The Unifying Butterfly

The Unifying Butterfly
Season 2 Chapter 43 : Interogasi



Hai... namaku Radith, alias Bodyguard tuan Andra.


Apakah kalian penasaran? kenapa aku memanggil beliau Tuan? bukan Raja? atau Yang mulia seperti layaknya bangsawan kerajaan?.


Karena Tuan sendiri yang memintanya agar lebih akrab dan tidak terlalu kaku.


Malam ini, adalah menginterogasi wanita yang berhubungan dengan penculikan Tuan dan adiknya 18 tahun yang lalu.


Tuan memang sudah lama menginterogasinya tapi mengingat dirinya yang sudah naik tahta serta dirinya yang ada tugas sebagai pemimpin perusahaan yang tidak bisa di tinggalkan.


Tuan hanya ingin menyembuhkan Psikisnya dengan menenangkan dirinya melihat semua bukti.


"Ok... kita mulai dari sini, anda sebaiknya jangan membuang waktu saya" kata Andra.


"Dimulai dari malam dimana saya jatuh dari jembatan itu.... "


...____________...


"Huuu....! Ka Andaaa"


"Ng... Hah!? apakah aku sudah mati!? benarkah!? tidak! aku masih mendengar suara tangisan Ana! aku masih bersyukur tidak jatuh di sungai itu! jangan nangis ya Ana, kamu ngga sendiri, kakak disini" batin Andra yang perlahan membuka matanya.


Aku... jatuh! belum.. mati! tapi... tubuhku sama sekali tidak bisa bergerak!!


"Ng!? ada yang datang!?" batin Andra.


"Huu!!! Ka Andaaa!! Anguuun!!" kata Ana.


"Sssh!! sudah jangan nangis! anak cantik! yuk! ikut ibu!" kata wanita yang membawa Ana pergi.


"Huuu!! Huaaaa!!!" Ana berteriak tapi mulutnya di cengkeram dengan kuat yang menyebabkan ia tidak bisa menangis.


"A... Ana!!! Apa yang kau lakukan kepadanya!?" batin Andra yang perlahan-lahan menggerakkan tubuhnya mendekati Wanita itu.


"Ayo pergi" kata Wanita itu membawa Ana.


Grep! Andra menggenggam kaki wanita yang membawa Ana.


"A... dikku! mau kau bawa kemana!? to.. tolong aku!! kem.. kembalikan! Adikku!!!" kata Andra.


Wanita itu menatap Andra.


"Ngga ah!" kata Wanita itu dan langsung pergi.


"Tu... Tunggu! Ke.. kembalikan... A... dik... ku.. Ah" Andra akhirnya pingsan.


...__________...


"Saat itu perasaan yang muncul di benak pikiran saya kepada anda, adalah Benci, anda adalah wanita yang saya Benci, membawa adikku pergi" kata Andra.


.


.


.


.


.


Di Ruang tamu...


"Maaf, saya bahkan tidak tahu akan dikunjungi keluarga kerajaan ke rumah kami, tapi kakak saya itu memiliki penyakit kejiwaan, saya dan mendiang ibu saya sudah meletakkan Putri itu di panti asuhan, jika tahu dia masih hidup, kurasa itu tidak apa-apa kan?" tanya seorang ibu yang saudara wanita yang diinterogasi Andra.


Brak! Radith memukul meja.


"Kami tidak bisa membiarkan satu bukti saja terlewat" kata Radith.


Tiba-tiba...


"TIDAK! LEPASKAN!" teriak wanita itu.


Drap! Drap! Radith berlari mendekati ruang tengah.


"Tuan!? ada apa!?" tanya Radith.


"Tidak! apa-apa! jangan masuk!" kata Andra yang rupanya tengah bertengkar dengan wanita itu.


Ya, bertengkar karena Andra merusak boneka milik Wanita itu dengan merobek Rambut bonekanya.


"Aku... mengambil rambut ini, warna merah muda, mirip dengan warna rambut.... "


"Saya harap Anda tidak menyakiti kakak saya lagi!" kata Adik wanita itu.


"Mohon maaf, kami akan pulang, dan besok malam saya akan kembali lagi" kata Andra dan Radith juga pergi.


"Tuan, anda tidak apa-apa kan?" tanya Radith.


"Ya, kita akan ke laboratorium dulu" kata Andra.


"Tentu Tuan" kata Radith mempersilahkan Andra naik mobil.


"Tuan... tolong berhentilah"