The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 109 : Caranya?



"Pokoknya aku harus bisa! membangkitkan nya!" ujar Amanda.


"Begitu ya? baiklah... mari kita berlatih" kata Pak Andi.


Amanda terdiam.


"Baiklah! ayo!"


Andra dan Radith berdua masih terpatung.


"Radith, aku rasa dia akan bernasib tidak baik" ujar Andra.


"Saya juga berpikir begitu Tuan"


"Kakek,... lapangan itu tidak terdengar kah jika kita melakukan jurus atau apapun tidak ada yang tahu kah?" tanya Amanda.


"Tidak Nak, untuk keamanan, Lapangan ini di letakkan pada sejauh 25 Km dari Apartemen, jalan terdekat bisa sampai ke sana dengan Lift, tapi jalan kaki saja membuat sehat" Jelas Pak Andi.


"Baik"


Di Lapangan latihan...


"Baik! sekarang serang dengan tubi-tubian!" ujar Pak Andi.


"Baik! Uchu Ankoku Ninpou!!!"


SRRR!!!!


"Masih terlalu kecil"


"Baik! akan ku coba lagi!"


Amanda melakukan beberapa segel tangan dengan cepat.


"Uchu Ankoku Ninpou!!!" Jurusnya itu 3 kali lipat dari biasanya.


"Lumayan Nak" kata Pak Andi.


"Jadi,.. apakah ada lagi?" tanya Amanda.


"Masih mau yang lain?" tanya Pak Andi.


"Aku bilang tadi harus bisa membangkitkan nya! perjalananku tidak akan berlanjut dan akan menjadi sia-sia saja jika aku berhenti disini! Aku ingin lanjut kek!" ujar Amanda.


"Baiklah,... insya Allah pasti bisa" kata Pak Andi.


"I.. iya, insya Allah kek"


Dan dengan begitu, Amanda terus-terusan berlatih dan berlatih selama 3 jam penuh tanpa berhenti.


Dan waktunya duel pertarungan terakhir Pak Andi VS Amanda.


"Ini biasanya yang terjadi, jika mereka selesai melawan musuh yang lemah, mereka akan berhadapan dengan musuh kuat di pertarungan bagian terakhir dan menyebabkan banyak tenaga habis karena sisa-sisa pertarungan sebelumnya, kita harus belajar dalam menyimpan Mana dan memakainya dalam jumlah yang hemat" Jelas Pak Andi.


"Hosh... Hosh... Hosh, a... ayo!" ujar Amanda.


"Baiklah, bersiap Nak!" Pak Andi langsung muncul di depan Amanda dan akan melakukan serangan.


"Ce... Cepat sekali!!" batin Amanda yang langsung terkena serangan, tapi Amanda memasang perlindungan tangan meski membuatnya terdorong dan hampir kehilangan keseimbangan.


"Lanjut!" ujar Amanda.


Pak Andi menendang pertahanan tangan Amanda dan hampir terjatuh, sedangkan Andra hanya melihat dari jarak 300 m.


Amanda sudah sangat kewalahan tapi demi tekad dia tidak ingin menyerah.


Plok! Plok! Plok! Terdengar suara tepukan tangan.


"Hebat, sungguh hebat jadi bapak tua itu kah? yang di katakan sebagai Shinobi legendaris ke 5? dan ternyata Terano juga pemegang pengendali segel nya ada disini? ini tidak boleh di lewatkan"


"Kenapa? suram sekali? apa karena habis berlatih? meski sudah menjadi kuat, belum tentu kalian bisa mengalahkan ku" Ujar Pascal.


"Jangan sombong dulu kau! kembalikan kak Arka!!" kata Amanda.


"Tidak bisa? pemuda ini hanya wadah sementara tapi bisa di manfaatkan, tenang saja... setelah urusanku dan dia selesai, aku akan mengembalikannya padamu dalam wujud mayat" Kata Pascal.


"Makhluk ini benar-benar membuatku kesal" batin Amanda.


"Kau!!! Kembalikan kak Arka!!!" Seru Amanda dan langsung melompat tinggi dan membentuk tinjuan untuk meninju Pascal.


JDUAAAAR!!!! Serangan yang begitu besar, membuat tanah menjadi kabut debu, dan akhirnya kabut itu hilang di gantikan dengan tanah yang rusak parah.


"Mana dia?" tanya Andra.


"Baiklah karena kau yang minta ayo!!!" Seru Pascal dan mulai menyerang Amanda.


Pertarungan sengit antara mereka benar-benar tanpa celah, Amanda yang sudah kewalahan karena latihan dan Pascal yang lumayan terluka parah karena Amanda menyerangnya.


Keduanya berhenti di jarak saling bertatapan sekitar 100 meter dengan kondisi saling kewalahan.


"Kau,.. benar-benar memaksaku" Pascal dengan menggunakan Arka mengaktifkan Angry Turquoise.


"Gawat! Angry Turquoise!" batin Amanda.


Amanda menghindar sedikit.


"Dan untuk Shinobi legendaris ke 5 juga Baginda Raja, jangan coba-coba bergerak dari tempat" Ujar Pascal.


"Apakah kita benar-benar tidak bisa melakukan sesuatu!?" batin Andra.


"Tenang saja, untuk ini aku tidak akan menyerang, tapi... aku ingin membuatmu menatap mataku dan melihat kejadian sebenarnya saat 19 tahun yang lalu... tepatnya pada saat kelahiran mu, sampai kematian kedua orang tua mu" Jelas Pascal dan membuat Amanda melihat elemen pikiran.


19 tahun yang lalu....


"Sudah berapa bulan kira-kira ya?" gumam Afifah.


"Mika? kau disini?" tanya Arif sambil membuka pintu.


"Iya,.. aku disini, ada apa?" tanya Afifah.


"Oh ya! ingat ya! jangan panggil aku Mika! aku sekarang Afifah!"


"Baik... baik, ngga usah ngegas dong" ujar Arif.


"Mama! Papa!" Andra berlari ke arah Arif dan Afifah.


"Ada apa Andra? apakah latihan ninjutsu mu sudah selesai?" tanya Arif.


"Iya sih, tapi Andra ngga mau latihan lagi! kakek Andi keras banget latihan nya!" ujar Andra.


"Ngga boleh gitu, namanya ingin mencapai sesuatu harus berusaha" kata Arif.


"Bener tuh! Oh ya! dede bayi udah makan belum? halo Dede Ana! kak Andra disini!" ujar Andra sambil mendekatkan telinganya ke perut Afifah.


Sedangkan Arif dan Afifah tertawa kecil karena melihat kepolosan Andra.


"Sudah 9 bulan, tapi sebaiknya kita ke dimensi Shinobi saja, itu akan lebih baik agar tidak membahayakan dunia nyata" ujar Arif.


"Sepertinya benar, kita akan di bantu oleh seorang perempuan asisten Pak Andi nanti" kata Afifah.


"Andra,... ikut Papa ya"


"Kemana Pa?"


"Ke tempat di mana suatu saat harus Andra singkirkan"