The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Bonus! Chapter 38 : Persiapan



Amanda sedang berada di kamar Rosement...


"Sudah 2 minggu, saat acara di TV,.. kak Andra mengungkap identitas ku sebagai anggota keluarga kerajaan, cukup banyak sekali yang terkejut melihat ku tampil di TV, dimulai dari Nina, Zaki, Putra, Alen, Dennis, dan yang lainnya... aku dan Erlan bahkan sudah berdiskusi dan mengatakan semuanya saat aku memberikan pukulan hingga membuatnya tumbang" batin Amanda.


Flashback...


"Jadi begitu.. kau juga berkaitan dengan Organisasi itu?" tanya Erlan.


"Ya, maaf ya... tapi kira bahkan sama-sama tidak ada yang tahu kalau kita berkaitan dengan Organisasi itu kan? hihi, lucu juga kita bahkan menyuruh Professor Hirata merahasiakannya dari satu sama lain di antara kita" kata Amanda.


"Ya, begitulah.. aku juga minta maaf karena sebelumnya tidak jujur padamu" kata Erlan.


"Aku juga minta maaf, oh ya! aku tadi di berikan pil ini dari Professor" kata Amanda


"Eh?! jangan-jangan... !"


"Ya! penawar Optik 294,1!" kata Amanda.


Begitu mereka meminumnya wajah mereka kembali semula.


"Syukurlah!"


"Oh ya Amanda, bagaimana reaksi Nina dan Zaki saat tahu itu?" tanya Erlan.


"Begitulah, saat konferensi pers yang di adakan di aula istana, aku menjawab seperlunya, tentang penculikan aku sedang berada dimana aku jawab saja dengan jujur kalau aku dirawat dengan kasih sayang oleh orang-orang terdekat yang sekarang telah tiada, begitu jawabku" kata Amanda.


"Oh,.. "


"Lalu, bagaimana dengan mu? bukankah saat beberapa hari yang lalu kau pulang ke Verheaven kau juga terkena konferensi pers kan?" tanya Amanda.


"Ya, dan aku menyuruh Paman untuk menjawab nya! para wartawan itu kepo-nya selangit! ya udah aku akhirnya kabur dengan menggunakan bom ninja" kata Erlan.


"Kau ini! Oh ya, seharusnya sekitar 6-7 bulan lagi akademi pelatihan ninja akan dibuka! untuk di Verheaven juga Carna, aku juga sudah menebar beberapa siklus penjagaan agar tidak ada kejadian yang terlalu parah lagi" kata Amanda.


"Dan juga, aku jadi teringat reaksi kak Nera yang memarahi kita habis-habisan saat mengetahui kita salah satu anggota bangsawan, Kak Vanora hanya terpukau, Kak Rahmat reaksi biasa saja, sedangkan Rafa-niichan bilangnya sambil guncangin kak Andra... "


"Kan bener! ini Ana! adik sepupuku!!"


"Kurasa kau bisa membayangkannya sendiri" kata Amanda.


"Aku mengerti betapa heboh dan menyebalkannya dia" kata Erlan.


"Oh ya, kau sudah memberikan hadiah untuk Zaki dan Putra karena mereka membantumu selama ini?" tanya Amanda.


"Tentu saja, saat mendiskusikannya dengan Andra.. aku sudah memutuskan kalau Putra dan Zaki nanti akan menjadi pemimpin masing-masing dari 5 kota besar di Carna" kata Erlan.


"Eh?"


"Ya, agar ngga kejauhan, Zaki akan memimpin kota Yoshino, Putra akan memimpin Eslaqar nanti,.. untuk Nina? apakah kau memberikan sesuatu?" tanya Erlan.


"Aku, tentu saja! aku akan berusaha membantunya untuk PDKT ama Zaki, tahu gak? kalau si Zaki itu-... " belum selesai Amanda bicara.


"Keceplosan dan malah ungkapin isi hatinya ama Nina kan?" tanya Erlan.


"Eh?! kok bisa tahu sih?! dan, tahu gak? kalau Nina dan Zaki itu-.. " belum selesai Amanda bicara lagi.


"Nina dan Zaki, selama ini berlatih belajar pedang dan silat kan? lalu! kamu juga pasti bakalan bilang, mereka bakalan cocok buat jaga kota Yoshino nanti, lagipula... mereka juga kuat meski bukan Shinobi, begitu kan yang ingin kamu katakan?" tanya Erlan.


BLETAK! Amanda menjitak Erlan.


"Kelupaan!! aku lupa untuk bilang : 'Tidak baik memotong pembicaraan orang saat sedang bicara' benarkan???" tanya Amanda menahan emosi.


"I.. iya, maaf mak ayam!" kata Erlan.


Flashback Off....


Amanda hanya senyum-senyum sendiri mengingat itu.


Aku jadi teringat saat kami mengalahkan Pascal, syukurlah semuanya sudah berjalan lurus kembali, sekarang aku tengah mempersiapkan acara pernikahanku.


Di Rumah Zaki...


"Aku bahkan kaget tahu-tahu ternyata Amanda itu seorang Putri! ya gak? Zaki? Putra?" tanya Nina.


"Em... aku sih emang kagak terlalu kaget" kata Putra.


"Aku gak kaget sama sekali" kata Zaki.


"Kenapa?" tanya Nina.


"Kita emang udah di Amanah sama Erlan, buat bantu dia selesaikan masalah, apakah kau ngga nonton? konferensi pers-nya saat di Verheaven?" tanya Zaki.


"Nonton sih! tapi dia malah kabur pakai bom ninja pula!" kata Nina.


"Ya udah, daripada banyak omong, kita lebih baik bantu mereka nyiapin resepsi pernikahan mereka saja! kita cari hadiah buat mereka! dan ini rahasia ya! ayo!" kata Ariel.


"Baiklah.. "


Di Rosement....


Semua anggota Rosement sibuk mencari hadiah pernikahan untuk Amanda dan Erlan.


"Sementara ini rahasia lho!" kata Nera.


"Boleh sih, tapi aku harus ke kantor buat desain baju Amanda" kata Vanora.


"Kalau gitu urusan hadiah kasih ke kita aja" kata Toni yang bersama Rahmat, Vandro, dan Rafa yang sedang fokus bermain game.


"Beneran? ntar malah amburadul!" kata Vanora.


"Meski kami ini laki, jangan ngeremehin dong! kita pasti milih hadiah yang bagus!" kata Randi yang tiba-tiba disitu.


"Baiklah... jika ngga bagus dapat bogeman dariku ya" kata Nera.


*Glek!*


"Ba.. Baik"


Amanda menemui mereka.


"Hai, ada apa?" tanya Amanda.


"Eh?! Amanda?!" tanya mereka kaget.


"Ke.. kenapa? kayak lihat setan" kata Amanda.


"Ngga, ya udah.. kami pergi ya Ra, Van" kata Rafa.


"Ada apa ke.. sini Amanda?" tanya Nera gugup.


"Oh ya, gini kak.. aku mau nanya untuk gedung aula-nya ada perlu yang ku urus gak?" tanya Amanda.


"Amanda... acara pernikahanmu di istana! ngga usah kuatir! nanti kakak-kakak cewek mu ini yang urus! kan Van?" tanya Nera.


"Ah, iya"


"Beneran? jadi ngga enak kalau ngasih ke kak Nera dan kak Vanora" kata Amanda.


"Ngga usah gitu, ukuran buat baju nya nanti udah bener kan?" tanya Vanora.


"Bener kok kak, mau di coba lagi?" tanya Amanda.


"Ngga deh, ya udah kita pergi dulu! bye" kata Nera sambil menarik Vanora.


"O-Oh? bye"


"Ini... perasaan ku saja atau memang semuanya sedang menghindari ku dan Erlan?" batin Amanda.


Saat Amanda sedang berdiam diri.


TING! Lift kapsul berhenti.


"Ng? kak Andra?" tanya Amanda.


"Kenapa nih? calon pengantin kok diem merenung? ada apa?" tanya Andra.


"Kak... apakah ngga apa? jika aku menikah saat begini?" tanya Amanda.


"Emang kenapa?" tanya Andra.


"Aku... hanya masih agak bimbang saja, apakah ini terlalu cepat? aku masih ingin menghabiskan waktu dengan kak Andra" kata Amanda.


"Ini? namanya juga menghabiskan waktu kan?" tanya Andra.


"Iya sih, bener... tapi hanya saja kan nanti kak Andra pasti akan kesepian kan?" tanya Amanda.


"Sudah pasti begitu" kata Andra.


"Aku, hanya tidak ingin kak Andra kesepian nanti... aku belum banyak menghabiskan waktu dan membalas jasa kak Andra" kata Amanda.


"Tidak apa, justru itulah yang terpenting buatmu, kebahagiaan mu adalah yang terpenting, aku yakin Mama dan Papa juga sependapat" kata Andra.


"Begitu ya... kak, btw.. kenapa aku ngerasa kayak mereka menghindari ku ya?" tanya Amanda lagi.


"E.. Eh?" Andra teringat sebuah kejadian.


Flashback...


"Ndra! kita ada rencana buat beliin kado hadiah pernikahan Amanda! jangan kasih tahu dia ataupun Vian kau ngerti? jika kau ngerti baguslah, karena kau tidak akan terkena bogeman dariku nanti" kata Nera.


Flashback Off...


"Mungkin hanya perasaanmu saja" kata Andra.


"Mung... kin?"


Di Mall Helvetia...


"Duh! mana ya? hadiah yang bagus?" tanya Randi.


"Ah! Sepertinya yang ini!" kata Randi dan Zaki yang disitu bersamaan.


"Eh?"


"Kamu... teman Amanda kan? anak konglomerat Al Farisi itu" kata Randi.


"Eh? Anda.. adalah dokter yang se-apartemen dengan Amanda, anak konglomerat Pramudya itu" kata Zaki.


"Salam kenal ya, saya teman Amanda... ingin membeli hadiah Pernikahan untuknya" kata Zaki.


"Saya juga kesini untuk tujuan yang sama" kata Randi.


"Randi! ada apa? kenapa lama sekali?" tanya Vandro.


"Hei! Zaki! lama amat! aku udah terlanjur kelaparan nih!" kata Nina.


"Eh?"


"Ah! kau si tengil yang pernah ngebuat Amanda nangis!" kata Nina.


"Eh?!"


"Su.. sudah yuk! Ran, kita carinya di tempat lain aja ya? ayok!" kata Vandro sambil menarik Randi.


Sedangkan Nina dan Zaki tengah terbengong sambil mencari hadiah lainnya.


Di Rumah Amanda...


Amanda tengah berjalan dengan sedih sambil memakai tudung, dia berencana akan pergi ke bukit kecil dimana dia dan Erlan dulu pernah terborgol bersama.


( Baca Novel Author : The Story Of Amanda's student day )


Amanda duduk sambil memeluk syal yang pernah Afifah jahitkan sepasang untuk Andra dan untuknya.


"Ng? Miko? sedang apa disini?" tanya Hirata.


"Ng? Professor" kata Amanda yang menatap Hirata dengan berlinang air mata.


"Eh?! kenapa kau menangis!? apakah karena Ethan-kun yang membuatmu menangis!!? sini! ku marahi dia!" kata Hirata.


"Eh? maksudnya...?"


"Kalau dia macam-macam awas saja! percuma saja dia ku ajari lama tentang tata krama tapi masih aja kayak gitu!" kata Hirata dengan geram tapi lucu.


"Pfft... hahaha! Hirata-sensei... kau sangat lucu! Dasar... tapi aku menangis karena berpikir ini terlalu cepat, tapi melihat Professor yang begitu aku jadi merasa baikan! haha! terimakasih" kata Amanda.


"Eh! tidak perlu begitu! kau pantas bahagia dengan caramu sendiri.. aku sudah menganggapmu sebagai cucuku sendiri! jadi tidak perlu bersikap berubah dan bersikaplah kita sebagai keluarga!" kata Hirata.


"Eh? hihi, ya!"


"Kalau begitu pulang lah, ini sudah hampir malam"