku.... mempunyai dendam yang mendalam tapi itu tidak sebesar yang Amanda katakan, apakah aku ini ke kanak-kanakan?" batin Vandro.
"Baiklah, saya akan membantumu saat kau bertemu kakakmu, jangan gugup dan terima apa adanya, saya akan membantu" kata Vandro.
"Tentu Pak, terimakasih banyak" kata Amanda.
"Ya sudah, setelah kamu habiskan minuman mu, saya antar ke kamar ya" kata Vandro.
"Ya! Gluk! Gluk! Gluk!" Amanda meminumnya dengan cepat.
"Mi... Minumnya ngga usah cepat-cepat" kata Vandro.
Kediaman salah satu anggota keluarga Ameera.....
"Wah, jadi kau sudah datang ke Carna tadi pagi dan baru menemui ku pada malam hari?" tanya Adimas paman Pangeran.
"Ya, aku bertemu mitraku terlebih dahulu" kata Azka yang juga Paman Pangeran.
"Haha, kamu memang tidak pernah mementingkan keluarga ini ya Azka" kata Adimas.
"Dan juga tentang Andra, selama ini ia baik-baik saja, apakah kau berbuat sesuatu yang membuatnya tidak ingin kau campur tangan urusannya?" tanya Azka lagi.
"Hah, curiga sekali kau wahai adikku, aku hanya menghentikan dirinya dari perbuatan yang akan melukai keluarga ini.Ingat Azka, akulah yang mengasuh Andra dan Ana saat kakak sudah tiada, bukan kau" kata Adimas sambil memperlihatkan foto Andra, Ana, Rafa, dan Adimas.
"Aku menganggap Andra, Ana, dan anak sulung mu Rafa, sebagai anakku sendiri" kata Adimas.
"Dan sekarang foto ini hanyalah kenangan pahit yang menghantuiku, Ka" kata Adimas lagi.
"Aku bahkan tidak sanggup untuk melihatnya, karena aku pasti akan mengingat hari terburuk itu, Ka!" Kata Adimas.
"Mas, kejadian itu bukanlah salahmu berhentilah menyalahkan dirimu sendiri" kata Azka sambil melihat Azka yang berjalan ke arah gorden.
"Jika hari itu aku tidak pergi ke makam istriku di luar kota, dan jika aku ikut menemani Andra dan Ana, atau ikut membawa mereka menziarahi makam tantenya" kata Adimas sambil menggenggam kuat gorden.
"Lalu kau tahu apa yang aku dengar saat berada di depan makam istriku? berita dari Penjaga dan pengawal kerajaan di istana bahwa Andra dan Ana di culik saat tengah bermain di taman istana! yang bahkan menyebabkan istana dibeberapa ruang kebakaran besar!" Kata Adimas.
"Apakah kau pernah merasakan penyesalan yang seperti ini Azka? Aku hampir kehilangan semuanya!
Istriku! Anakku yang belum lahir! Kak Arif dan Ana!" kata Adimas dengan kesal.
"Aku bahkan hampir kehilangan kendali kenapa penjagaan di istana tidak ketat! semuanya meninggalkanku disaat aku tidak dekat!" Kata Adimas.
"Ayolah Mas, jangan terlalu menghukum dirimu sendiri, tidak ada yang bisa kau lakukan, semua yang menimpa mereka itu adalah kecelakaan" kata Azka.
"Kecelakaan katamu!? kau masih mempercayai itu semua kecelakaan belaka? Lalu bagaimana insiden kejadian yang menimpa Andra dan Ana? apakah itu kecelakaan?" tanya Adimas.
"Mas,... bukan itu maksudku" kata Azka.
"Itu sudah jelaskan!? Pelakunya adalah Keluarga HARRISON itu!! Andra bahkan memberikan kesaksiannya!!! dan kesaksiannya mengarahkan semuanya kepada Harrison!" Seru Adimas dengan marah.
"Adimas!! cukup! tidak perlu mengingatnya lagi! Andra tidak perlu mengingatnya! makanya Ayah tidak ingin Andra mengingatnya!!" kata Azka sambil menggenggam lengan Adimas.
"Ya.... Andra sudah lupa...dia lupa waktu-waktunya denganku, padahal dia dulu sangat mendukungku untuk menegakkan keadilan terhadap keluarga ini. Dan membalaskan dendam Harrison yang sudah merenggut nyawa orang tuanya" kata Adimas.
"Jujur saja Azka, aku memanggilmu kesini untuk membantuku menghentikan Andra, karena kamu dan Ayah percaya sekali dengan Andra menjadi pewaris tahta kerajaan dan perusahaan serta memegang posisi sebagai kepala keluarga Ameera, untuk wanti-wanti aku masih terus menjaga koneksi ku" Jelas Adimas.
"Tapi, aku tidak setuju dengan caramu Adimas! kau bahkan mau mengorbankan informasi paling rahasia yang di pendam keluarga kita sendiri kepada warga kerajaan! itu cara yang tidak baik! dengan menyabotase informasi rahasia di kantor pusat" kata Azka.
"Memang caraku tidak baik, tapi itulah cara paling efektif, dengan kendaliku yang sedikit" Jawab Adimas.
"Selama ini, urusan ini aku serahkan ke Gilang yang menghubungkan ku dengan koneksi ku" kata Adimas lagi.
"Tapi akhirnya gagal, bahkan aku sampai kehilangan orang-orang yang aku percayai di sana untuk menjaga situasi dan upaya sabotase di AR group" Ucap Adimas.
"Andra bahkan mulai mendekatkan diri dengan Harrison, aku ngga mengerti anak itu lagi....Sementara itu dia memelihara kelompok berbahaya di tempatnya itu, dia akan membuat keluarga Ameera dalam posisi yang berbahaya"
"Azka.... Jika kamu memang benar-benar sayang dengan Andra dan keluarga ini, tolonglah hentikan Andra dan turunkan ia dari posisinya sebelum ia menjadi seorang Raja, karena setelah ia menjadi Raja, tidak ada yang dapat menurunkannya dari posisinya itu, dan hancurkan bentengnya yang diisi oleh individu yang dapat membahayakan keluarga Ameera" pinta Adimas.
( Rosement)