
Malam harinya jam 19.30....
Malam hari setelah makan malam di Rosement, aku... dan mereka bertiga, maksudku... dengan Vian juga di balik tembok melihat Kak Rahmat, Kak Vanora, dan Pak Vandro.
"Ng? Vian, ngapain di sini?" tanya Amanda.
"Kau sendiri gimana? aku cuman mau lihat karena penasaran dengan mereka bertiga" kata Vian.
"Oh, kalau aku sih cuman pengen lihat aja" kata Amanda.
"Ta-da!" kata Vanora.
"Apa ini?" tanya Vandro melihat banyak makanan di meja makan.
"Ini buat kamu! hari ini aku dan Rahmat buat banyak makanan buat kamu Dro!" kata Vanora dengan bangga.
"Van, lampunya ku terangi ya" kata Rahmat menerangi lampu teras dapur luar dan dapur terlihat seperti pagi hari.
"Oh, serasa pagi hari, tapi ada apa manggil aku? dan apa dengan semua makanan ini?" tanya Vandro.
"Kudengar dari pagi kau belum makan bukan Vandro? Semalam juga kau sempat berantem ya? sama sepupu Andra? aku masakkin banyak lho?" kata Vanora.
"Kamu, jangan banyakan kayak gitu Van, ntar capek" kata Vandro tanpa menatap.
"Ngga apa-apa, ayo! makan dulu! ayo!" kata Vanora menuntun Vandro ke kursi.
Pats! Vandro melepaskan tangannya dari Vanora.
"Bisa ngga sih!? ngga usah ngurus aku kayak gini!? Pertengkaran ku dengan sepupu Andra itu urusanku dengannya!! kau ngga usah ikut campur!!" kata Vandro dengan kesal.
"W... wah! Pak Vandro, beliau badmood?" tanya Amanda dengan pelan, sedangkan Vian hanya dengan wajah khawatir.
"Dro! jangan marahi Vanora! dia ngga salah! aku yang memberi ide ini!" kata Rahmat.
"Mat sudah, Vandro kita kan saudara kembar bukan? berbagi kasih sayang bersama, sebagai sepasang adik kakak" kata Vanora dengan senyum.
"Simpan saja, aku ngga lapar!!" kata Vandro dengan wajah kesal yang berjalan menuju balik tembok tempat Amanda dan Vian berada.
"Ga... gawat! Pak Vandro kesini!" kata Amanda pelan Vian hanya merangkak seperti bayi besar menghindari tempat.
"Hei! cepet sana! redain ayo!" kata Vian.
"Ngga! kenapa ngga kamu aja!?" bisik Amanda.
"Sudah sana!" kata Vian mendorong Amanda.
"Kalau gitu bareng!" kata Amanda tapi terlambat karena Amanda sudah terdorong dan....
Tap!
"gawat! aku jatuh? lho!? ngga jatuh!? " pikir Amanda, rupanya Vandro sempat menangkapnya yang hampir jatuh.
"A... Aku hanya ingin ambil minum kok Pak!!" kata Amanda.
"Oh, ya silahkan, kenapa kamu teriak? saya permisi ya" kata Vandro yang lanjut berjalan.
Gyut! Amanda menarik sedikit ujung Jaket Vandro.
"Ng... Pak Vandro! aku dengar kalau Bapak belum makan dari pagi kan? ma... mau makan bareng ngga Pak? A.... Aku kebetulan lapar lagi, mau makan lagi! aku mau mengajak Bapak karena pengen ada temen ngobrol aja kok, tapi jika Pak Vandro tidak mau aku juga tidak memaksa" kata Amanda, Vandro hanya melihatnya dengan tatapan iba.
"A... apa-apaan aku ini!? aku sudah lancang! mana ngga enak udah kayak gini!? duh! pasti ditolak! " batin Amanda.
Vandro hanya menurunkan tangan Amanda dari genggaman jaketnya.
"Eh!? berhasil toh!? " pikir Amanda.
"Amanda katanya mau makan lagi, boleh kan?" tanya Vandro.
"Boleh dong! sini Amanda! mau makan apa ku ambilin" kata Vanora.
"Oh ya! tadi ada Vian juga Pak! dia juga lapar bahkan sampai sakit perut Pak! dia juga boleh makan bareng kan Pak?" tanya Amanda.
"Aku ngga mau sendirian!" batin Amanda.
"Bo... boleh kok wah, kalian sudah akrab ya?" tanya Vandro.
"Dih! pengadu!" bisik Vian.
"Vian parah banget, laper sampai perutnya sakit" kata Vanora.
Akhirnya mereka makan bersama...
Amanda menatap Vandro dan Vanora.
"Gimana Dro? pedes nya mantap kan?" tanya Vanora.
"Ya lumayan" kata Vandro sambil mengecap rasa dari bumbu masakan Vanora.
"Wah, gini ya rasanya punya saudara kembar? kalau aku dan kakak nanti gimana ya? " tanya Amanda dengan berbinar-binar.
"Sst! jangan berisik! ngomong-ngomong, segampang itukah mereka baikan? mereka hanya kompak menyembunyikan" bisik Vian.
"A... apa!?" tanya Amanda.
"Simpan saja, aku ngga lapar!! " Amanda masih kepikiran soal omongan Pak Vandro.
"Ng... Pak Vandro, katanya lagi... Em... Badmood? apakah sekarang masih badmood kah?" tanya Amanda.
"Pft,... Apakah saya terlihat sedang badmood?" tanya Vandro.
"Aha, tidak Pak" kata Amanda.
Hm... mungkin nanti saja.
Di tempat Andra....
"Ng!"
.
.
.
"Andra... lari, bawa Ana ya, ja... jangan berhenti, kamu dan Ana harus selamat "
.
.
.
.
"Ah!" Andra sempat tersadar dari lamunannya.
"Oh, sampai mana tadi kita? oh ya, saya ingin menanyakan anda sekali lagi, tentang kejadian yang ada mengambil adik saya pada 18 tahun yang lalu, dimulai dari hari itu" kata Andra.