
Amanda dan Elena langsung menyerang tubi Ratri.
"Silent!"
CRING!
DUAK! Elena memukul Ratri hingga dia terpental ke besi pesawat.
"Ukh!"
BRUK! bahkan Vino juga kalah.
"No.. Nona Ratri" gumam Vino.
Ratri berjalan tertatih-tatih mendekati Elena dan Amanda.
"Ha.. ha... hebat" kata Ratri.
"Kau ini! mengakulah kalau kau kalah!" kata Vanora.
"Kalah? ha.. ha" kata Ratri yang memakai jubahnya.
"Mengakulah kalau Amanda lebih hebat darimu!" kata Rangga.
"Heh, kau yakin?" tanya Ratri sambil membunyikan jarinya.
CTK!
KRK! PRANG!!! Rantai yang berada di punggung Amanda langsung rusak dan pecah.
"Heh" gumam Vino.
"Ah!!! aku... tidak punya tenaga lagi! Dasar... " kata Amanda.
Ratri mendatangi mereka.
"Ki.. kita harus tetap bangun dan melawannya Amanda!" kata Elena.
"A... ayo!" kata Amanda dengan kuda-kuda tapi kondisi lemah.
"Tidak perlu.... aku hanya ingin melihat keahlian kalian apakah pantas untuk menyandang gelar sebagai ninja" kata Ratri.
"Ternyata yah? anak dari Lord Sixth memang tidak boleh di remehkan" kata Ratri lagi.
"Di.. Dia ini salah makan apa ya? sehabis di hajar baru sadar?" bisik Vanora.
"Aku juga ingin menawarkan Yumna untuk masuk ke gerakan pemberantasan sekte dan Organisasi sesat, sebagai Lady Seventh" kata Ratri.
"Apa!?" tanya Amanda.
"Kenapa dia ini? Tiba-tiba mengajak begitu saja!" kata Erlan.
"Woi! Nona hanya mengajak Yumna, bukan dirimu" kata Vino.
"Bukan Yumna saja, kau juga bisa bergabung ke gerakan pemberantasan kembali" kata Elena.
"Te.. Terimakasih Ratri!" kata Elena.
"Jadi... apa maksudmu itu Ratri?" tanya Amanda.
Beberapa Jam Kemudian...
Di halaman Rosement...
Pesawat Ratri sudah mengantarkan mereka pulang ke Rosement.
"Kalian baik-baik saja!?" tanya Nera.
"Ya"
"Vanora! seharusnya kau beritahu aku dulu!" kata Vandro.
"Maaf Bro" kata Vanora.
"Dasar, selalu saja menyusahkan" kata Vandro sambil mengelus kepala adiknya.
"Aku dengar, kalian habis di lawan sama orang jahat!?" tanya Rafa.
"Ah, Ga kok Rafa-Nii" kata Amanda.
"Syukurlah... " kata Toni yang baru datang dari hotel.
Rafa dan Toni saling menatap tajam.
"GRRR!!!"
"Ka.. Kak Rahmat, apakah ada hal yang terjadi selama kami tidak ada di apartemen?" tanya Amanda heran melihat tingkah Rafa dan Toni.
"Em... yah, saat Toni datang, Rosement langsung berubah menjadi arena pembantaian, syukurlah mereka di hentikan Pak Andi" kata Rahmat dengan wajah datarnya.
"Ah! syukurlah kau bisa diandalkan Van!" kata Nera.
"A.. Aduh Nera!"
Amanda mengarahkan kepalanya ke langit.
Flashback...
"Jadi bagaimana? kau mau mengikuti gerakan ini?" tanya Ratri.
"Aku, hanya gundah dan tidak yakin! aku masih remaja... tidak pantas menyandang gelar sebagai Shinobi legendaris" kata Amanda.
"Heh, begitu ya? meski begitu, aku akan tetap menjalankan misi ku untuk mengembalikan kekuatan astral ditangan sebenarnya, karena prinsipku... kekerasan adalah jalan yang terbaik!" kata Ratri.
"Caramu itu tidak baik!" kata Amanda.
"Hah!?"
"Dengan menimbulkan kekerasan pada orang yang kau tes, itu juga akan menumbuhkan rasa sakit hati dan kecewa! bahkan mungkin orang itu bisa saja menimbulkan rasa dendam dan akan membalaskannya padamu suatu saat nanti!" Seru Amanda.
"Hmf... kau memang mirip dengan Kaito-sama saat dia menjadi lord dulu" kata Ratri.
"Terserah kau menerimanya atau tidak, memang kenapa kau tidak mau?" tanya Ratri.
"Saat melihat diriku ini yang lemah dan gampang jatuh saat berhadapan denganmu... itu membuatku sadar, bahwa ada lagi shinobi yang lebih kuat dariku. Pemimpin artinya melindungi apa yang dia pimpin, sedangkan jika aku masih lemah... aku tidak pantas, bahkan datang kesini saja, setelah melihat banyaknya bintang di langit, ada lagi banyak hal yang ingin ku dalami dan ku pelajari" Jelas Amanda sambil menatap Andra.
"Jangan bilang, kalau kau ingin aku yang..." Andra menghentikan batinnya.
"Begitu ya... "
"Ya, aku ingin agar kak Andra sajalah yang menjadi Shinobi legendaris, aku sama sekali tidak pantas... karena aku baru mengenal semua rahasia yang ada,.. tapi aku harus membuat diriku yang mengetahui semua rahasia yang ada menjadi keberuntungan dan menghentikan malapetaka" Jelas Amanda.
"Begitu ya"
Flashback Off....
"Dimana Elena?" tanya Rahmat.
"I.. itu"
*****
"Bagaimana Elena? kau lebih memilih menetap di dunia atau di dimensi Astral?" tanya Ratri.
"Aku... "
*****
"Begitu ya"
"Jangan khawatir! aku tidak akan meninggalkan kalian!" kata Elena.
"Kak... Elena!" kata Amanda.
"Kenapa kau tidak ikut dengan Ratri?" tanya Vanora.
"Tenang saja... adikku itu tidak lemah! jadi dia mungkin ingin Elena disini bersama kita" kata Rangga.
"GRR.... " Tiba-tiba aura menjadi tidak enak.
"Ke.. Kenapa?" tanya Rangga menatap Vanora, Nera, Toni, Rafa, Erlan, Elena, dan Randi. Sedangkan Amanda, Andra, Vandro, Rahmat, Radith, Pak Andi hanya agak heran dan membiarkan tingkah mereka berlima.
"Adikmu!!!?" tanya mereka berenam.
"E.. Eh!? iya, kan Rambut kami sama bukan? lagipula huruf depan nama kami adalah R" ujar Rangga.
"Kenapa kau gak bilang dari awal Episode bonus chapter 5 bagian 4 hah!? kesini kau!!!" Seru mereka berenam lagi.
"W... wah!!! Maaf! maafkan aku!!! aku lupa!! Tolong aku Yumna!! Hikaru!!" Seru Rangga yang lari karena di kejar.
"Biarkan saja mereka" kata Andra menatap mereka sambil memegang bahu adiknya.
"Kakak bangga padamu"
Amanda menatap Andra, Andra hanya menatap Rangga yang dikejar mereka berlima sambil tersenyum dan menggenggam bahunya.
BLUSH!
"Terimakasih" pipi Amanda merona karena terharu dan senang sekaligus benar-benar bersyukur karena mempunyai kakak yang benar-benar mendukung dan sayang padanya.
Akhirnya Rangga berhasil di tangkap dan di keroyok berbarengan.
"A.. Aduh, maafkan aku teman-teman"
-Aku Amanda.... atau Aliana Jahzara Ameera, Fujiwara Yumna... aku adalah Terano semua Kara. Aku bercita-cita ingin menjadi pemimpin, dan aku ingin mewujudkan impian mendiang orang tuaku bersama kakakku-