
"Oh ya! Ok Na! tentu! makasih" kata Amanda di telepon dengan senang.
"Amanda, sepertinya ada hal yang mencurigakan deh" batin Vandro di dalam mobil menunggu.
"Pak Vandro, maaf ya Pak, saya akan ke restoran bersama Nina dan Dinner bersama nanti, tidak apa kan?" tanya Amanda.
"Ya, baiklah tidak mengapa" kata Vandro.
Malam hari kemudian....
Di Restoran....
"Wah! restoran bagus kayak gini!" kata Nina.
"Aku udah pernah kesini bareng Kak Sembilan dan Vian sih " batin Amanda.
"Pesan apa nih Nda?" tanya Nina.
"Mas! sini!?" panggil Amanda pada salah satu pelayan restoran.
"Lah! ka... kamu kan!" kata Pelayan itu.
"Ng? kenalanmu Nda?" tanya Nina.
"Ng... Oh! anda mas-mas yang waktu itu ya?" tanya Amanda.
"Ya! makasih buat tisunya ya" kata Pelayan itu dengan tersenyum.
"Sama-sama, oh ya! tolong pesan Steak spesial dua porsi ya" kata Amanda.
"Tentu" kata Pelayan itu.
Setelah selesai makan....
"Oh ya, Nina! tunggu diluar aja! aku akan membayar!" kata Amanda.
"Ya, ku tunggu" kata Nina.
"Hm.... supirnya seharusnya sudah datang... Ah! panjang umur! itu dia!!" kata Nina.
"Amanda! ayo! udah datang!" kata Nina.
"Ya!" kata Amanda menuju pintu keluar.
"Maaf mbak permisi, saya ingin memberikan anda ini" kata Pelayan tadi.
"Ng? Voucher?" tanya Amanda.
"Iya! sebagai ucapan terimakasih" kata Pelayan itu.
"Makasih" kata Amanda.
"Amanda! cepetan dong!" kata Nina.
"Ya Na!"
"Hm..."
Brrrmmm!!! Suara mobil yang melaju.
"Na, aku berhenti disini aja ya" kata Amanda berhenti di minimarket.
"Ngga apa-apa" kata Amanda.
"Oh iya aku lupa kau kan kuat" kata Nina.
"Hahaha, Sahabatmu gitu lho!" kata Amanda.
Tap! Tap! Tap! tiba-tiba ada motor dari arah lain mendekati dan memberhentikan motornya dan turun dari motor mendekati Amanda.
BRUK! Amanda terjatuh karena berusaha menghindari motor itu dan lututnya berdarah.
"Si... siapa!?" tanya Amanda.
Brrrm! ada motor lagi, kali ini pengendaranya memakai hoodie berwarna hijau gelap dari arah belakang.
"Hei! jangan berniat lari kau!" kata Orang berbaju putih.
Amanda berdiam dan tetap memperhatikan orang itu mendekat membawa pisau.
Orang berbaju hoodie itu tidak diam saja, ia mendekat.
Tiba-tiba, dalam sekejap orang berbaju putih membawa pisau itu sudah terkapar dan babak belur sampai tidak bisa bergerak lagi.
"Sekarang? siapa kau!?" tanya Amanda pada orang berbaju hoodie itu.
"Apakah kau ingin menjadi giliran berikutnya?" tanya Amanda.
Orang berhoodie itu tetap mendekati Amanda.
Lantas mau bagaimana lagi? Amanda langsung menyerang menggunakan tangan, tapi tanpa diduga, orang berhoodie itu menangkis dan mencengkeram kedua tangan Amanda.
"Hah!? siapa kau!? lepas!" kata Amanda.
"Sst! jangan ribut" kata orang yang suaranya sangat di kenal Amanda.
"Hah!? ka... kamu kan!?" tanya Amanda.
"Hah! sudah kubilang kan? tenang! aku ngga bakalan gigit" kata Toni sambil melepas masker nya.
Flashback sebelumnya....
"Hm? itukan Amanda" gumam Toni.
"Iya! aku lihat! mobil berwarna hitam itu kan? ya! aku sedang mengejarnya" kata Orang berbaju putih menelpon dan sempat didengar Toni.
"Dia... diikuti?" pikir Toni.
"Si... Siapa!?" tanya Amanda.
DUAK! BRUK! GUBRAK! Amanda memukul dan membuat orang berbaju putih itu babak belur.
"Ia... ahli bela diri? " pikir Toni.
"Sekarang, siapa kau?" tanya Amanda.
"Apa kau ingin menjadi giliran berikutnya?" tanya Amanda.
"Hm, aku sebaiknya bertindak sebelum gawat" batin Toni.