The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 3 Chapter 94 : Terimakasih



"Er... "


"Hayo? alasan apa lagi?" tanya Amanda.


"Si.. siapa bilang mau nyari alasan!! enak aja!" ujar Putra.


"Kalau gitu, kalau kau bisa menebak ini... maka kau menang" ujar Amanda.


"Hah?! sekarang!?" tanya Putra.


"Iya, apakah kau keberatan?" tanya Amanda.


"Bu.. bukan begitu maksudku! sebenarnya! aku hanya belum terlalu mempersiapkannya!" Tolak Putra.


"Wah, kelihatan benar kau takut" ujar Amanda.


"Eh!? aku! aku ngga takut!" kata Putra.


"Sudahlah, ntar Benny bangun" kata Amanda.


"Dia ngga bakalan bangun"


"Ya baiklah, lho? ngga kerasa udah jam 15.00, aku pulang dulu ya" kata Amanda.


"Eh? cepat banget" kata Putra melihat Amanda melangkah akan menuju pintu.


"Kita yang kelamaan nonton"


..._____________...


"Mbak, makasih banyak lho oleh-oleh nya jadi ngerepotin, Dasar...." kata Amanda.


"Haha! ngga apa! buat Amanda apa sih yang gak?" tanya Mama Putra.


"Baiklah, makasih Putra, Mbak Cecil" kata Amanda.


"Sama-sama" kata Mama Putra.


"Mama, jangan kelewatan" kata Putra.


"Wadaw!!!! sakit mah! sakit!!!" Putra merintih kesakitan di cubit mamanya.


"Makanya yang kelewatan siapa?"


Di kamar No 10....


"Hah! capek! lumayan capek juga lanjutin S2 ini" kata Amanda sambil rebahan dan bermain Ponsel.


"Aku kaget banget kalau Alen ketemu Lisa, tapi.... bulan puasa gini mana ada demit, mungkin itu adalah ungkapan hatinya yang sudah lama ingin dia ungkapkan, yang pasti... aku tidak ingin menyebutnya hantu" gumam Amanda.


"Tenang di sana ya Lisa" ujar Amanda sambil menatap foto Lisa.


"Makasih banyak ya kak Sen, bukan... Amanda"


"Eh!? Aura ini!?" Amanda langsung berbalik ke belakang tapi tidak ada siapa-siapa, Silent Amanda langsung berubah menjadi hijau dan melihat partikel-partikel cahaya astral.


Amanda tersenyum.


"Sama-sama Lisa"


"Kalau ngga salah masih ada deh note nya" gumam Amanda.


"Aha! ketemu bukunya!" Ujar Amanda sambil membuka buku.


Ariel Sindari


08478622XXXX


"Halo... Assalamu'alaikum"


📞"Wa'alaikummussalam"


"Ini dengan Ariel Sindari ya?" tanya Amanda.


📞"Iya, ini dengan siapa?"


"Hihi... aku Amanda, masa lupa?"


"Iya, aku juga... tapi, aku juga pengen bilang sesuatu"


📞"Bilang apa? insya Allah bisa jawab"


Amanda akhirnya menceritakan semuanya yang di alami Alen, tidak terlewat satupun.


"Akhirnya aku menduga kalau memang itu realita" ujar Amanda.


📞"Aku mengerti Nda, tapi... Lisa udah ngga ada, aku juga sama denganmu, tidak bisa menganggap yang bertemu dengan adik tingkat mu itu hantu, karena memang benar katamu, kata-katanya terlalu berarti"


"Terus bagaimana? aku masih agak kurang yakin, jika Lisa sudah tiada, siapa yang waktu itu bertemu dengan Alen? mungkin itu adalah perwujudan hati Lisa, atau entahlah riel, yang pasti aku tidak mau memanggilnya hantu, karena kata-katanya terlalu berarti dan menyangkut diriku" Jelas Amanda.


📞"Begitu ya? kita berdoa saja semoga urusan Lisa segera selesai, akan semakin besar lagi masalahnya jika Lisa tidak tenang dan mulai mengganggu Alen, karena Alen akan semakin trauma"


"Aamiin, aku juga berharap begitu, agar Alen tidak kehilangan kesadaran karena tidak sanggup melepaskan Lisa nantinya"


Keesokan harinya...


Amanda akan menutup pintu kamarnya karena akan berangkat kuliah.


"Eh!? Aura dan partikel itu!" Mata Amanda langsung berubah menjadi Silent.


Amanda menggosok matanya dengan lengannya dan partikel yang dia lihat sudah menghilang.


"Lisa,... tolong tenanglah, aku bukan bermaksud mengusir mu, tapi dunia ini bukanlah lagi tempat mu berada, kita sudah berbeda dunia, tolong jangan ganggu siapapun, termasuk Alen. Jika kau ingin menyampaikan sesuatu sampaikan sekarang juga dan kembalilah ke tempat mu dan jangan kembali" Jelas Amanda.


"Ukh... Silent ku"


"Aku minta maaf Amanda, aku hanya bisa makhluk astral karena sudah bukan di dunia ini lagi... maaf, aku hanya masih kurang rela bisa pergi secepat ini" Ada suara bergaung yang Amanda dengan dengan Silent nya.


"Meski begitu, katakan sekarang juga"


"Tolong, aku tahu kau punya mata itu, mata khas itu bisa melihat makhluk astral, tapi itu pun saat ini aku berusaha menampakkan diriku saat Silent mu meretas Aura ku, tapi tenanglah, kau bukan anak indigo, makhluk astral jika ingin menampakkan dirinya dan agar Aura mereka di retas, perlu energi yang benar-benar besar, jadi aku tidak lama lagi akan pergi sepenuhnya, kumohon dengarkan aku"


"Baiklah, katakan"


.


.


.


.


.


"Begitulah"


"A... Apa maksudnya?!?!?" tanya Amanda.


"Aku tahu kau mungkin kaget, tapi inilah kenyataannya, tolong ya.. aku akan pergi sekarang, sebagai tanda perpisahan aku akan memadatkan raga astral ku agar kau bisa melihatnya meski dengan Silent"


Arwah Lisa melakukan hal yang dia katakan.


"Lisa?!"


"Aku bisa disini karena aku akan segera pergi, ada pertanyaan?" tanya Lisa.


"Em, apa ya?" tanya Amanda.


"Aku ingin mengatakan padamu, sebenarnya, aku ingin minta maaf, karena aku telah memberi mu beban sebanyak ini, menjadikanmu sebagai orang yang satu-satunya bisa membantuku selain Alen, maaf aku tidak dapat menjadi teman yang baik untukmu sampaikan ini pada teman-teman" Jelas Lisa yang tubuh nya mulai di selimuti cahaya.


"Eh? Em... tidak kok! aku tidak marah ataupun kesal meski kau pernah berbuat jahat padaku, tapi lihatlah?"


"Eh?"


"Kau mengisi diriku dengan rasa peduli seorang sahabat sebelum kau tiada, dan disini lah aku bisa sehebat ini karena bantuan teman-temanku dan Allah, dan disinilah! aku bisa hebat dan pintar! aku bangga bisa mempunyai sahabat seperti mu!!" Jelas Amanda, Lisa mengedipkan matanya yang air matanya mulai menetes sambil mendekati Amanda dengan tubuhnya yang perlahan-lahan berubah menjadi partikel cahaya.


"Alen.. apakah kau dengar? cinta dan kepedulian ku sebagai sahabatnya, dan kau yang selalu ada sebagai rekannya, telah sampai kepada kakak tingkat mu ini!"


Lisa memeluk Amanda.


"Terimakasih Amanda,... telah mengizinkan ku menjadi sahabat mu!!! dan terimakasih karena kau menjadi sahabat ku!!! terimakasih,.. terimakasih Amanda!!!" Partikel energi Astral Lisa menyatu dengan Amanda, diakhiri dengan menetesnya air mata Amanda yang telah ia tahan.


"Sama-sama Lisa"