The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 44 : Solusi



"Radith, ada apa denganmu? apakah ada yang ingin kau katakan? sampai kau harus menggertakan gigimu beberapa waktu?" tanya Andra.


"Ma.. maaf tuan, sebenarnya saya hanya ingin mengatakan bahwa itu akan membuat tuan kepikiran atas Psikis yang di derita tuan jika anda tidak mengakhiri urusan dengan wanita itu, apalagi anda sudah naik tahta menjadi seorang Raja" kata Radith.


"Begitu ya? baiklah, saya akan memikirkannya" kata Andra.


Di AR Group....


"Itu Si Vandro!!! ngeselin sumpah!" batin Rafa.


"A... ayo Pangeran" kata Wildan.


Ya, balas dendam.


Rafa mengambil botol air mineral minuman dari salah satu karyawan dan melemparkannya ke kepala Vandro.


"Tapi balas dendam itu tidak harus Frontal kan!? " batin Rafa.


Dan..


BLETAK!! Botol minuman itu tepat mengenai Vandro.


"Ayo lari!" kata Rafa menarik Wildan.


"Makasih udah mengantar, aku pulang" kata Rafa.


"I... Iya" kata Wildan.


"Pulang begitu saja?" pikir Wildan.


Di Rosement....


"Ng? kau bilang dilempar botol minuman oleh seseorang?" tanya Rahmat.


"Ya, bahkan aku sempat syok dan membuat mas Aditya kaget, saat ku kasih tau Vian, dia malah antusias semangat tingkat dewa buat nyari siapa pelakunya" kata Vandro.


"Ya, disini ada yang agak benjol sih" kata Rahmat.


"Ya, di situ lumayan sakit" kata Vandro.


"Dah, sudah ku obati" kata Rahmat.


"Makasih Rahmat, aku dah janji sama Vian akan ke ruang kumpul anggota buat berdiskusi sekalian nonton biar dia rileks" kata Vandro.


"Ya" kata Rahmat.


Di Ruang kumpul Anggota...


"Hah!? aku nyanyi!? masa!? ku pikir di panggil karena ada apa!" kaget Amanda disuruh menyanyi oleh Vanora dan Nera.


"Ayolah Ndaa ya?" tanya Vanora dan Nera memelas.


"Ya, baiklah" kata Amanda pasrah sambil mengambil gitar.


Sreeeng!.


Sementara itu Vandro dan Vian...


"Kita akan naik tangga aja lewat jalan rahasia di tembok wall mu ya Vian?" tanya Vandro.


"Boleh".


...________...


๐ŸŽผ Ku hampiri, jalan yang kita lewati, setiap hari kita di sini ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Ku menanti, hadirmu tuk kembali, hanya kenangan yang tersisa disini ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Namun sekarang kau telah pergi dan ku yakini kau takkan kembali ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Mungkin hari ini, hari esok atau nanti. Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Mungkin hari ini, hari esok atau nanti.Tak lagi saling menyapa ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Meski ku masih harapkan muu ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ ku menanti hadirmu tuk kembali ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Hanya kenangan yang tersisa disini, namun sekarang kau tlah pergi ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Dan ku yakini kau takkan kembali ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Mungkin hari ini hari esok atau nanti. Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini ๐ŸŽผ


๐ŸŽผMungkin hari ini hari esok atau nanti๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Tak lagi saling menyapa, meski ku masih harapkan muu ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Sesungguhnya hatiku tak sanggup menerima dan lupakan segala nya ๐ŸŽผ


๐ŸŽผMungkin hari ini hari esok atau nanti.Berjuta memori yang terpatri dalam hati ini ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Mungkin hari ini hari esok atau nanti.Tak lagi saling menyapa ๐ŸŽผ


๐ŸŽผmeski ku masih harapkan muu ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ Meski ku masih harapkan muu ๐ŸŽผ


๐ŸŽผHouu ๐ŸŽผ


๐ŸŽผ ku relakan mu ๐ŸŽผ


Lagu : Mungkin hari ini, hari esok atau nanti


By : Anneth Delliecia


"Hiks.... Hiks... bagus banget Amanda!" kata Nera dan Vanora terharu.


"Ng? Vian? ada apa?" tanya Vandro melihat Vian tertunduk dan matanya tertutup Rambut.


"Ng.. Ngga, aku masih ada kerjaan kantor, mau kembali ke Wall dulu" kata Vian langsung turun tangga.


"Lho? Dro?" tanya Nera.


"Vandro!? dengerin lagu yang dinyanyikan Amanda juga? bagus kan?" tanya Vanora.


"Ya begitulah, tak ku sangka Amanda ada bakat nyanyi" kata Vandro tersenyum.


"Hehe, makasih" kata Amanda.


Sementara itu Vian...


Tin! Srrek! Klap! Pintu geser tembok di Wall Vian, disitu memang sengaja di buat Pintu rahasia yang di buat Andra agar bisa di gunakan oleh para anggota Rosement.


"Makna dari lagu tadi... apakah kau tidak ingin bertemu denganku? kau akan merelakan ku?" tanya Vian.