The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 13 : Putus



Sebelumnya...


"Vandro kenapa ya? katanya mau ke tangga besar Apartemen dulu" batin Vian.


"Vian!" Kata Amanda sambil menghampiri Vian.


"Ng? kenapa?" tanya Vian.


"Itu... temani aku ke kak Vanora yuk! katanya mau ketemu Pak Vandro kak Vanora nya" kata Amanda.


"Aku lihat kak Vanora reaksinya agak aneh dan agak ketakutan!" kata Amanda.


"Vandro juga! kayak reaksinya badmood gitu" kata Vian.


"Kan! pasti ada apa-apa, aku jadi khawatir... ayo" kata Amanda.


Akhirnya Amanda dan Vian memutuskan untuk mengawasi dari balik tembok di belakang Vandro.


"Eh? maksudmu apa Dro? kan aku udah pernah bilang samamu kalau itu aku beli dari toko owner nya langsung" kata Vanora yang mulai sweatdrop.


"Sungguh? jangan bohong! aku tahu kalau kau bohong! maksudku... owner nya sekarang bukan yang dulu! sekarang sudah di pegang oleh owner baru kan!? yang ingin ku tanya itu... siapa Owner barunya!?" tanya Vandro.


DEG!


"Eh? L... Lho" batin Vanora.


"Bella! itu owner barunya! itu nama wanita itu kan!!?" tanya Vandro.


DEG! DEG! DEG!


"A... Anu Dro, Bella itu nama umum kan? kok tiba-tiba sih?" tanya Vanora.


"Iya!!? Lalu... kenapa owner lama itu bilang kalau owner baru itu tidak menjual! melainkan ingin di buat pribadi! bagaimana!!? apakah kau mau menyangkal lagi!!?" tanya Vandro.


"Ya... Ya ampun.. Pak Vandro bahkan sampai membentak selama ini Pak Vandro selalu tersenyum, ngga nyangka kalau bisa bentak kayak gitu" batin Amanda di balik tembok, Vian hanya bereaksi prihatin.


"Ku telpon Rahmat dan Andra dulu" kata Vian pelan sambil mengambil Ponselnya.


"Siapa yang teriak-teriak? Vandro ya?" tanya Nera yang lewat dengan santuy.


"Ssst!! Diem! sini!" bisik Amanda dan Vian sambil menarik Nera kebawah agar tidak ketahuan.


"Huh! jangan harap aku akan kembali kau tahu!!? kau ingin apa!? menipuku!?" tanya Vandro.


"Kalaupun aku tahu kalau makanan-makanan ini dari wanita itu... aku tidak akan pernah sudi menyentuh makanan buatannya!! kau benar-benar pengkhianat! mengecewakan! aku tidak mau melihat mukamu lagi! pergi dari sini!! aku tidak mau melihat mukamu! pergi!!!" Seru Vandro.


"Vandro! jangan! aku mohon jangan usir aku,... aku mohon!" kata Vanora yang air matanya tumpah sambil menahan lengan Vandro.


"Hah!!? berani-beraninya kau memohon-mohon padaku!? setelah kau menipuku!?" tanya Vandro.


"Vandro! dengarkan aku!! mama membuat itu hanya untukmu! dia menyayangimu! kau harus mengerti! dia membuat itu dengan penuh kasih sayang sebagai permintaan maaf!! aku mohon! mama membuat itu buatmu! dia ingin kau kembali! Mama ingin membuatmu senang!" kata Vanora sambil menangis.


"Semuanya kacau... semuanya kembali ke nol.... bagaimana sekarang.... " batin Vanora.


"Hah!? membuatku senang!? dengan menipuku!? jangan bercanda!!" kata Vandro.


"Vandro! aku mohon!" kata Vanora.


"Lepas!!!" kata Vandro sambil melepas paksa tangan Vanora dari tangannya.


"Ah" Vanora terlempar dan jatuh sampai bawah tangga.


Drap! Drap! Drap! Rahmat datang.


"Kak Rahmat! tolong kak!" kata Amanda.


Akhirnya Rahmat pergi menemui Vandro dan Vanora.


"Dro! ada apa lagi sebenarnya ini!?" tanya Rahmat.


"Bukan urusanmu" kata Vandro tanpa menatap Rahmat sedikitpun.


"Kalian nguping ya!? dasar tidak sopan" kata Vandro.


"Hii" Amanda takut, Vian melebarkan kerudung Amanda yang lebar dan menutup mukanya agar ngga kelihatan, sedangkan Nera hanya bereaksi biasa saja.


"Ada apa ini, Vandro?" tanya seseorang yang sangat mereka kenal.


"Hah!? Alhamdulillah kak Andra datang! masalah bisa selesai sementara.. " batin Amanda.


"Kenapa ramai-ramai begini?" tanya Andra, sedangkan Radith berada di belakang Andra mengawal.


"Kayaknya Kak Andra terbangun dari tidur karena panggilan Vian deh.. karena kak Andra memakai kaos, celana panjang berwarna krem dan jaket"


"Tanya saja mereka!! aku mau istirahat!" Seru Vandro dengan tinggi suara dan pergi melewati Andra.


"W... wah, ternyata Pak Vandro bisa ya bicara gitu ke kak Andra yang seorang Raja,... Eh! tau diri Nda! kau aja nampar kak Andra kok pernah.. " batin Amanda pada dirinya sendiri.


Akhirnya Kak Vanora dibawa pergi oleh Kak Rahmat dan Kak Andra dan kak Radith sedangkan kami tidak tahu harus apa, kami memutuskan untuk kembali ke kamar masing-masing, aku akan pergi ke kak Andra untuk berbincang-bincang setelah urusan dengan Kak Vanora selesai.


Di Bunker....


"Ini sudah jam 23.55 lho.. kamu ngga kembali ke kamar? nanti terlambat bangun buat sholat subuh nya lho" kata Andra yang menatap Amanda yang sedang bermain Play Station sambil merangkul boneka beruang berwarna merah muda yang di belikan Andra.


Dua kakak beradik itu sedang duduk di kursi panjang berdua.


"Ngga deh kak, aku masih agak kepikiran dengan Kak Vanora... aku jadi khawatir" kata Amanda yang tidak menatap Andra yang sedang memegang tablet dan stylus menandakan sedang bekerja.


"Ya.. tidak apa-apa, hubungan mereka dari dulu memang sudah memburuk dan hampir putus... jadi Vanora berusaha untuk menyambungkannya kembali, kakak pikir akan sudah membaik, tapi malah retak dan kembali ke nol lagi" kata Andra yang sibuk dengan tablet juga stylus nya.


"Lagipula... Vandro sama sekali tidak punya wewenang untuk mengusir Vanora dari sini, tapi untuk sementara mereka tidak bertatap muka di Apartemen dulu" ucap Andra.


"Gitu ya" kata Amanda.


"Pantas saja Pak Vandro bilang agar memaafkan Kak Andra... karena Pak Vandro mungkin tidak ingin aku dan kak Andra seperti itu... tapi, bagaimana jika aku dan kak Andra..." batin Amanda terhenti.


"YOU WIN!"


"Wah... hebat, bisa selesaikan level! itukan level Bos?" tanya Andra.


"Aku emang sudah lama sekali handal main ini kak" kata Amanda.


"Ah.. pegal" gumam Andra sambil memegang bahunya.


"Hah!? Pegal!?" batin Radith dan Amanda.


"Ng? ada apa?" tanya Andra yang melihat mata Amanda berwarna hijau yang menatap Andra dengan tatapan dalam.


"O.. Oh, apakah dia ingin menawarkan pijat?" batin Andra.


Radith langsung memijat bahu Andra.


"Wah! enak ya kalau Kak Andra pegal langsung kak Radith pijatkan, hihi... aku mau juga dong di pijat" ledek Amanda sambil tersenyum.


"Hah.... Seharusnya kamu diam saja tadi" kata Andra pada Radith.


"E... Eh?" tanya Radith bingung.


"Haah" Andra menghembuskan nafas lagi.


"Ke... kenapa!? kan memang sudah biasa kalau Tuan pegal aku yang pijatkan! Tu... Tunggu!! jangan bilang kalau Tuan ingin coba di pijat Nona!?" batin Radith.


"Haah" Andra menghembuskan nafas lagi.


"Ng? Kak Andra kenapa menghembuskan nafas terus?" tanya Amanda menggeser dan duduk mendekat ke Andra.


"Ngga kok, ngga apa-apa" kata Andra datar.


Sedangkan Radith sedang syok sweatdrop.