
Andra sedang melamun sambilul berpikir.
Sebenarnya, Lan... si Andra ini tuh naksir sama kakakmu Elena. Andra mengingat ucapan Randi.
"Bagaimana Ini?! apa yang harus ku katakan pada Erlan?! jika mengetahui Elena telah tiada? mungkin dia akan membenciku" batin Andra.
"Aku harus melakukannya, sampai semua ini berakhir" gumam Andra.
Di kampus....
"Wah, jadi ntar habis kampus kamu mau langsung ke kantor ya?" tanya Nina.
"Ah! gitu deh" ujar Amanda.
Hari ini, aku akan ke kantor untuk memikirkan apakah akan lebih sebulan aku cuti, sekalian kerja lagi ngga apa.
Di Kantor...
"Amanda!!! aku rindu!" ujar Riri.
"Oh, iya kak" ujar Amanda.
"Kamu gimana kuliahnya?" tanya Riri.
"Alhamdulillah lancar kok kak" kata Amanda.
"Kamu sahur pakai apa?" tanya Riri.
"Eh? bubur ayam instan" ujar Amanda.
"Eh? kenapa?" tanya Riri.
"Eh? em... " Amanda memikirkan kejadian sahur tadi.
Flashback...
"Eh? kak Rahmat lagi ngga ada di Rosement? tumben" ujar Amanda melihat note catatan Rahmat.
-Aku lagi pergi seharian ya, maaf ngga bisa buat sahur, dan buka puasa juga untuk makan siang yang lain-
"Wah! aku yang masak berarti" gumam Amanda sedangkan Vian sedang ada di sampingnya, Randi tengah di rumah sakit, Pak Andi sedang bersama Andra.
Semalem ngga bisa ketemu kak Andra karena kecapean langsung tidur, tapi malah ketemunya di mimpi, dasar.....
Lalu tadi sahur, aku hanya memasak bubur ayam untuk kami berdua, rencana mau masak steak, tapi sayangnya dagingnya beku lama sekali! bisa-bisa sampai azan subuh!, bahkan bubur ayamnya yang instan, aku jadi ingat bagaimana Vian meminta makan.
"Lapaar! makan!"
"Duh! tunggu dulu! belum matang, aku masak baru 3 menit udah merintih aja, minum dulu teh sama Panekuknya!" ujar Amanda.
"Gimana cocok bubur ayamnya? aku tadi tambahkan ayam goreng yang ku potong kecil-kecil, daun bawang, dan Bawang goreng, dan juga kacang kedelai, juga telur setengah matang sebagai varian" kata Amanda.
"Aku sih belum pernah rasa bubur ayam instan! apalagi yang di tambahi masakan sebenarnya, kenapa tidak dibuat aja bubur ayamnya sekalian?" tanya Vian.
"Gak enak ya? aku sih suka, terkadang kalau waktu mepet aku bikin ini" ujar Amanda.
"Hmm.... Gak enak!!" ujar Vian.
"Haaah... Ya udah, sini kasih ke aku aja" ujar Amanda.
"Huh!" Amanda langsung berwajah masam.
Toel! Toel! Vian menyentuh pipi Amanda dengan telunjuknya.
"Bercanda, Bercanda! jangan marah lah, aku cuma bercanda, memang bukan masakan rumahan, tapi enak kok kayak biasanya" ujar Vian sambil tersenyum.
"Ah, ja.. jangan ge-er ya!" ujar Vian salting.
"Kenapa? bubur ayamku enak kan?" tanya Amanda berwajah suram.
"Btw, kau ini sudah ku kasih tahu bukan mahrom ya bukan mahrom! bandel banget ya!" ujar Amanda.
"Lupa!!"
"Ukh... sudah terlalu lama begini, aku lupa aktingku tidak boleh baik dan harus judes padanya" batin Vian.
"Ya ya... bubur ayamku enak, aku mungkin akan membuatkannya untuk kak Andra, mungkin akan enak juga, lagipula Kak Andra tidak akan bisa tertipu oleh Silent ku meski berbohong" batin Amanda.
"Kak Rafa ngga ada di Apartemen kah? kok ngga keluar dari kamar? aku ngetuk tadi ngga ada orang" batin Amanda.
"Oh... dan Pak Vandro katanya ngga pulang ya tadi malam" batin Amanda lagi.
Tadi saat aku ke kampus di jemput Vian, di mobil menuju kantor Vian bilang sih...
"Oh, ternyata Rahmat nyusul Vandro tadi malam, kemaren Vandro ngga pulang ke Apartemen ternyata" ujar Vian memeriksa Ponselnya.
"Kenapa?" tanya Amanda.
"Nanti aku tanya pas ketemu" jawab Vian.
Tadi saat aku masuk kantor, Pak Vandro juga ada di kantor kok, jadi gak ada apa-apa ya?
"Balik kerja~ nanti juga tahu dari Vian kalau ada apa-apa" batin Amanda.
Malam harinya....
Tadi aku buka puasa di kantin kantor.
"Kak Rahmat udah pulang belum ya? kalau belum ntar aku hubungi siapa nanti di Rosement biar daging di kulkas di keluarkan agar nanti tidak beku saat di masak" batin Amanda.
KRING! KRING!
"Ng? Vian?" batin Amanda melihat panggilan di Ponselnya.
"Halo Vian? ya ini aku mau ke tempat jemput kok, tinggal naik lift" ujar Amanda berbicara di Ponsel.
📞"Gak usah dulu, kau masih di gedung kan?"
"Eh? iya... "
📞"Rahmat bilang Vandro belum pulang, gak diangkat juga Ponselnya, coba cek... mungkin masih di kantornya"
"Oh ok" kata Amanda dan mengakhiri pembicaraan mereka di telepon.
Amanda pergi ke tempat ruangan Vandro.
"Di Sini kan?" batin Amanda menatap pintu ruangan dengan memakai jaket dan tudung.
"Pak Vandro masih ada di dalam gak ya? lampunya masih nyala, padahal udah sepi, apa lagi lembur? atau ketiduran? atau sedang di WC kah?" batin Amanda.
"Bisa di buka gak ya? oh gak di kunci!" batin Amanda saat membuka pintu.
Kreek!.
"Permisi, Pak-... " tapi sebuah pemandangan menghentikan gerakan dan ucapannya.
"HAH?!!" Amanda kaget melihat Vandro terkapar di lantai.