The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
BONUS! CHAPTER 7 bagian 7



"Itu berarti... adanya asap hijau ini, artinya tidak usah bertarung dan ikuti terus formasi yang di tentukan" kata Amanda.


"Ya, itu benar Yumna" kata Elis.


"Lalu... kalian membunuh para makhluk astral dengan apa?" tanya Amanda.


"Di dimensi ini... kami bisa melihat makhluk astral jika mereka menampakkan diri, kami bisa membunuh mereka dengan pedang karena pedang dapat bereaksi pada makhluk halus. Kedua karena jurus, jurus dapat mengalahkan makhluk astral tergantung seberapa kuat makhluk itu. Ketiga... " Elizabeth memutuskan kata-katanya.


"Apa ketiga?" tanya Amanda.


"Kita menyerah saja" kata Elis.


"Jangan bercanda Elis, aku tahu kau sedang bercanda" kata Amanda.


"Maaf-maaf... ketiga adalah sinyal, tapi sinyal ini khusus, dan ini berwarna-.. " belum selesai Elizabeth bicara.


DOR! Bunyi tembakan lagi.


"Sinyal hitam! kapten! apa yang perlu kami lakukan!?" tanya Crish yang melihat sinyal hitam berada di area selatan.


Edward terdiam sambil mengendarai kudanya.


"Kapten! tolong beri perintah!" kata Elis.


"Kapten!! tolong jawab!!" kata Amanda dengan suara yang berbeda.


Edward tetap diam dengan wajah dingin tak bersahabat.


DUM! DUM! DUM! Satu Genderuwo berbentuk menyeramkan mendatangi mereka.


"Gawat!! Kapten! ada genderuwo yang mengejar kita!" kata Crish.


Edward diam saja.


"Eh!? pasukan militer berjumlah dua orang melawan genderuwo itu!" kata Elis.


"Apa!?" tanya Amanda.


Tapi sayangnya, dua pasukan itu kehilangan nyawanya karena tidak cukup kuat untuk melawan si makhluk astral kembaran gorila.


"Me.. mereka... kalah? Kapten!! tolong cepat berikan perintah mu!! kita tidak bisa menambah korban jiwa seperti ini!! Dasar... " Seru Amanda.


"Yumna-chan" gumam Elis.


"Berisik, tutup telinga kalian" kata Edward sambil mengarahkan pistol ke atas.


DOR!!! Amanda, Elis, Crish menutup telinga mereka, sedangkan Edward menutup telinganya dengan satu tangan. Sinyal berwarna abu-abu.


"Tetap maju, jangan berbalik ke belakang" kata Edward.


"Tapi Kapten! mereka sudah banyak yang terbunuh!! kita harus membantu mereka! bukankah harusnya saling membantu!?" tanya Amanda.


"Oi, jika kau sembarangan... maka resiko yang ada akan lebih besar dari yang kau pikirkan, jika ingin melakukan sesuatu, perhatikan resiko yang akan didapat lalu berpikir" kata Edward dengan dingin.


"Tapi, tidak mungkin kita diam saja!" kata Amanda.


"Kalau begitu, silahkan memilih" kata Edward.


"Eh!?" tanya Amanda.


"Kau harus memilih, jika tetap maju ke depan dan mengikuti kami.. maka kita bisa menyelamatkan dokter Randi, tapi jika memutuskan untuk membantu mereka, tak akan dapat di pungkiri apa yang akan terjadi pada Dokter Randi nanti" kata Edward.


"Aku... "


"Pilihlah, tapi ingat... jangan pernah menyesali pilihan apapun yang kau ambil" kata Edward lagi.


"Aku... "


"Lebih baik mengorbankan satu nyawa untuk menyelamatkan semua orang! daripada mengorbankan semua orang demi satu nyawa!" Amanda teringat kalau dia pernah berbicara begitu.


"Aku.... Aku.... Aku ingin tetap maju ke depan!!!" Seru Amanda.


Elis, Crish, maupun Edward terbelalak dengan keputusan Amanda.


"Aku... ingin mengutamakan misi ini... " kata Amanda.


"Begitu ya?" kata Edward.


"Karena... aku percaya dengan kalian"


"Hm, Yumna" gumam Elis.


"Kalau begitu, yakinlah dengan keputusanmu" kata Edward.


TRANG!!


"Me.. Mereka!?" batin Amanda sambil melihat kebelakang dengan sangat kaget saat melihat pasukan pengintai yang melawan si genderuwo.


"Kenapa... Yumna? HAH!?" tanya Elis.


"Kalian kenapa?" tanya Crish.


"Itu... mereka.... tewas"